Ngaji Hikam : Hikmah Ke-2

 Syekh Ibnu Athaillah al-Syakandari berkata dalam kitab Al-Hikam-nya:

إِرَادَتُكَ التَّجْرِيْدَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي الْأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ، وَإِرَادَتُكَ الْأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي التَّجْرِيْدِ إِنْحِطَاطٌ عَنِ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ

Artinya: "Keinginanmu untuk tajrîd atau melulu beribadah tanpa berusaha mencari dunia, padahal Allah masih menempatkan engkau pada asbâb (harus berusaha untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari) termasuk syahwat nafsu yang samar. Sebaliknya, keinginanmu untuk asbâb (berusaha) padahal Allah telah menempatkan dirimu pada tajrîd (melulu beribadah tanpa berusaha), maka demikian itu berarti menurun dari Himmah Aliyah atau semangat yang tinggi".

Hikmah ini adalah hikmah khusus untuk seorang murid dalam perjalanan menuju Allah. Tingkatan orang yang berjalan menuju Allah sesuai dengan hikmah pertama yaitu hikmah sebelumnya ada 3 tingkatan yaitu : (1) Abid, (2) Murid, dan (3) Arif.
1- Tingkatan Abid
Abid adalah orang yang amalnya disebut sebagai amal ibadah. Mereka juga disebut sebagai ahli syariat. Amal mereka disebut amal dzohir. Karena yang diperbaiki adalah amal-amal dzohir seperti sholat, sholawatan, wiridan, mauludan, membaca Alquran dsb. Oleh karena itu amal mereka disebut juga dengan amal ibadah. Dalam beribadah orang abid memilki tujuan yaitu ingin masuk surga dan selamat dari neraka.
2- Tingkatan Murid
Amal orang Murid dikenal dengan amal ubidiyah. Mereka juga disebut sebagai Ahli Thoriqah. Apa perbedaan amal ubudiyah dengan amal ibadah?. Amal ubudiyah adalah amal yang berkaitan dengan batin. Sedangkan amal ibadah berkaitan dengan dzhohir. Contoh amal ubudiyah adalah ketika orang pada maqam murid sholat, mereka merasa bahwa adanya dia bisa sholat adalah karena pemberian Allah.
Amal bisa ngaji rutin misalnya. Sebenarnya memerlukan banyak sekali pertolongan dari Allah. Seperti diberi kesehatan. Karena kemauan saja tidak cukup tapi juga harus sehat. Juga butuh uang untuk beli bensin agar transportasi baik mobil atau sepedanya bisa jalan. Syukur-syukur isterinya mau diajak. Karena banyak yang ingin tapi kadang tidak diizini isterinya. Sehingga seorang murid merasa bahwa semua pertolongan bisa ngaji adalah murni pemberian dari Allah. Lalu amal ubudiyah-nya dimana?. Yaitu amal merasa bahwa amal ngajinya adalah pemberian dari Allah serta bersyukur kepada Allah atas amal yang telah dilakukan. Contoh yang lain adalah anjuran untuk mengamalkan riyadoh 41 hari atau 10 hari bagi jamaah thoriqah.
Orang yang merasa memiliki amal atau orang abid pasti memilih yang 10 hari. Karena mereka merasa sudah tidak mampu dulu. Mereka menyandarkan amalnya pada diri sendiri. Padahal sebagai murid, seharusnya kita merasa baik 41 hari ataupun 10 hari keduanya adalah sama-sama pemberian Allah. Kemudian kita meminta kepada Allah agar bisa diberi kemampuan berpuasa riyadah sampai 41 hari. Seorang murid akan berpikir bahwa semua ibadah adalah pemberian dari Allah. Sehingga ketika akan ibadah mereka berdoa meminta kepada Allah. Hati mereka menyatakan, Walaupun 41 hari atau bahkan sampai 60 hari pun kalau Allah memberi pasti puasanya terlaksana.
Ketika puasa itu benar-benar terlaksana 1 hari. Maka mereka akan sangat bersyukur serta meminta lagi anugrah Allah agar besoknya dikuatkan berpuasa lagi. Ketika besoknya mereka mampu berpuasa 1 hari lagi mereka akan bersyukur lagi dan meminta lagi agar besoknya diberi anugrah bisa berpuasa lagi. Seorang murid akan selalu meminta anugerah kepada Allah agar bisa melaksanakan amal. Karena ia merasa semua amal yang telah dilaksanakan adalah atas anugerah dari Allah. Begitulah amal ubudiyah. Puasanya adalah amal ibadah. Sedangkan mensyukuri bisa berpuasa dan merasa puasanya adalah anugerah Allah adalah amal ubudiyah.
Amal ubudiyah yang lain adalah ketika kita diberi kenikmatan berupa isteri yang sholihah. Anak yang sholeh. Rezeki yang mudah dan gampang. Kemudian merasa bahwa itu semua adalah pemberian dari Allah. Lalu bersykur. Maka ini adalah contoh dari amal ubudiyah. Seandainya pun dicoba atau diberi cobaan oleh Allah, karena Allah ketika cinta dengan sesorang akan diberi ujian:

