Ngaji Hikam : Hikmah Ke-3 & Ke-4

Syekh Ibnu Athaillah pada hikmah ke-3 berkata :

سَوَابِقُ الهِمَمِ لَا تَخْرِقُ أَسْوَارَ الأَقْدَارِ
 
Artinya: "Semangat atau kemauan jiwa yang kuat dan keras tidak akan menembus tirai taqdir".

Syekh Ibnu Athaillah al-Syakandari di dalam Al-Hikam pada hikmah Ke-3 menerangkan hal-hal khusus untuk orang Arif dan bagi Murid yang telah mencapai derajat yang tinggi. Sedangkan pada Hikmah Ke-4 Beliau menjelaskan hikmah yang diperuntukkan khusus bagi Murid. Mengapa dua hikmah ini diterangkan sekaligus?. Karena kedua hikmah ini saling berkaitan. Salik yang menuju Allah tingkatannya ada 3 yaitu (1) Abid, (2) Murid, dan (3) Arif. 

Yang membedakan antara ketiganya adalah adalah : (1) Abid adalah orang yang ibadahnya dengan tujuan mencari pahala agar bisa masuk surga dan selamat dari neraka. 2) Murid adalah orang yang dalam beribadah hanya ingin taqarub, dekat, dan makrifat kepada Allah SWT. Sementara (3) Arif adalah orang yang sudah diberi Makrifat. 


Dalam hikmah di atas kita dapati kata سَوَابِقُ الهِمَمِ yang artinya adalah semangat atau kemauan jiwa yang kuat. Bisa juga dimaknai keinginan yang menggebu-gebu. Akhir dari keinginan yang kuat dan semangat yang menggebu-gebu tersebut, adalah bisa mewujudkan sesuatu. Atau tercapainya tujuan. Dalam kitab Iqadul Himam dikatakan : 

 
أَيْ إِذَا اهْتَمَّ العَارِفُ أَوِ المُرِيْدُ بِشَيْئٍ وَقَوِيَتْ هِمَّتُهُ بِذَلِكَ فَإِنَّ اللهَ يُكَوِّنُ ذَلِكَ بِقُدْرَتِهِ فِى سَاعَةٍ وَاحِدَةٍ حَتَّى يَكُوْنَ أَمْرُهُ بِأَمْرِ اللهِ
 
Artinya: "Ketika seorang ‘ârif atau murîd menginginkan terwujudnya sesuatu, dan kemauannya telah kuat, maka Allah akan mewujudkan sesuatu itu seketika dengan qudrat-Nya, sehingga perintah orang ‘ârif tersebut adalah Perintah Allah". 
 
Kemauan yang kuat contohnya adalah sekarang di daerah Lumajang ada banjir yang bercampur dengan lahar dingin serta menyebabkan jembatan gantung di sana putus. Kejadian ini direkam kamera dan menjadi peristiwa viral. Jika Anda telah menjadi seorang Arif. Kemudian Anda memiliki himah atau kemauan yang kuat untuk datang ke Lumajang guna menghentikan banjir tersebut. Anda tinggal berdiri di sebelah kali dan berkata, "Kali surutlah Kamu!". Maka kali tersebut akan surut seketika.
 
Inilah yang dinamakan dengan semangat jiwa yang kuat. Hal itu apabila yang melalukan adalah orang Arif maka akan seketika dikabulkan Allah dengan surutnya air kali tersebut. سَوَابِقُ الهِمَمِ atau keinginan yang kuat dari seorang Arif maka Allah akan mewujudkan sesuatu itu seketika dengan qudrat-Nya. Contoh lain ada orang yang dizolimi, atau apabila ada seroang yang sedang dibully. Ketika ada orang yang tidak bersalah, tiba-tiba dipukuli. Kemudian yang dipukuli ini dengan Himah yang kuat dan semangat jiwa yang keras, lalu berkata kepada yang membuli, "Butalah Matamu!!". Maka si pembully-nya menjadi buta. Yang demikian juga dinamakan "Himmah al-Sabiqah". Karena "Doaul Madzlum, Mustajab". Yaitu doanya orang yang dizolimi mustajab/ dikabulkan.
 
Sayidina Umar ketika menjadi Khalifah pernah mendapat laporan dari Gubernur Mesir bahwa Sungai Nil selalu memakan korban karena setiap tahun selalu meluap dan memberi madharat untuk masyarakat. Sebelum datangnya Islam di Mesir selalu membuat tumbal yaitu gadis suci yang dibunuh di sungai Nil untuk menghentikan mengamuknya sungai Nil. Begitu Mesir dikuasai Islam. Akhirnya sang gubernur lapor kepada sang kholifah tentang Sungai Nil yang setiap tahun memakan korban. Sayidina Umar kemudian menulis surat di atas kertas, "Hai Sungai Nil berhentilah, jangan banjir". Kertas dari Sayidina Umar di masukan ke sungai Nil dan seketika Sungai itu surut. Inilah contoh Sawabqul Himam.
 
