Ngaji Hikam Bab Mahabah (1)

Orang-orang yang berjalan menuju Allah di sebut Salikun dan Sai'run. Sa'irun adalah sebutan untuk orang yang masih berjalan. Sedangkan Salikun adalah istilah untuk orang yang sedang suluk menuju Allah. Sebelum pembahasan ini telah diterangkan tentang tahapan-tahapan menuju Allah seperti yang  ditulis Imam Ghazali di dalam Ikhya' Ulumuddin yaitu : (1) Maqam Taubat, (2) Maqam Al-Takwa, (3) Maqam Qanaah, (4) Maqam Al-Wara', (5)Maqam at- Tawakal, (6) Maqam As-Shabru, (7) Maqam Zuhud, dan (8) Maqam terakhir bagi Sa'irin yaitu maqam Mahabah.

Maqam Mahabah adalah  gerbang menuju kepada Hadratul Illahi atau kawasan-kawasan Allah.  Kawasan yang tidak bisa dilihat mata, atau Hadrah Maknawiyah. Kalau digambarkan perjalan para Sairun dan Salikun diibaratkan orang Jombang yang akan pergi ke Surabaya. Pertama mereka akan melewati (1) Jombang, (2) Peterongan, (3) Mojoagung, (4) Mojokerto, (5) Krian, (6) Sepanjang Sidoarjo, (7) Wonokeromo, dan sampai pada yang Ke-8 yaitu  masuk pintu gerbang Surabaya yang diibaratkan sebagai maqam "al-Mahabah". Dan masuklah kita ke kawasan Surabaya yang diibaratkan sebagai Hadrah al-Hisiyah, kawasan yang bisa dilihat Allah. Tapi kalau Hadratillah tidak bisa dilihat namanya Hadrah al-Maknawiyah. Maqam Mahabah adalah tahapan yang sudah sampai pada gerbang syahadah kepada Allah SWT.

Di dalam kitab Ikhyak Ulumuddin Juz 4, halaman 240 dan halaman 311 sampai 313 Bab al-Mahabah wa Syauq wa Ridla. Nabi bersabda agar kita memiliki mahabah kepada Allah. Arti dari hadist tersebut : "Cintailah Allah, karena Dia lah yang telah menumpahkan kepadamu kenikmatan-kenikmatannya. Dan cintailah aku (Muhammad), karena Allah cinta kepadaku”.

Nabi memperintahkan kepada kita agar cinta kepada Allah. Kenapa kita harus mencintai Allah?. Karena Allah sudah memberikan kepada kita kenikmatan-kenikmatan. Baik kenikmatan lahir maupun kenikmatan batin. Baik kenikmatan dunia jiga kenikmatan akhirat. Diantara kenikmatan-kenikmatan tersebut adalah :

1. Nikmatul Ijad : kenikmatan karena kita telah diwujudkan Allah. Kita asalnya tidak ada, kemudian dijadikan Allah menjadi ada.

2. Nikmatul Imdad: Setelah kita diciptakan oleh Allah kemudian Dia memberi kenikmatan kepada kita berupa pertolongan untuk kelestarian hidup. Kita tidak bisa hidup tanpa makan, Allah menyiapkan bahan-bahan makanan. Kita tidak bisa hidup tanpa minum, Allah menyiapkan air untuk segala minuman. Menciptakan kopi, cokelat, jahe teh dan lain sebagainya. Kita juga tidak bisa hidup tanpa pelindung, kita butuh berlindung dari matahari, dari bahaya angin, dan bahaya binatang buas. Maka Allah memberi bahan untuk rumah.

Nikmat Allah tidak bisa dihitung. Karena itulah kita harus mencintai Allah, disamping itu kita harus mencintai Nabi Muhammad. Karena nabi adalah wasilah menuju Allah dan Nabi Muhammad adalah makhluq yang dicintai Allah. Perantara antara cinta kita dengan Allah harus melewati Rasulillah. Maka jika kita mencintai Nabi Muhammad berarti kita mencintai Allah. Barangsiapa yang taat kepada Nabi Muhammad berarti taat kepada Allah. Serta berangsiapa yang durhaka kepada Nabi Muhammad berarti durhaka kepada Allah.