اذا احب الله عبدا ابتلاه

Terkadang ada yang diberi ujian isterinya atau anaknya wafat. Atau dicoba ayamnya yang hilang. Tapi hatinya tetap ridla terhadap ujian-ujian tersebut. Maka ridla yang seperti ini juga termasuk amal ubudiyah. Maka kesimpulannya adalah amal seorang murid adalah amalan-amalan hati. Karena tujuannya adalah untuk membersihkan hati. Hikmah kedua ini terkhusus untuk tingkatan murid. Siapa murid itu?. Dia adalah orang yang bertujuan dalam ibadahnya ingin wushul (sampai) kepada Allah dan ingin dekat serta makrifat kepada Allah.
Mereka ibadahnya bukan karena surga dan takut neraka. Melainkan mereka ibadah hanya ingin dekat dan makrifat kepada Allah. Apa perbedaan murid dan arif?. Yaitu kalau orang murid ingin makrifat, sedangkan orang arif sudah makrifat. Murid dalam perjalannya kepada Allah membutuhkan hidup atau kehidupan. Sedangkan hidup membutuhkan maisyah, pekerjaan, atau ekonomi. Adapun jalur maisyah bagi murid ada dua yaitu :
(1) Maqam Kasab atau Maqam Sabab
Maqam kasab adalah tingkatan orang yang masih butuh bekerja untuk sangune urip. Jangankan kita, orang-orang besar dan para imam zaman dahulu saja, masih banyak yang ditempatkan Allah di maqam sabab atau kasab. Seperti Imam Syafii yang bekerja menjadi pedagang. Imam Hanafi (80 H- 150 H), Beliau adalah Imam Madzhab paling tua. Turun dari masa Rasulullah hanya 3 tingkatan.
Imam Hanafi termasuk golongan Tabiit Tabiin. Beliau wafat pada tahun 150 H, Dan pada tahun itu juga lahir imam besar lagi yaitu Imam Syfaii. Sampai pada tahun itu diisitilahkan oleh para ulama adalah tahun "Tenggelamlah satu matahari, terbitlah satu matahari yang baru".
Imam Syafii wafat tahun 204 H. Umurnya hanya 54 tahun. Beliau memiliki umur yang pendek. Apalagi hitungan 54 itu mengikuti ukuran hijriyah yang per 30 tahun selalu berjarak berkurang satu tatun. Sekelas Imam Hanafi saja masih bekerja yaitu berdagang kain. Mbah Hasyim memberi pedoman bahwa dalam fikih Ahalusunah wal Jamaah mengikuti salah satu dari 4 Imam Madzhab yaitu Imam Hanafi, Imam Syafii, Imam Maliki dan Imam Hambali. Sedangkan dalam bidang tauhid mengikuti Imam Al-Asyari dan Imam al-Maturidi. Adapun di bidang tasawuf kita mengikuti Imam Ghazali dan Syekh Junaid al-Bagdadi yang wafat tahun 279 H.
Syekh Junaid juga masih bekerja di toko di dalam pasar. Abah menceritakan bahwa Syekh Junaid ketika masuk toko sebelum buka, beliau sholat sunah 400 rokaat. Setelah toko dibuka sampai sore, beliau tidak langsung pulang tapi sholat sunah dulu 400 rokaat. Ketika di rumah digenapilah sholat sunah nya 200 rokaat. Sehingga menjadi 1000 rokaat. Syekh Hatim al-Ashom yang terkenal juga bekerja berdagang kain di pasar. Beliau dijuluki al-Ashom karena pernah pura-pura tuli. Yaitu ketika ada seorang perempuan akan beli kain. Dia tidak kuat menahan untuk kentut. Kemudian dia kentut di depan Syekh Hatim. Sedangkan Syekh Hatim pura-pura tuli agar perempaun itu tidak malu.
Nabi Mubammad adalah panutan semua umatnya. Nabi juga berada di maqam kasab (bekerja) juga di maqam tajrid (tidak bekerja). Beliau adalah orang yang syariat juga haqiqat. Semenjak kecil beliau sudah angon kambing. Kemudian membantu pamannya ekspor dan impor barang ke Syam. Karena dulu pusat perdagangan ada di Syam. Ketika umur 25 tahun beliau sudah jadi CEO dan memegang modal banyak orang termasuk modal Sayidah Khadijah yang jadi investor dan Pelaku usahanya adalah nabi. Akan tetapi pada umur 40 tahun setelah beliau menerima risalah, beliau tajrid. Makan ikut para isterinya. Rumahnya adalah rumah para isterinya. Satu ketika berada di rumah Aisyah beliau bertanya, "Apakah ada makanan Aisyah?". Aisyah menjawab, "Tidak ada apa-apa Nabi!". Kemudian nabi berkata, "Aku akan berpuasa".