Ada seorang Raja pada zaman Sayidina Umar yang mengeluh sakit kepala tidak bisa waras-waras. Dia mengadukan sakitnya kepada Sayidina Umar. Oleh Sayidina Umar Mahkotanya dicopot dan diberi tulisan. Ketika mahkota dipakai, seketika sakit kepala raja itu sembuh. Ini juga merupakan contoh dari Sawabiqul Himam atau Himah Al-Sabiqah. Himah dibagi menjadi tiga macam yaitu :
 
1. Himmah Qâshirah : yaitu semangat/ kemauan jiwa seseorang yang tidak kuat/keras (semangat jiwa lemah). Siapa yang memiliki Himah Qashirah ini?. Manusia pada umumnya atau golongan Abid dan Awam. Jika tidak percaya kalau Himah kita adalah Himah Qashirah, maka silakan nanti dicoba sepulang ngaji. Ketika perutnya lapar dan mau makan. Silakan ambil piring dan berkata, "Makanan keluarlah". Pasti makanannya tidak akan keluar. Karena Himah kita masih Himah Qashirah. 
 
Dulu kita sering mendengar orang mengatakan "Awas disabdo". Sabdo itu memang ada. Tapi bukan orang yang ber-himah qashirah yang memiliki. Jangan sampai kita yang Abid dan awam karena tidak menemui itu kemudian tidak percaya dan menganggap sabdo itu mustahil. Karena Alquran dan hadist Nabi menyinggung hal tersebut. Jangan tidak percaya dengan hal demikian hanya karena zaman telah modern. Karena walupun zaman modern Iman kita tidak boleh berubah. Ketidakpercayaan yang demikian itu biasanya disebabkan karena pengaruh zaman modern sehingga yang diunggulkan adalah ilmu pengetahuan dan alam pikiran sendiri. Akhirnya hal-hal yang sifatnya keimanan terkikis. Sampai-sampai apabila ada cerita seorang yang bisa "Nyabdo" kemudian tidak dipercayai. 
 
2. Himmah Mutawassithoh : yaitu kemauan jiwa seseorang yang kuat dan terkadang berakibat terwujudnya sesuatu dan terkadang tidak terwujud (semangat yang sedang). Contoh para kiai yang oleh Masyarakat telah dianggap sebagai ahli ibadah. Hidupnya telah dipenuhi dengan amal. Mereka biasanya dipercaya suwuk dan doanya mustajabah. Sehingga ketika ada keluhan hidup mintalah suwuk kepada kiai. Para Kiai kemudian menuruti dengan Himah Sabiqah dan berdoa. Kadang-kadang Himah sabiqah-nya Maqbul. Kadang-kadang juga tidak maqbul. Ini karena Himahnya adalah Mutawasithah.
 
Dulu ketika awal-awal mendampingi santri. Saya masih perjaka. Ketika diminta suwuk. Saya tidak pernah mau. Saya menyuruh tamu-tamu itu minta ke Abah. Saat itu karena saya menganggap Himah saya adalah Himah Qashirah. Satu ketika saat sowan Kiai Djalil tiba-tiba beliau dawuh, "Gus kalau ada santri minta disuwuk dan didoakan, tidak usah dilempar-lempar karena yang menentukan manjur tidaknya adalah Allah bukan suwuk kita". 
 
Setelah itu tekad-tekadan ketika ada yang minta suwuk. Terkadang berhasil. Tahu kalau berhasil karena ada feedback. Tapi terkadang diam. Mungkin karena tidak berhasil. Ini karena himah kita berada pada himah mutawasitah. Walaupun kemauanya sudah kuat. Tapi kadang hasil kadang tidak. Allah apabila menjadikan sesuatu pasti ada hikmahnya. Seperti contoh "bau abab" dipagi hari. Walaupun sangat bau dan tidak enak tapi itu adalah obat. Kiai Mustofa Bisri pernah mengijazahi bahwa jika ingin sehat sampai tua. Coba istiqomahkan setiap pagi minum madu dan air hangat. Tapi jangan berkumur dulu. Campur dengan bau abab pas bangun tidur yang bau itu. Jika sudah terkena air kumur. Hal itu sudah tidak begitu mujarab. Karena yang menjadikan mujarab adalah bakteri air liurnya. 
 
3. Himmah Sâbiqah, yaitu kemauan jiwa yang kuat yang selalu mengakibatkan wujudnya sesuatu tanpa diragukan lagi. Contoh Himah Sabiqah adalah sabdo-nya orang yang jadzab. Setiap "nyabdo" pasti terjadi. Dulu di Tambakberas, kita mengenal Abahnya Gus Jabar yang bernama Gus Huby. Saya dapat cerita dari Pak Mahmud Almarhum. Ketika beliau kecil perbah sakit gigi tidak waras-waras. Ketika ada Gus Huby lewat. Ibunya Pak Mahmud namanya Mak Yatimah. Langusng minta liurnya Gus Huby untuk obat Pak Mahmud yang sakit gigi. 
 
Nah, Gus Huby kalau nyuwuk tidak seperti umumnya Kiai. Beliau ambil air liur dari dalam dulu, baru kemudian disemburkan ke gelas. Pak Mahmud belum tahu. Oleh Mak Yatimahnya air itu dicampur dengan air diudek. Kemudian diminumkan dan langsung waras. Sekelas Gus Huby Himahnya adalah Himah Sabiqah. Sehingga dikatakan selalu wujud tanpa diragukan. 
 