Mahabah adalah hanya mencintai Allah dan tidak mencintai yang lain yang berupa makhluk apapun. Tidak mencintai surga, tidak suka bidadari, tidak suka pangkat dunia, tidak cinta harta dunia, sampai harga diri juga tidak suka. Ada seorang wali namanya Makruf al-Karkhi (W. 200 H), Guru dari Syekh Siri al-Sibty (W. 251 H), Syekh Siri al-Sibty, Guru dari Syekh Abu Qasim al-Junaidi al-Bagdadi (W. 297 H).

Makruf al-Karkhi ketika akan naik di dalam maqam mahabah diuji oleh Allah dengan berbagai macam ujian. Pertama diuji dengan nama baik dirinya. Sehingga masyarakat menganggap Syekh Makruf al-Karkhi orang shaleh. Hal ini sudah tersebar bahwa Makruf Al-Karkhi adalah orang shaleh. Beliau tidak suka. berbeda dengan kita kalau dianggap orang baik malah suka. Kalau dipaido jadi orang jelek tidak suka. Syekh Makruf tidak suka dianggap orang baik. Dan lebih suka jika beliau dianggap orang buruk oleh masyarakat. Akhirnya Beliau merekayasa bagaimana agar dianggap oleh masyarakatnya sebagai orang jahat. Padahal hakikatnya beliau orang shaleh. Berbeda dengan orang sekarang yang ingin dianggap sebagai orang shaleh dengan berdandan dengan sorban dan tasbih yang besar-besar.

Pada satu ketika Syekh Makruf al-Karkhi merekayasa dirinya menjadi pencuri. Beliau masuk di ruang ganti busana tempat pemandian. Orang yang mandi melepas baju-baju yang bagus di ruangan tersebut. Makruf al-Karkhi masuk, pakaian-pakaian yang bagus-bagus digunakan sementara pakaiannya sendiri ditinggal. Kemudian beliau lari, tapi bagaimana caranya masyarakat bisa melihat supaya dianggap pencuri. Ini karena beliau bukan mencuri tapi pura-pura menjadi pencuri. Sehingga memakai gaya pencuri.

Ketika beliau keluar dari ruangan dengan berlari. Warga yang melihat berteriak maling. Dikejar orang banyak. Dipukuli, sampai kepalanya berdarah, mukanya luka-luka. Sampai sudah sembuh wajahnya masih ada bekas-bekas luka. Mulai dari peristiwa itu warga memanggil beliau dengan julukan "Hadza lisuli al-khamam" artinya "Ini Pencuri Pemandian". Beliau pun bersyukur, Alhamdulillah. Karena berhasil menutup kebaikan dirinya. Padahal beliau aslinya adalah walinya Allah, orang shaleh, tapi warga memanggilnya pencuri pemandian. Tidak bisa orang masuk mahabahtillah kalau masih cinta dengan harga diri. Makanya Makruf al-Karkhi membuat rekayasa agar dirinya disebut orang jahat.

Setelah itu Makruf Al-Karkhi diuji Allah masih suka apa tidak jika dihormati oleh orang. Suatu ketika tetangganya punya gawe. Makruf al-Karkhi diundang dan yang mengundang adalah anaknya, dengan berkata, "Pak Makruf Jenengan diundang Bapak, ini Bapak akan punya acara". Makruf menjawab, "Ya, InsyaAllah aku datang". Ketika Makruf al-Karkhi datang dan bertemu yang punya khajat, ditanya oleh yang punya rumah, "Pak Makruf ada apa kok kesini?". Makruf menjawab, "Katanya saya diundang?”. Yang punya khajat berkata, "Kata siapa?". Makruf menjawab "Kata putramu". Kemudian yang punya rumah berkata "Mboten, saya tidak mengundang Jenengan, saya memang punya khajat dan tetangga-tetangga saya undang tapi Jenengan tidak saya undang, Pun Sampean balik mawon". Andaikan kita diperlakukan seperti itu bagaimana ya?.