Nabi mencontohkan syariat juga memberi contoh haqiqat. Mencontohkan kasab juga memberi teladan tajrid. Karena umatnya Nabi dari berbagai level dan tingkatan. Nabi ketika kasab beliau pergi ke pasar. Ketika ditanya mengapa ke pasar?. Nabi menjawab : Karena beliau memiliki kewajiban yaitu memenuhi kebutuhan anak dan isterinya.
Ketika akan pulang dari pasar, beliau membawa barang-barang banyak. Ada sahabat yang menawarkan bantuan kepada nabi tapi nabi tidak mau karena itu adalah kewajibannya. Lalu bagaimana nabi mencontohkan haqiqat?. Dalam Alquran ada hukum yang dinamakan dengan harta Feii'. Yaitu harta jarahan perang yang 1/5-nya harus diberikan kepada Nabi.
Harta Feei' yang diperoleh terkadang jarahan emasnya sampai berkarung-karung. Setelah perang ketika sampai di depan masjid. Harta itu dibuka dan dibagikan banyak orang. Nabi mendapat banyak sendiri karena mendapat 1/5 dari keseluruhan. Kemudian saudara-saudaranya datang. Dalam perang Khoibar. Satu ketika pasukan Islam mendapat jarahan yang sangat banyak. Emas perhiasan juga banyak. Setelah dibagi dan Nabi mendapat 1/5. Pamannya Abas datang dan meminta. Nabi pun mempersilakan. Pamannya kemudian mengambil 2 karung emas sampai tidak kuat memanggulnya. Akhirnya hanya dibawa 1 karung. Sampai nabi geleng-geleng. Walaupun harta banyak tapi lansung habis. Disatu sisi nabi juga tajrid. Di satu sisi beliau kasab dengan bekerja ke pasar. Di sisi yang lain beliau mencontohkan haqiqat dimana harta yang banyak tidak sampai satu hari telah habis.
Satu ketika Nabi mengimami sholat. Tiba-tiba setelah shalat beliau tidak wiridan dan keluar melangkahi para sahabat. Sampai para sahabat bertanya-tanya apakah ada wahyu yang memerintahkan setelah sholat langsung bubar. Nabi kemudian menerangkan, "Tidak ada wahyu tentang itu, Aku setelah sholat bubar tadi, karena teringat ada sekeping emas yang belum aku berikan kepada faqir miskin. Kalau aku menunggu waktu setelah wiridan aku khawatir hatiku berubah".
Oleh karena itu orang kalau sudah punya iktikad baik, sebaiknya segera dilakukan tanpa diangan-angan. Kalau menunggu waktu nanti akal kita akan membujuk dan merayu agar kita berubah. Sampai di Tulungagung ada kalimat, "Biasakno Kulinakno Pengucapmu Podo Karo Karepe Atimu". Ucapan dan Perilaku sama dangan hati sangat susah. Kalau tidak susah tidak akan di tulis oleh Romo Kiai.
Contoh kita berjalan di jalan raya. Ada orang minta-minta kemudian hatinya ingin memberi. Kalau menunggu waktu maka pikirannya akan berpikir dengan menghitung uang yang dimiliki. Akalnya kemudian membohongi. Sampai orang tasawuf mengatakan kalau Aqal adalah Kadzab atau pembohong yang sering kalkulatif dalam amal. Yang benar adalah mengikuti kata hati. Sehingga orang harus berusaha merealisasikan apa yang jadi "kerentek"-nya hati dalam tindak dan perilakunya. Sebelum dibohongi oleh akalnya. Sampai nabi ketika kerentek, dan ingat emasnya langsung tidak wiridan agar segera bisa membagikan emasnya.
Dalam riwayat Aisyah diceritakan ketika nabi mandi kemudian beliau memanggil Aisyah. Beliau meminta Sayidah Aisyah agar membagikan satu keping emas yang lupa belum beliau bagikan. Aisyah bertanya, "Kok tidak menunggu setelah mandi saja Nabi?". Nabi menjawab, "Tidak Aisyah, nanti keburu hatiku berubah". Begitulah Nabi mencontohkan maqam hakikat. Dapat harta sebanyak apapun. Langsung habis dibagikan dan biasanya tidak ada satu hari telah habis. Imam Syarqawi Pensyarah kitab Al-Hikam berkata :