Orang yang memiliki Himah Sabiqah dan Jadzab ini menakutkan. Karena jadzab itu keadaan yang akalnya tertutup akan tetapi orangnya dikehendaki oleh Allah langsung. Sehingga bagi orang awam sangat menakutkan. Abah Djamal pernah cerita satu ketika Gus Huby melakukan satu kesalahan. Oleh Abahe yaitu Kiai Fattah. Gus Huby kemudian disepak. Walaupun Abah nya sendiri. Tapi kakinya Kiai Fattah kemudian sakit sampai beberapa waktu tidak bisa berjalan. Kemudian disambangi dan dipijat kakinya oleh Mbah Wahab. Mbah Wahab dawuh, "Fattah hati-hati dengan anakmu Huby". Akhirnya Mbah Fattah bisa berjalan kembali. Mbah Wahab saat itu, ketika melihat apapun yang dilakukan Gus Huby. Reaksi Mbah Wahab adalah sukut atau diam. 
 
Ketika Mbah Wahab sawahnya panen dan hasil panennya disimpan di lumbung lalu digembok. Satu ketika Gus Huby tiba-tiba datang ke Lumbung tersebut. Gemboknya ditiup dan langsung terbuka. Berasnya diambil lalu dibagikan ke orang-orang kampung. Mbah Wahab adalah seorang wali. Siapa yang meragukan kewalian Mbah Wahab?. Tapi melihat tingkah Gus Huby beliau hanya diam. Inilah contoh apabilah orang yang memilki Himah Sabiqah tapi dia jadzab sangat menakutkan bagi orang umum. Mbah Yai Shodiq Genukwatu pada akhir-akhir masa hidupnya sampai beliau wafat juga jadzab. Saya ketika diajak Abah sowan sangat takut setengah mati. Khawatir jika tiba-tiba beliau dawuh dan nyabdo. 
 
Himah Sabiqah dapat keluar dari para nabi, para wali, orang-orang ahli makrifat, serta orang arif. Apabila Himah Sabiqah keluar dari para wali maka disebut dengan karomah. Jika keluar dari para nabi maka disebut mukjizat. Jika keluar dari orang sholeh namanya Maunah. 
 
قَالَ : إِنَّ لِلَّهِ رِجَالًا لَوْ أَقْسَمُوْا عَلَى اللهِ لَأَبَرَّهُمْ فِى قَسَمِهِمْ
 
Artinya: Sesungguhnya Allah mempunyai sejumlah hamba yang bila bersumpah atas nama-Nya niscaya Allah akan mewujudkannya.
 
Sawabiqul Himamnya Para Nabi sangat banyak. Diantaranya kisah ketika nabi beberapa hari tidak makan kemudian datang kepada Sayidah Fatimah. Nabi kemudian bertanya, "Fatimah, apakah Kamu punya makanan?. Abahmu ini 3 hari belum makan!". Ternyata Sayidah Fatimah dan Sayidina Ali menantunya juga belum makan selama 3 hari. Nabi kemudian bertanya Hasan dan Husain bagaimana?. Ternyata kedua cucunya juga belum makan selama 3 hari. Jika dengan anak Nabi masih kuat dan tega. Tapi mendengar cucunya juga belum makan Nabi seperti orang linglung. Akhirnya beliau keluar kota madinah dan menemukan satu kebun kurma milik orang baduwi. Nabi kemudian menjadi buruh ambil air bagi orang baduwi itu. Sementara orang baduwi itu tidak tahu kalau itu Nabi. Satu tima diongkosi 7 kurma. Nabi mengambil 3 timba dan mendapat imbalan 21 kurma. Nabi sangat bahagia dan inging segera langsung kembali. Sampai beliau lalai timba ditaruh di pinggir sumur dan jatuh.
 
Baduwi yang punya kebun kemudian marah-marah sampai memukul Nabi. Nabi pun tidak apa-apa dan tidak bereaksi. Beliau juga tidak mengeluarkan Himah Sabiqah-nya. Nabi akhirnya mengambil timba itu dengan tangannya. Padahal sumurnya sangat dalam. Inilah Himah Sabiqah. Beliau punya kemauan mengambil timba di dalam sumur dengan tangan kosong yang secara akal tidak bisa diambil karena sumurnya yang dalam. Orang Baduwi itu terkaget. Siapakah orang itu?. Dia bertanya-tanya kepada orang sekitarnya. Dan ia tahu ternyata itu adalah Rasulullah. 
 
Si Baduwi pun menyesali perbuatannya sampai tangannya dipotong sendiri. Tangan yang sudah terpotong penuh darah itu dipegang sambil mencari Kanjeng Nabi. Ketemu Sayidina Ali dihadang karena tingkahnya yang mencurigakan. Ternyata Baduwi ini ingin meminta maaf. Dia menyesal karena telah memukul Nabi dengan tangannya. Saat bertemu Nabi, tangan itu disambung oleh Kanjeng Nabi dan kembali normal. Contoh Himah Sabiqah Kanjeng Nabi dan teladan akhlaqnya beliau. Walaupun Beliau telah dicela tetap berbuat baik. Ketika disakiti tetap memaafkan. 
 