قَالَ الإِمَامُ الشَّرْقَاوِي: وَعَلَامَةُ ذَلِكَ أَنْ يُهَيِّئَهَا لَكَ وَأَنْ تَجِدَ السَّلَامَةَ فِيْ دِيْنِكَ عِنْدَ مُعَانَاتِهَا وَيَنْقَطِعَ بِهَا طَمَعُكَ عَمَّا بِأَيْدِي النَّاسِ وَلَا يُشْغِلَكَ عَمَّا أَنْتَ فِيْهِ مِنْ وَظَائِفِ العِبَادَاتِ وَالْأَحْوَالِ الْبَاطِنَةِ

Tanda-tanda bahwa seorang murid ditampatkan Allah pada maqâm asbâb adalah:
1. Asbâb tersebut dipersiapkan Allah baginya (mendapatkannya dengan mudah tanpa kesulitan).
Orang yang diletakan Allah pada maqam kasab maka Allah menyiapkan lapangan pekerjaan kepadanya untuk mencukupi kebutuhannya. Orang hidup sebenarnya sudah diciptakan oleh Allah lapangan pekerjaan. Allah berfirman dalam hadist qudsy :
حرك يدك أنزل عليك الرزق
Artinya : "Gerakan tanganmu aku akan menurunkan rezeki".
Rezeki bukan dari bergeraknya tangan tapi karena Allah yang menurunkan rezeki. Tapi syaratnya tangan harus bergerak. Seorang ketika mau berpikir, tidak gengsi dan tidak malu, peluang usaha pasti ada. Malah yang bagus adalah tidak harus jadi karyawan. Karena 75 % pintu rezeki dari tijarah atau dari cara usaha menjadi enterprenur. Santri jangan memburu ijazah tapi carilah ilmu. Santri kalau bisa jangan cari kerja tapi menciptakan lapangan kerja. Karena Kanjeng Nabi juga adalah seorang enterprenur atau pengusaha.
Zamam 4.0 ini orang usaha tidak harus ke pasar. Emak-emak banyak yang usaha. Fb-nya, watsaap-nya, dan story-nya semua digunakan usaha. Karena apabila mau bergerak akan diturunkan rezeki oleh Allah. Tapi terkadang masalahnya orang gengsi dengan mengukur dirinya sendiri. Karena sudah S2 atau doktor. Kemudian tidak mau kalau tidak jadi dosen atau direktur. Walaupun jadi Kiai juga tetap usaha. Abah Djamal pernah cerita Mbah Kiai Fattah dulu kerja dengan jualan minyak tanah. Abah Djamal sendiri bekerja dengan jualan kerupuk.
Abah pernah dipesani oleh gurunya Kiai Shodiq, "Mal dadi kiai iku dueo toko walau cilik, dueo sawah walau cilik ben ora thomak karo amplop". Artinya jadi kiai harusnya punya toko walaupun kecil. Punya sawah walaupun sempit. Agar tidak tamak dan berharap amplop. Dulu ketika Abah mengajar di sekolah. Ibu Nyai Churriyah yang menggoreng krupuk. Bahannya beli di pasar gelondongan. Kemudian digoreng dan dipelastiki lalu di taruh di bawah amben oleh Ibu Nyai. Setelelah Abah pulang mengajar. Beliau yang menjual dan menitipkan ke warung-warung.

Saya di pondokkan di Lirboyo dulu dititipkan Mbah Yai Anwar. Waktu itu isteri Mbah Yai Anwar namanya adalah Bu Nyai Ummu Alimah putri dari Kiai Mahrus Lirboyo. Beliau perempuan yang sangat alim dan punya banyak pengajian ibu-ibu di kampung. Orang yang mengajari ngaji saya pertama ya beliau. Saya disuruh badali di kampung-kampung. Beliau dawuh, "Idris belajar ngaji ben koyo Abahmu". Beliau terkenal di Lirboyo sebagai "macan wedok" karena saking alimnya. Ketika di pondok, waktu itu sangu saya oleh Abah dititipkan kepada Bu Nyai Um. Karena Bu Nyai Um orangnya Alim. Beliau dawuh, "Idris, kalau ambil sangu malam selasa ya, tapi dengan membawa jurumiyah dan fathul qarib". Jadi ambil uang tapi juga dengan setoran kitab.
Pada zaman itu Bu Nyai Um ketika waktu sore atau setelah isyak beliau goreng ote-ote dan tempe. Gorengan itu kemudian dititipkan ke warung-warung sekitar Lirboyo. Padahal beliau adalah Bu Nyai. Tapi tetap usaha. Kesimpulannya adalah sebenarnya untuk hidup Allah telah memberi jalan. Syaratnya adalah jangan gengsi.
Ketika pulang dari pondok tamat Aliyah Tahun 1995. Saya didudukan oleh Ibu. Beliau dawuh, "Idris, kamu pulang dari pondok, seneng memakai mobilnya Abahmu, masak bensinnya minta terus, sudah besar dan merokok masak ngatong terus". Saya kemudian tanya, "Terus pripun Bu?". Ibu dawuh, "Tak ajari nyambut gawe, tak modali". Mulai dari nyetoki beras sampai ngelondre karena santrinya tambah kecil tambah kecil. Saya diajari usaha oleh Ibu. Sejak kecil atau usia MI saya diajari Abah dan Ibu agar tidak minta-minta. Waktu itu film yang viral adalah Brama Kumbara atau Saursepuh. Kalau mau mendengarkan bareng-bareng tidak nyaman. Saya ingin beli radio tapi tidak berani matur Abah. Abah dan Ibu Churriyah selalu mengajarkan apa yang diberikan, gunakanlah secukupnya. Tidak diajari minta-minta. Sehingga tidak berani minta. Akhirnya karena kepingin ya nyelengi sampai cukup. Setelah terkumpul dan cukup baru beli radio merk Samba di Toko Sabar. Melihat teman-teman beli jam, kepingin beli jam. Tapi tidak berani minta. Ya nabung lagi. Setelah uang terkumpul baru beli di Pasar Legi. Waktu itu Pak Hamdan yang jualan jam.
Kemudian usum sepeda motor. Teman-teman lain punya sepeda motor. Tidak berani minta. Tapi karena diajari Ibu bekerja Ketika masih perjaka sudah bisa beli mobil. Walaupun mobil tua. Dan mobilnya lebih tua dari orangnya. Walaupun mobilnya jalan jauh sedikit kadang sudah mogok. Orang apabila mau menggerakan tangan, peluang pasti banyak. Dan tandanya adalah ketika seorang sedang diletakan di maqam sebab maka dia diberikan lapangan pekerjaan oleh Allah. Karena Allah berjanji jika mau bergerak. Allah akan menurunkan rezeki.
2. Ia memperoleh keselamatan dalam menjalankan agama ketika mengurus asbâb (tidak teledor dalam beribadah);
Walaupun bekerja seorang murid agamanya tidak menjadi kalah karena pekerjaannya. agamanya tidak rusak dan tidak berkurang. Waktunya kerja tetap bekerja tapi ngaji tetap jalan. Bekerja tetap bekerja tapi silaturahim tidak putus. Itulah orang yang sedang di letakan Allah pada maqam asbab. Bekerja tapi tidak merusak ibadah dan agamanya. Tapi tentang pekerjaan ini juga harus dilihat-lihat kerjanya. Apakah pekerjaanya merusak agama atau tidak.
Apakah ada pekerjaan yang merusak agama?. Ada, yaitu berjualan perkara yang haram. Perkara haram ada yang memang haram li dzatihi seperti menjual babi, Atau jualan ayam tiren. Kecuali ayam tirennya tidak dimakan sendiri tapi untuk makan lele. Akan tetapi julan ayam tiren atau bangkai untuk makan lele atau yang lain juga bisa haram karena prosesnya. Dan harus melalui cara agar bisa halal. Yaitu jangan dijual. Tapi uangnya untuk mengganti ongkos kirim saja.
Ada lagi pekerjaan yang merusak agama karena pekerjaannya menjadikan orang selalu dan selalu bertemu dengan perkara haram dan tidak bisa menghindar seperti kerja ngoplos minuman keras atau bartender. Walaupun dia tidak minum. Tapi dia menjadi sabab orang minum. Ada yang beralasan jika tidak bekerja yang haram seperti itu tidak makan. Tidak bisa menafkahi keluarga atau yang lain. Keyakinan seperti Inilah yang keliru padahal yang dinamakan hijrah adalah menuju ridla Allah. Karena sesungguhnya dimanapun tempatnya Allah tetap akan memberi rezeki. Keluar dari keharaman dengan niat yang benar itulah yang dinamakan hijrah.
فهجرته إلى الله ورسوله

Abdurahan Bin Auf adalah sahabat yang kaya raya di Makah. Ketika hijrah untuk mengikuti Rasulullah ke Madinah. Hartanya habis. Semua harta ditinggal. Di Madinah beliau merintis usaha baru dan menjadi orang kaya lagi. Inilah yang dinamakan hijrah. Meninggalkan kemaksiatan atau sesuatu yang menjadikan maksiat dan menuju Allah. Pasti akan diberikan jalan.
3. Tidak tamak (طمع) pada harta yang dimiliki orang lain;
Bekerja agar tidak tamak atau berharap terhadap harta orang lain. Tamak disini bukan tamak dalam bahasa Indonesia. Karena tamak dalam bahasa Indonesia bahasa Arabnya adalah Khirsu yang artinya rakus. Karena kita bekerja. Kemudian memiliki harta. Diberi Allah kemudahan rezeki. Akhirnya kita tidak melihat dan berharap atas harta orang lain. Salah satu diantara tujuan orang bekerja adalah :

قوا انفسكم واهليكم نارا

Yaitu untuk menjaga diri sendiri dan keluarga dari api neraka. Dengan cara memberi kecukupan ekonomi sehingga tidak minta-minta kepada orang lain. Tidak minta-minta harus dilatih walaupun pada orang tua sendiri. Abah Djamal selalu mencontohkan tidak meminta-minta walaupun kepada anaknya sendiri. Padahal orang tua meminta kepada anak adalah sesuatu yang lumrah.
Satu ketika waktu Rojabiyah beliau tidur di ndalem Al-Muhibin. Malam-malam beliau kedinginan. Tapi tidak meminta selimut. Waktu pagi saya lihat beliau sendekap kedinginan. Saya tanya, "Kok boten nyuwun selimut Abah?". Beliau hanya diam padahal hanya meminjam selimut kepada anaknya sendiri. Hal ini saking menjaga diri agar tidak tamak dengan harta orang lain. Dan meminta-minta.
Santri-santri harus belajar agar tidak minta-minta kepada temannya. Kalau pingin cukup dilirik saja. Nanti kalau temannya loman pasti diberi. Kalau belum kuat ya mendekat tidak apa-apa. Tapi jangan minta. Kok masih tidak kuat. Tanya saja. Itu apa?. Enak atau tidak?. Tapi jangan minta. Belajar juga jangan minta kepada orang tua. Tapi kan harus bayar sekolah?. Dan dapat surat tagihan!. Caranya cerita saja ke ibu ini dapat surat dari bendahara tanggal sekian harus bayar Bu. Yang demikian adalah tidak minta tapi cerita. Apakah ada bedanya?. Bedanya sangat jauh. Karena orang yang minta hatinya akan selalu mengecap minta-minta. Jadi caranya adalah cerita saja kepada orang tua. Misal kehilangan sandal. Tapi tidak punya uang. Tanpa minta kepada orang tua. Orang tua yang berakal pasti akan memberi.
Abah dan Ibu Churriyah mengajari agar tidak minta. Akhirnya saya tidak minta. Maksimal hanya cerita. Misal ada akahirus sanah. Butuh sepatu dan jas. Tidak usah minta. Ceritakan saja kebutuhnya kepada orang tua. Kalau dibiasakan minta kepada orang tua. Kalimat pertama yang keluar adalah "Bu minta uang". Lama-lama terbiasa minta dan lama kelamaan akan terbiasa minta kepada orang lain. Dibiasakan jangan minta walaupun kepada orang tua sendiri agar tidak tamak. Seperti yang didawuhkan Kiai Shodiq kepada Abah, "Djamal nek dadi kiai kudu due usaha walaupun kecil-kecilan". Karena kalau tidak punya usaha mudah thamak. Oleh karena itu dibelajari usaha. Dan dibiasakan tidak minta-minta. Kalau kepingin sesuatu maka menabung.