Sawabiqul Himam pada Nabi namanya adalah mukjizat. Yaitu satu kemauan yang kuat atas sesuatu dan diwujudkan Allah secara pasti. 
 
قَالَ تَعَالَى فِى الحَدِيْثِ القُدْسِيِّ: يَا عَبْدِيْ، أَنَا الَّذِي أَقُوْلُ لِلشَّيْئِ كُنْ فَيَكُوْنُ، فَأَطِعْنِيْ أَجْعَلْكَ تَقُوْلُ لِلشَّيْئِ كُنْ فَيَكُوْنُ
 
Artinya: Wahai hamba-Ku! Aku adalah Dzât yang mengatakan pada sesuatu: “Jadilah, maka terjadilah”, maka taatlah kepada-Ku, agar Aku menjadikanmu mampu berkata pada sesuatu: “Jadilah, maka terjadilah.”
 
Jika ada pada para wali namanya karomah. Seperti Mbah Kholil yang ketika mondok. Setiap sore ngajak temannya mendayung sampan. Temannya ini kemudian disuruh memejamkam mata untuk membaca "La Ilaha ila anta Ya Khaiyu Qayum....". Setelah memabaca lafadz itu 3x ternyata perahu sudah sampai Makah. Inilah Sawabiqul Himam yang ada pada wali yang dinamakan karomah. Ada juga Sawabiqul Himam bagi Orang Fajir seperti tukang santet. Ada orang iri dagangan atau karena diseleding pacarnya oleh teman. Tidak terima akhirnya datang kepada tukang sihir dan tukang samtet. Ketika si dukun mengeluarkan paku dan mori untuk mengirim santet. Oleh karena itu ada yang mengatakan kain mori orang yang mati malam jumaat adalah santet yang paling cepat. 
 
Mbah Nyai Churriyah dulu wafatnya Malam Jumat. Sampai Mbah Yai Husain pesan, "Gus dieleki 40 Hari". Oleh si dukun kemudian paku dan mori itu ditiup, "Budal". Ternyata kembali. Maka berarti tidak bisa karena yang disantet sakti. Ditambah jurus. Diperintah lagi dengan kata, "Budaal neroko tak barengi". Kiriman santetnya kembali lagi. Ternyata yang dikirimi masih kuat. Akhirnya dukunya menduduki Quran. Karena diantara santet yang paling kuat adalah jika orang berani kafir. Si Dikun kemudian berkata, "Selawase neroko tak belani!!!".Kemudian santetnya sudah kembali dengan penuh darah. Berarti yang dikirimi sudah mati. 
 
Hal yang semacam ini sampai sekarang masih ada. Dulu awal-awal Muhibin pindah ke selatan. Mbah Yai Maskun tiba-tiba datang malam hari. Abah masih keluar pengajian. Mbah Yai Maskun langsung tanya dimana kamarnya Abah. Kamar dibuka kemudian beliau mebersihkan bawah amben yang sudah banyak lemah. Kamudian pamit dan kirim salam untuk Abah. Lo dibawah amben banyak lemah itu lemah dari mana?. 
 
Pernah satu ketika di gerbang depan dan di depan rumah. Baliau perintah untuk menggali. Ketika digali ternyata ada bungkusan kain putih yang bisa masuk ke dalam cor. Hal-hal tersebut apabila terlaksana namanya istijraj. Orang-orang fajir conhtohnya adalah tukang sihir dan dukun. Termasuk pesugihan dan babi ngepet. Hal yang demikian juga dinamakan Sawabuqul Himam. Hanya saja keluarnya dari orang jahat. Sawabiqul Himam bagi orang Fajir ada yang dinamakan Istijraj dan ada yang dinamakan ihanah.
 
قَالَ تَعَالَى: وَمَا هُمْ بِضَارِّيْنَ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللهِ (البقرة
 
Artinya: Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi madharat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah. QS. Al-Baqarah
 
Dulu Nabi disaingi oleh seorang yang bernama Musailimah al-Kadzab. Satu ketika Abi Qatadazah sahabat nabi matanya kena tombak dan copot waktu perang. Setelah itu matanya diambil dan dibawa ke Nabi. Oleh Nabi matanya dikembalikan dan ditiup akhirnya kembali normal. Contoh sawabiqul Himam berupa mukjizat karena yang melaksanakan adalah Nabi. Kemudian ada umat dari Musailimah al-Kadzab ini datang kepada nabi. Umat itu matanya memang sebelumnya sudah buta satu dan normal satu. Dia datang kepada Musailimah untuk dikembalikan matanya secara normal seperti yang diminat Abi Qatadah kepada Nabi Muhammad. Ketika mata itu ditiup oleh Musailimah. Akhirnya kedua mata dari umat musailimah itu menjadi buta. Yang demikian ini adalah Ihanah. Walaupun Sawabiqul Himam itu seolah-olah telah pasti terjadi tapi tetap saja tidak bisa menembus batas taqdirnya Allah. 
 
3- Sawabiqul Himam Orang Sholeh : Ma'unah
Ketika kita sowan kepada orang sholeh yaitu para kiai dan ulama yang mereka adalah orang yang "YakhsyaAllah" dan welas kepada umat. Para Kiai adalah orang yang Yakhsa kepada Allah tapi sayang dan rohmah kepada Umat. Sehingga ketika melihat umat, hatinya memandang dengan kemauan jiwa yang kuat agar umat bisa menjadi baik. Ketiak sowan kepada Kiai yang demikian. Kemudian mengutarakan masalah yang dihadapi. Kiai akan melihat dengan hati dan kasih sayang, serta kemauan yang kuat untuk orang itu diselesaikan masalahnya. Akhirnya masalahnya bisa selesai. Kiai yang YakhsyaAllah akan memandang umat dengan mata kasih sayang. Seperti satu kisah yang diceritakan oleh Habib Umar. Ada kiai malam-malam berjalan-jalan keluar. Dia bertemu dengan gerombolan anak muda yang sedang sakau mabuk. Kiai itu dilempari oleh anak-anak pemabuk itu. Akhirnya santrinya tidak terima. Anak-anak itu akan dihajar. Tapi kiai membela anak-anak yang mendem. Malah kiai itu berdoa: 
 
اللهم كما فرحتهم في الدنيا ففرحهم في الآخرة
 
Artinya : "Ya Allah seperti engkau membahagiakan mereka di dunia, bahagiakanlah mereka di akhirat".
 
Akhirnya anak-anak muda itu bertaubat, sadar dan menjadi muridnya kiai serta menjadi orang baik. Inilah contoh Mau'nah. Maka semua sawabiqul Himam baik Maunah, Mukjizat, karomah, istijraj dan ihanah yang di luar kebiasaan. Semua tidak bisa keluar dari ketentuan dan taqdir dari Allah. 
 
قَالَ شَيْخُنَا : وَلِلَّهِ رِجَالًا إِذَا اهْتَمُّوْا بِالشَّيْئِ كَانَ بِإِذْنِ اللهِ
 
Artinya: Guru kami berkata: “Allah  mempunyai sejumlah hamba yang bila menginginkan sesuatu niscaya terjadi dengan izin Allah.” 
 
قَالَ تَعَالَى: وَمَا تَشَاؤُوْنَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللهُ الإنسان
 
Artinya: Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. (QS. Al-insan[76]: 30) 
 
Syekh Ibnu Athaillah dalam Hikamh yang Ke-4 berkata:
 
أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيْرِ، فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لَا تَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ
 
Artinya: "Istirahatkan dirimu/ pikiranmu dari kesibukan mengatur urusan duniamu, sebab apa yang sudah dijamin/ diselesaikan oleh selainmu, tidak usah engkau sibuk memikirkannya".
 
Hikmah ke-4 ini diperuntukan untuk murid. Yaitu orang yang beribadah dengan tujuan taqarub dan makrifat kepada Allah. Murid jangan sampai memilki tadbir. Karena Tadbîr adalah merencanakan kebutuhan-kebutuhan duniawi yang sesuai dengan keinginan nafsu kemudian dikerjakannya dan dipikirkannya (ingin mencapai suatu target ekonomi serta melaksanakannya). 
 
Hikmah ini adalah hikmah untuk murid dan bukan untuk Abid. Karena seorang murid harus sibuk dengan ingat kepada Allah. Bahkan apabila lupa kepada Allah maka dia harus taubat. Oleh karena itu yang diajarkan kepada murid adalah orang harus dawamul zikiri (terus berzikir). Dengan terus menyebut Allah, Allah, dan Allah. Jika berjalan, kaki berjalan hati berzikir Allah, Allah. Tangan bergerak dibarengi zikir Allah, Allah, Allah. Itulah sebabnya Abah jika ngaji pelan-pelan karena dibarengi dengan zikir Allah, Allah, Allah.Dulu saya juga diajari seperti itu. Kalau ngaji dibelajari dengan zikir Allah, Allah, Allah. Mbah Yai Maskun juga ngajari agar zikir walaupun ketika ngaji kitab. Yaitu dengan menulis satu huruf dengan zikir Allah satu kali. Hurufnya lima maka zikir "Allah"-nya juga 5 kali. Ini karena adabnya murid adalah zikir kepada Allah. 

Dulu Abah saking ingin mbelajari santri zikir. Santri-santri istimewa yaitu putra-putranya Mbah Maskun, Mbah Yai Khusain, dll kumpulkan di tempatkan kamar yang pojok. Santri-santri pilihan yang besar-besar itu. Kalau malam tidak pernah tidur. Kalau Abah datang kadang diewangi melek oleh Abah. Sampai Abah minum kopi di kendil yang sama dengan santri-santrinya. Satu ketika Abah menemui mereka sedang main kartu. Abah kemudian dawuh, "Main kartu yo main kartu, tapi nek bendole lima zikir Allah, Allah, Allah yo ping limo". Sampai sedetail itu Abah agar bisa membelokan santri-santri istimewanya untuk zikir kepada Allah. Saya kalau di mobil biasanya mendengarkan musik agar tidak stres di jalan. Ketika nyetiri Abah ya tetap musikan. Dan Abah hanya diam. Padahal yang saya putar adalah musik yang genrenya adalah hard rock. Mulai dari Bon Jovi, Mr.Big. Abah malah tanya, itu musik apa?. Saya jawab musik Rok. Abah hanya dawuh, "Ngene Lo, memutar musik juga harus dibarengi zikir, caranya dengan mengikuti alunan drumnya, duk, duk, duk, dibarengi Allah, Allah, Allah". 
 