4. Ia tidak terganggu dalam ibadah lahir dan dapat memelihara kondisi batinya.
Karena usaha dan bekerja akhirnya ibadah lahirnya tidak terganggu. Sholatnya tidak terganggu. Ngaji nya tidak terganggu. Hati terjaga dengan tetap tawakal dan tawadlu. Orang yang berada di maqam sabab seperti ini, kemudian dia ingin berpindah ke maqam tajrid. Hal itu disebut dengan syahwat khofiyaah. Kenapa disebut syahwat?. Karena tidak taat pada penempatan Allah kepadanya yaitu pada maqam sabab. Jika Allah menempatkan di maqam itu harusnya dia taat. Kenapa disebut khofiyyah?. Karena yang dia harapkan dalam maqam tajrid adalah dzohirnya ahli ibadah, tidak bekerja dan segalanya kebutuhan ada. Akan tetapi dalam batinya ingin disebut wali. Dalam hatinya ingin disebut orang yang sakti dan hebat secara ruhani. Oleh karena itu dinamakan syahwat Khofiyah. Contoh Maqam tajrid pada masa nabi adalah Para sahabat Ashabus Shufah yaitu orang yang tinggal di serambi Masjid Madinah. Mereja jumlahnya ada 70 orang. Dalam riwayat lain 80 orang.
Mereka tidak bekerja. Setiap hari iktikaf. Diantara Mereka adalah Abu Hurairah dan Abu Dzar al-Ghifari. Andaikan Abu Hurairah bukan Ahli shufah maka riwayat hadis nabi tidak akan lengkap. Karena riwayat agama islam sepertiganya adalah dari Abu Hurairah. Beliau pernah menanggapi kalangan Tabiin yang protes kenapa dalm hadist banyak riwayat Abu Hurairah?. Lalu dimana hadist-hadist riwayat Abu Bakar dan Umar atau para pembesar sahabat?. Abu Hurairah menjawab, "Aku adalah orang yang selalu dekat dengan nabi. Dan tempatku menampel dengan rumah tempat tinggal nabi, Sehingga akulah yang banyak meriwayatkan hadist nabi".

Nabi setiap selesai sholat ngaji. Setiap perkataan beliau adalah ilmu. Apalagi Abu Hurairah adalah sahabat yang diijazahi nabi. Satu ketika Abu Hurairah mengeluh kepada nabi karena tidak bisa hafal hadist-hadist nabi. "Ya Rasulullah Kenapa aku susah mengingat hadist-hadist mu?". Nabi kemudian berkata, "Abu Hurairah, ketika aku ngaji jembarkanlah sajadahmu, dan setelah aku selesai ngaji sajadahmu tutupkan ke dadamu seolah olah kamu memasukan ilmu". Sejak saat itu Abu Hurairah tidak pernah melupakan satu huruf pun dari hadist nabi. Selain faktor lain yaitu didoakan nabi.
Selain itu ada sebab lain yang menjadikan riwayat yang banyak dari Abu Hurairah karena sahabat pembesar lain telah repot. Abu bakar masih di pasar. Umar masih di pasar. Usman dan Ali juga. Sedangkan Abu Hurairah mengaji dengan Rasulullah. Pernah abu Hurairah shalat sampai jelungup terjatuh. Orang-orang berkata, "Abu Hurairah Gendeng".
Padahal itu karena Abu Hurairah sedang kelaparan. Lalu makanya Ashabu Shufah bagaimana?. Mereka diberi oleh para sahabat yang bekarja. Ketika mereka akan sholat ke masjid mereka membawakan buka untuk Ashabu Shufah di Masjid Madinah. Sampai sekarang di Masjid Nabawi disedikan buka. Hal itu sudah ada sejak zaman nabi. Kadang ada sahabat nabi yang selametan dan mengundang nabi. Berkatnya hanya sedikit. Tapi nabi membawa seluruh santrinya yaitu ashabus shufah. Isteri yang punya rumah ngomel karena makanan hanya cukup untuk beberapa orang saja.
Tuan rumah matur. Oleh nabi disuruh agar tidak membuka dandang nasinya. Akhirnya 70 orang makan semua. Kenyang semua. Yang di rumah juga ikut makan. Dan nabi yang mengambilkan nasinya. Bahkan ketika ditinggal oleh mereka keadaan nasi seperti tidak berkurang sama sekali.
Dalam Hidayatul Atqiya diperinci apabila ada orang sudah berumah tangga, dia tidak boleh pada maqam tajrid. Walaupun memang ada yang berumah tangga ditempatkan Allah pada maqam tajrid. Tapi secara umum tidak boleh. Orang yang masih makam sabab meloncat ke maqam tajrid akibatnya adalah ketika benar benar tidak ada dan tidak mampu, maka dia akan thamak dan minta-minta kepada orang lain. Oleh karena bekerja lebih terhormat.
Fadilah orang bekerja sangat besar. Bahkan dalam satu hadist dijelaskan bahwa ada dosa yang dosa itu tidak bisa dihapus dengan sholat, puasa dan zakat dan hanya bisa dihapus dengan kesulitan dan kepayahan mencari maisyah untuk anak dan isteri.
Kepayahan mencari ekonomi adalah bagian dari amal pelebur dosa. Ada seorang yang dijumpai nabi setelah perang tabuk. Orang itu tanganya kasar sekali. Sehingga nabi bertanya "Kerja apa Pak, kok tangannya kasar?". Dia menjawab sebagai tukang pemecah batu hasilnya untuk menghidupi anak isteri. Nabi kemudian berkata bahwa, "Tangan ini tidak akan tersentuh api neraka".
Tentang maqam tajrid, Abah pernah cerita bahwa satu metika Mbah Dlowi Lasem ketika akan mantu. Belum siap-siap apapun. Kurang satu minggu bu nyai bingung karena belum dikasih uang.
Kemudian matur ke Mbah Dlowi. Beliau dawuh. "Bukalah bawah karpet". Ternyata di bawah karpet uang banyak dan masih baru-baru.
Hal yang serupa juga tentang cerita Kiai Djalil menjelang Haul. Ketika panter sudah dijual untuk Haul dan masih kurang. Di pintu rumah ada uang kresekan. Bu Nyai diutus membuka oleh Yai Djalil. Ketika dibuka ternyata uang dan masih baru-baru.