Hal ini dilakukan Abah karena Abah tahu bahwa Murid tidak boleh lupa zikir. Apabila lupa harus bertaubat. Oleh karenanya salah satu amalan sunah seorang Murid adalah sholat khajat dan sholat taubat. Karena apabila dalam satu hari lupa ingat Allah ditaubati dengan sholat taubat. Tadbir bagi murid adalah perkara yang dapat menjadikan lupa pada Allah. Jenis tadbir disini adalah merancang ekonomi. Seperti nanti aku bekerja seperti ini. Hasil segini. Dan bisa nabung sebanyak ini. Agar bisa beli rumah dan mobil pada umur segini. Pada umur sekian tinggal santai dan jalan-jalan. Tadbir memiliki pola rancangan ekonomi dan kehidupan. 
 
Pertanyaannya, apakah yang demikian itu tidak boleh?. Jawabannya boleh bagi orang Abid dan orang awam. Tapi tidak boleh bagi Murid karena Tadbir dapat melalaikan Murid dari berzikir kepada Allah. Jika mengatur yang sedang-sedang saja tentang ekonomi diperbolehkan. Tapi jika mengatur yang berat-berat tidak diperbolehkan. Dulu Abah ketika membangun pondok sowan kepada Kiai Djalil. Yai dawuh, "Nggeh Kiai Djamal bangunan itu harus digambar yang bagus dan butuh arsitek, lalu dihitung biaya kontruksi kebutuhan bata dan besinya, setelah selesai direncanakan, gambar ditutup, boten usah dipikir dipasrahne Gusti Allah Kiai Djamal". Ini adalah contoh mengatur yang ringan-ringan. Seperti petani yang merencanakan bibit, air, pupuk. Setelah itu bismilah ditandangi. Tidak usah dipikir. Dipasrahkan kepada Allah.
 
Dagang juga demikian, diatur, direncanakan. Sebelumnya tanya-tanya dulu. Setelah itu ditandangi dan dipasrahkan kepada Allah. Jangan dipikir dan dihitung terus. Seorang Murid bukan tidak boleh bekerja. Murid harus berkerja karena Maqamnya masih kasab. Tapi bekerja jangan diatur-atur terlalu ribet. Yang penting dikerjakan. Manajemen dan Administrasi juga digunakan. Kemudian pasrahkan kepada Allah.
 
Biasanya jika diangan-angankan terus malah tidak sesuai dengan kalkulasi dan malah rugi. Yang penting dirancang diawal. Digariskan di awal. Dan bismillah dikerjakan. Tidak usah diangan-angan. Karena dapat membebani pikiran dan menjadikan lupa pada Allah.
 
Ada contoh dari orang sufi yang bertempat di satu desa di tengah hutan. Dia bekerja karena maqam kasab. Kerjanya adalah beternak ayam dan kambing. Dia merancang diawal tentang ukuran kandang ayam dan kambingnya. Agar aman dia membeli anjing untuk menjaga kandang. Satu ketika pada saat sholat malam. Isterinya datang dan berkata, "Bah, ayamnya habis Bah". Dia cuma bilang, "Alhamdulillaaah, mungkin ini yang terbaik untuk kita mungguhe Allah Buk". Sufi ini orang yang tidak tadbir, sehingga tidak begitu dipikir. 
 
Tidak berselang lama, Kambingnya dihabiskan harimau. Sedangkang anjingnya lari. Akhirnya sufi itu hanya berkata, "Alhamdulillaaah, mungkin ini yang terbaik untuk kita mungguhe Allah Buk". Beberapa waktu kemudian isterinya datang lagi dan cerita, "Abah, dikampung sebelah ada banjir darah, banyak begal masuk kampung mengambil barang warga dan orangnya dibunuh". Orang sufi dan keluarga itu selamat karena begal itu ternyata datang pada malam hari yang gelap dan petunjuknya adalah dari suara ayam dan kambing. 
 
Perampok itu mendekati rumah berdasarkam suara ayam dan kambing. Perampok tidak datang ke rumah orang sufi itu karena ternaknya sudah habis dimakan harimau. Inilah yang paling baik bagi mereka menurut Allah. Dimatikan ternaknya agar selamat dari perampok. Anjing di dalam madzhab Maliki tidak dipermasalahkan dan tidak najis. Bahkan di sekitar Madinah sekarang banyak anjing. Madzhab Syafii saja yang sangat ketat dengan anjing. Sampai ada cerita satu ketika Nabi menunggu Malaikat Jibril tapi tidak datang-datang. Besoknya Malaikat Jibril baru datang. Kemudian diantanya nabi kenapa kemarin tidak datang?. Ternyata sudah akan masuk rumah tapi tidak jadi karena di bawah dipan Nabi ada anak anjing. Ternyata Hasan dan Husain bermain dengan anak anjing tersebut. 
 