(أَيْ وَعَلَامَةُ ذَلِكَ) بِأَنْ يَسَّرَ لَكَ القُوْتَ مِنْ حَيْثُ لَا تَحْتَسِبُ وَجَعَلَ نَفْسَكَ مُطْمَئِنَّةً عِنْدَ تَعَذُّرِهِ مُتَعَلِّقَةً بِمَوْلَاهَا وَدُمْتَ عَلَى الإِشْتِغَالِ بِوَظَائِفِ العِبَادَاتِ

Tanda-tanda Orang Pada Tingkatan tajrid adalah:
1- Dipermudah mendapat kebutuhan hidup dari arah yang tak terduga. Tidak kerja tapi yang dibutuhkan datang sendiri. Selalu ada dan datang. Ini adalah tanda ditempatkan di makam tajrid.
Abah ketika ngaji hikmah ini, beliau cerita bahwa beliau juga di maqam kasab. Tapi sebenarnya itu bukanlah maqam kasab tapi maqam tajrid. Karena yang beliau ceritakan adalah masa ketika beliau jualan kerupuk. Sedangkan masa itu telah jauh dari masa ketika beliau ngaji hikmah ini. Ketika anaknya sudah besar-besar santrinya diberikan kepada anak-anaknya. Beliau tidak punya santri dan pindah ke Sambong. Saat itu beliau juga cerita kalau punya sawah tapi di Nganjuk. Tapi sawahnya tidak pernah digunakan oleh Abah. Hasil sawahnya murni untuk haul Mbah Ahmad.
Hal itu saking tawadluknya sampai beliau mengaku maqam kasab padahal beliau maqam tajrid. Beliau toko tidak punya. Dulu punya tapi ketika sudah pindah ditinggal diberikan anak-anaknya. Beliau tidak bekerja. Tapi oleh Allah diberikan kebutuhan hidupnya tanpa harus bekerja. Itulah maqam tajrid. Orang yang berada di maqam tajrid menyakini bahwa Rezeki memang langsung dari Allah tanpa perantara. Orang tajrid sangat kuat dalam meyakini ayat :

وَفِى ٱلسَّمَآءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ() فَوَرَبِّ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ اِنَّهٗ لَحَقٌّ مِّثْلَ مَآ اَنَّكُمْ تَنْطِقُوْنَ

Artinya: Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu (22) Maka demi Tuhan langit dan bumi, sungguh, apa yang dijanjikan itu pasti terjadi seperti apa yang kamu ucapkan (23)
Ayat ini memiliki banyak makna diantaranya adalah rezeki memang ada di langit yang artinya sabab rezeki ada di langit yang berupa air. Karena air adalah sumber kehidupan. Juga yang berpendapat bahwa ketentuan Allah tentang rezeki ada di langit yaitu di lauhul mahfudz. Tapi ada orang maqam tajrid yang memaknai bahwa rezeki harus dari langit. Jika tidak maka bukan rezeki. Satu ketika dia mimpi. Bahwa di daerah sana. Terdapat pohon yang dibawahnya ada peti dan di dalam peti itu ada emas perhiasan serta harta karun yang banyak. Mimpi itu dicerikatan isterinya dan isterinya mengajak untuk mengambil. Tapi dia tidak mau karena di dalam tanah. Rezeki itu dari atas dan dari langit. Tidak dari bawah tanah.
Kedua mimpi lagi dengan mimpi yang sama. Diceritakan isterinya tapi tidak didatangi. Sampai tiga kali. Dan cerita isterinya lagi. Isterinya jengkel dan marah lalu cerita ke tetangganya. Dibodoh-bodohkan lah Si Tajrid ini. Apalagi alasanya yang mengatakan rezeki harus dari langit. Akhirnya suami dari tetangga itulah yang mengambil peti itu sesuai isyarat mimpi. Ketika diambil, dibawa pulang dan dibuka ternyata isinya ular besar yang melingkar. Tetangganya marah dan ingin membalas perbuatan si Tajrid dengan melempar peti itu ke genteng dari arah atas agar dikira rezeki dari langit.
Malamnya dilemparkanlah peti itu. Si Tajrid bangun dan menganggap itulah rezeki. Isterinya dibangunkan. Dan diberi tahu kalau itu adalah rezeki yang datang dari langit. Ketika dibuka ternyata isinya adalah perhiasan yang sesungguhnya. Orang tajrid diberi kemudahan memperoleh kebutuhan hidup dari arah yang tidak terduga.
2- Jiwanya tetap tenang ketika mendapat kesulitan dalam memperoleh kebutuhan hidupnya dan dia selalu bergantung kepada Allah SWT.
Rezeki ada kalanya berlimpah ada kalanya seret. Orang tajrid ketika melimpah tidak bungah. Ketika seret pun tidak susah. Tidak menganggu hati, dia tetap ridla dan tawakal kepada Allah. Hatinya tidak terpengaruh sama sekali.
3- Seluruh waktunya untuk beribadah kepada Allah SWT
Dalam kifayatul Athqiya dijelaskan pembagian waktu orang tajrid bahwa pagi waktu subuh sholat setelah itu wiridan dan baca Alquran. Kemudian sholat isra. Lalu sholat dhuha. Baca Alquran lagi. Dan sholat sunah lagi. Ketika ada yang diamankan maka makan. Lalu sholat duhur kemudian wiridan. Sholat lagi. Kalau bosen kemudian dzikir baik dzhohir maupun batin. Baca Alquran. Dan hal yang semacam ini dilakukan sampai 24 jam. Seperti Abu Dzar yang semua waktunya untuk ibadah. Hanya iktikaf di masjid sepanjang hari sepanjang malam. Kecuali ada panggilan jihad. Atau diajak nabi. Atau kalau punya hajat. Orang yang sudah di tempatkan di maqam tajrid. Jangan kembali ke maqam kasab karena hal itu adalah kemunduran. Akan tetapi kalau kita di maqam kasab ada dua tatakramannya yaitu:
1- Orang yang masih dalam makam sabab harus wirai.
Orang yang ingin wushul pada maqam sabab dia harus wirai yaitu menjauhkan diri dari yang haram. Kalau bisa menjauhkan diri dari yang subhat. Abu Hanifah adalah seorang pedagang pakaian. Punya mitra bisnis di Basrah. Satu ketika beliau mengirim satu peti pakaian dengan 70 jumlah. Yang 69 dalam keadaan baik yang 1 ada cacatnya. Di dalam kotak kiriman diberi tulisan atau surat tolong nanti dijelaskan kalau jumlahnya 70 yang 69 baik tapi yang 1 jelek.
Ternyata terjual semua. Mitranya setoran uang kepada Abu Hanifah dengan 3000 dirham. Abu Hanifah tanya, apakah isi surat disampaikan ke pembeli. Ternyata mitra bisnisnya lupa. Akhirnya uang 3000 dirham itu dikembalikan Abu Hanifah dan diberikan kepada fakir miskin. Walaupun tidak se ekstim itu setidak nya kita tidak menutupi cacat dari barang yang kita jual. Misal jual mobil cacatnya apa diterangkan. Tidak apa-apa tidak terjual mahal. Tapi barokah. Jangan ditutup-tutupi. Sudah pernah keserempet didempul dan ditutup lalu tidak diterangkan. Diberi keterangan original. Lahirnya terjual mahal tapi tidak barokah. Di dalam jualan yang terpenting adalah kejujuran. Jangan dilihat nominalnya tapi lihatlah keberkahannya. Berkah berati bertambah-tambah. Kalau tidak barokah akan mudah habis.
2- Harus Dermawan
Seorag murid yang berada pada maqam sabab maka harus dermawan. Orang yang dermawan dekat dengan Allah dekat dengan surga jauh dari neraka. Sedangkan orang yang bakhil dekat neraka jauh dari Allah. Nabi dawuh: Dermawan adalah pohon yang berada di surga tapi rantingnya menjulur ke dunia. Orang yang berpegang dengannya akan masuk ke surga. Sebaliknya pelit adalah pohon yang tertanam di neraka. Cabangnya menjulur ke dunia. Orang yang berpegang padanya akan masuk neraka.
Nabi ketika thowaf melihat ada seorang yang bersungguh-sungguh dalam berdoa dengan menangis. Ditanya oleh Nabi, "Dosamu apa?". Dia menjawab, "Dosaku sangat besar ya Rasulullah". Nabi menanyakan, besarnya mana antara dosanya dengan gunung, langit, dan ars. Dia menjawab, "Besar dosaku Ya Rasulullah". Nabi kemudian bertanya, "Kalau dengan pengmpunan Allah besar mana?". Dia menjawab, "Besar pengampunan Allah Ya Rasulullah!". Nabi memerintagkan, "Terangkanlah?". Kemudian orang itu bercerita bahwa dia adalah orang kaya tapi apabila ada orang yang meminta-minta kepadanya, wajahnya seolah-olah "diselomoot api".
Mendengar itu Nabi sampai berkata, "Pergilah kamu, jangan sampai apinu mengeanaiku". Mengapa Rasulullah sampai berkata seperti itu?. Karena balasan orang pelit adalah neraka. Oleh karena itu dermawan harus dilatih. Dan dipelajari. Apabila ada umplung berjalan. Berikanlah dari yang sedikit. Mulai dari seribu. Istiqomah. Kemudian naik jadi 2 ribu. Istiqomah naik jadi 4 ribu. Sampai ketika memberi 100 ribu tidak terasa.


- Disarikan dari Pengajian Al-Hikam Setiap Malam Selasa di Bumi Damai Al-Muhibin oleh KH. Mohammad Idris Djamaluddin, 5 Juni 2023

Posting Komentar untuk "Ngaji Hikam : Hikmah Ke-2"