Yang ketat dengan hukum najis mughaladzah adalah Imam Syafii. Mensucikan dengan 7 x Basuhan dan 1 x dengan debu bukan karena najisnya tapi karena Li Taabudi yaitu perintah nabi.
Macam- Macam Tadbir : 
 
1. Tadbîr yang tercela adalah mengatur yang disertai rasa الجزم (meyakini bahwa Tadbîr dapat menghasilkan sesuatu), baik agama ataupun duniawi. Orang sekarang apabila berdagang yang banyak adalah tadbir al-jazmu. 
 
Dia merencanakan dan memastikan berapa penghasilannya. Yang demikian ini adalah tadbir yang madzmum atau tercela karena (1) Karena hal itu menyebabkan tidak tatakrama kepada Allah Lupa bahwa Allah semua yang mengatur. (2) Orang yang demikian akan lelah mental dan fisik, karena seringkali apa yang diurusi tidak sesuai dengan apa yang ditentukan Allah.
 
Lalu bagaimana yang harus dilakukan?. Adalah tadbir yang ringan-ringan. Dirancang dan dihitung kemudian dijalani dan dipasrahkan kepada Allah. Tanpa dipikir terus menerus. Urusan agama juga seperti itu. Contohnya anak mondok. Tidak usah ditarget direncanakan 6 tahun. Kuliah disini. Dll. Dulu saya tidak pernah membayangkan macam-macam. Kelihatan kebutuhannya ya saya bangun. Tidak terlihat ya tidak. Dulu juga tidak membayangkan membangun madradsah. Karena kebutuhan akhirnya mebangun madrasah di selatan karena tidak punya tanah. Itupun hanya untuk anak putra. Sedangkan anak putrinya pinjam di gedung MI. Juga tidak membayangkan bisa sebesar ini bahkan sampai punya 2 kampus. Semua tidak terbayangkan. 
 
Hanya yang saya pikirkan adalah bagaimana membuat kurukukum dan ngermut anak-anak dengan baik. Serta bagaimana caranya anaknya mampu menguasai pelajaran. Tahun pertama ada 125 anak yang daftar. Kemudian mikir. Apakah mau nunut terus. Akhirnya Abah dawuh tanah depan itu warisan Ibu. Yang dapat warisan dikasih tukaran. Akhirnya membuat gerakan wakaf untuk membebaskan tanah. Tanah itu dibeli dan jadi wakaf. 
 
Pada tahun yang sama juga tanah tersebut juga dibangun. Dan langsung jadi karena banyak dermawan. Ketika jadi bangunan pun hanya sesuai dengan kebutuhan yaitu 4 lokal. Akhirnya berbagi. Yang putra pagi dan siang untuk putri. Ketika anak-anak MTs sudah kelas 3, Abah dawuh kalau banyak walisantri sowan agar mts ditruskan Aliyah. Yang jadi masalah mau membangun dimana karena tanahnya tidak ada. Abah dawuh agar di depan Masjid itu yang didirikan sekolah. Akhirnya jadi 4 lantai dan sudah lengkap MTs dan MA. 
 
Dengan sift masuk pagi dan siang. Tiba-tiba Pak Haji Saiful datang ke saya minta dibeli tanahnya. Uangnya seadanya. Dilunasi bisa kapanpun. Bahkan belum lunas sudah mau dibalik nama. Setelah tanah itu lunas. Matur ke abah untuk dibangun lokal putri. Abah menyetujui. Akhrnya jadilah kampus II untuk putri. 
 
Dulu saya juga tidak kepikiran membuat pondok putri. Ada teman sepondok yang menitipkan anak putri ke saya. padahal saya tidak punya pondok putri. Saya suruh mondok di mbak saya tidak mau. Alasanya tidak kenal. Kemudian saya taruh dibelakang. Biar bisa membantu di dapur. Tambah lama tambah banyak. Sampai ruang tamu yang digunakan kamar anak putri tidak cukup. Akhirnya tanah yang beli dari Haji Saiful saya bangun rumah. Matur ke Abah kalau Belakang rumah rencana untuk pondok putri. 
 
Abah dawuh, "Tidak usah buat pondok putri, rumahmu bangun tingkat anaknya ditempatkan di atas kalau tidak cukup baru buat pondok". Ternyata 1 tahun sudah tidak cukup. Tahun kemarin Nyai Kulo matur, "Bah tahun ini tidak usah mnerima santri putri nggeh?". Saya tanya, "Kenapa buk?". Ibu jawab, "Kamarnya sudah tidak cukup Bah". Ini karena pondoknya baru 4 tahun dan belum ada yang lulus. Sementara yang daftar banyak dan tidak bisa ditolak. Akhirnya belakang sekolah dibangun. 
 
Itu semua berjalan tanpa tadbir. Sampai sekarang ada tanah warisan di selatan Muhibin yang mulai tahun 1964. Ada Ahli warisnya yang datang menawarkan ke saya. Karena uang ada kemudian saya beli.
Ini namanya hidup tanpa pola. Akhirnya tidak makan pikiran. Yang penting yang kelihatan ditandangi. Orang yang tadbir demiikian akan lelah fisik dan pikirannya disamping dia tidak punya adab kepada Allah.
 
قَالَ تَعَالَى: وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُۗ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُۚ سُبْحَانَ اللهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
 
Artinya: Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).
 
2. Tadbîr yang dianjurkan adalah mengatur sesuatu yang engkau dituntut melakukannya, seperti ibadah-ibadah yang wajib dan sunnah, disertai rasa pasrah (تَفْوِيْض) pada apa yang dikehendaki Allah. Dalam urusan ibadah dirancang adalah baik. Seperti niat akan beribadah haji. Kemudian diatur dan dirancang dananya. Ini adalah contoh kebaikan. Karena Hal-hal yang dituntut oleh Allah kepada kita dan kita rancang itu boleh. Juga mengatur agar bisa sholat tahajud. Dengan tidak makan banyak. Tidak terlalu capek. Tidak banyak berpikir dunia dan tidak banyak ngobrol tentang dunia. Karena hal itu bisa menghambat sholat tahajud. Andaikan sudah diniatkan dan dirancang tapi tidak terlaklasana jangan khawatir karena: 
 
نِيَّةُ المُؤْمِنِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ
 
Artinya: Niat seseorang Mu’min lebih baik daripada amalnya. (HR. At-Thabarâni dan al-Baihaqi) Walaupun telah diatur dan dirancang jangan lupa pasrah kepada Allah. Rojabiyah yang begitu besar itu jauh-jauh hari sudah ditata dan dirancang. Tapi bagaimana nanti maka dipasrahkan kepada Allah. 
 
قَالَ تَعَالَى فِى الحَدِيْثِ القُدْسِيِّ : إِذَا هَمَّ عَبْدِيْ بِحَسَنَةٍ وَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبْتُهَا لَهُ حَسَنَةً (رواه مسلم عن أبى هريرة)
 
Artinya: jika hamba-Ku bersengaja melakukan kebaikan kemudian tidak melakukannya maka Aku catat baginya satu kebaikan (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
 
3. Tadbîr yang diperbolehkan adalah Tadbîr dalam urusan duniawi dan thobi'i yang disertai dengan pasrah (تَفْوِيْض) pada apa yang dikehendaki Allah serta meyakini bahwa apa yang terjadi adalah dari qudrat Allah. Belajar di pondok jangan banyak berpikir nanti jadi apa. Apakah bisa sarjana atau doktor. Yang penting yang didepan sekarang dilakukan terus dengan serius. Jika sudah terbiasa serius maka akan sukses dengan sendirinya. 
 
Mendidik anak juga seperti itu jangan terlalu dirancang. Kita memang punya bayangan tapi jangan terlalu di rancang. Karena apabila tidak sesuai ekspektasi akhirnya jadi stress. Abah ketika menata anak juga dirancang tapi juga dipasrahkan kepada Allah. Ndililalah Yai Djalil juga dawuh. Seperti contoh dawuh, "Yai Djamal yang di Muhibin Gus Idris". Kepada yang lain Abah juga menata. Tapi juga dipasrahkan kepada Allah. Semua rancangan kita harus disertai dengan Tafwid yaitu percaya bahwa apa yang dikehendaki Allah adalah yang terbaik. 
 
قَالَ : التَّدْبِيْرُ نِصْفُ المَعِيْشَةِ (رواه الديلمي)
 
Artinya: Tadbîr (mengatur diri) adalah separuh kehidupan. (HR. Ad-Dilami)
Kesimpulannya adalah :
 
قَالَ الشَّيْخُ أَحْمَدُ بْنُ عَطَاءِ اللهِ السَّكَنْدَرِيُّ : إِنَّ الْأَشْيَاءَ إِنَّمَا تُذَمُّ وَتُمْدَحُ بِمَا تُؤَدِّيْ إِلَيْهِ، فَالتَّدْبِيْرُ الْمَذْمُوْمُ: مَا شَغَلَكَ عَنِ اللهِ وَعَطَّلَكَ عَنِ القِيَامِ بِخِدْمَةِ اللهِ وَصَدَّكَ عَنْ مُعَامَلَةِ اللهِ، وَالتَّدْبِيْرُ الْمَحْمُوْدُ : هُوَ الَّذِي يُؤَدِّيْكَ اِلَى الْقُرْبِ مِنَ اللهِ وَيُوْصِلُكَ اِلَى مَرْضَاةِ اللهِ
 
Artinya: Asy-Syaikh Ahmad Ibnu Athô’illah As-Sakandari (w. 709 H./1309 M.) berkata: Ketahuilah bahwa segala sesuatu itu tercela atau terpuji sebab melihat dampak dan akibatnya, maka tadbîr yang tercela adalah yang mengganggumu dalam mengingat Allah dan menjadikanmu terhambat dalam beribadah kepada Allah dan menghalangimu dalam berhubungan kepada Allah. Sedangkan tadbîr yang terpuji adalah tadbîr yang menjadikanmu dekat dengan Allah dan membuatmu sampai pada ridla Allah.
 
 
- Disarikan dari Ngaji Hikam Setiap Malam Selasa oleh KH. Mohammad Idris Djamaluddin. 10 Juli 2023 di Bumi Damai Al-Muhibin

Posting Komentar untuk "Ngaji Hikam : Hikmah Ke-3 & Ke-4"