Kemudian Makruf al-Karkhi kembali ke rumah. Sampai di rumah anak yang punya gawe datang lagi ke rumah untuk yang kedua. Mengundang lagi. Kemudian datang lagi. Bertemu dengan yang punya lagi. Ditanya oleh yang punya rumah, "Pak Makruf kok kesini lagi?". Makruf menjawab, "Kata putra Anda saya diundang". Yang punya khajat menjawab "Mboten, Kulo mboten ngundang, yang saya undang tetangga, Sampean tidak, Sampean pulang saja.". Hal yang seperti itu terjadi sampai 4 kali. Sampai 4 kali Syekh Makruf tetap datang. Akhirnya yang punya gawe tanya kepada Syekh Makruf, "Syekh Makruf jenengan saya undang, saya usir, saya undang saya usir, sampai 4 x kok tidak malu?. Kok masih datang saja!". Syekh Makruf menjawab, "Tidak, Aku tidak malu, aku ini kirek, jadi saya ini seperti anjing, anjing itu kalau diiming-iming daging pasti datang, setelah dekat pentunglah dengan tongkat pasti lari, setelah itu iming-iming lagi dengan daging datang lagi, itu anjing. Jadi saya seperti anjing itu tadi".

Kemudian Makruf al-Karkhi diuji oleh Allah dilihatkan dengan bidadari. Jadi kalau orang masih suka Bidadari belum sampai mahabah Illa Allah. Makruf al-Karkhi dilihatkan Bidadari 40 terbang. Kemudian didawuhi lewat "hatif" liatlah makruf ada 40 bidadari. Tapi saat Makruf melihat bidadari drajatnya jatuh mlorot. Untuk kembali naik itu berat. Jadi ujian mahabah sampai pada ditampakkan bidadari.

Kita katanya cinta Allah. Ngaji katanya cinta Allah, shalat jamaah katanya cinta Allah. Tapi pada hakikatnya sebenarnya belum cinta Allah. Tapi karena suka dengan pahalanya. Kita belum sampai cinta Allah. Masih minta Surga. Ketika Makruf al-Karkhi sampai lagi di derajat Mahabah. Tapi belum sempurna. Kemudian dilihatkan lagi bidadri 80. Diawuhi lagi lewat hatif, "Makruf itu bidadari lihatlah". Kemudain beliau menjawab, "Mboten". Beliau diuji bidadari 80 sudah tidak tertarik. Itulah ujian orang yang sampai Mahabatillah.

Di dalam kitab Ummul Barahin diceritakan seorang yang bernama Syekh Makinuddin al Asmar. Ketika mau naik ke maqam mahabatillah, Beliau diuji oleh Allah dengan bidadari. Saat wiridan tiba-tiba bidadari turun dari surga dan meminta dipangku di paha sebelah kiri. Kemudian keduanya ngobrol. “Kamu siapa?”. Tanya Syekh Makinuddin. Dijawab, "Aku adalah Bidadari Khaura' Syekh makin”. Ditanya kembali, "Tempatmu dimana?”. Bidadari menjawab, "Di surga". Syekh Makin bertanya lagi, "Kamu sudah bersuami?". Bidadari menjawab, "belum". Syekh Makin bertanya,  "Kalau tak lamar mau?". Bidadari menjawab, "Mau Ya Syekh". Syekh Makin kemudian bertanya, "Mas Kawinya apa?”. Bidadari menjawab,"Shalatul Lail". Syekh Makin "Tak lamar mau?". Bidadari "mau". Syekh Makin "mas kawinnya apa?". Bidadari "Shalatul lail". Kemudian Syekh Makin menyuruh bidadari itu kembali ke surga. Beliau mengerti bahwa itu ujian dari Allah.

Hati Syekh Makinuddin tidak terpengaruh sama sekali. Beliau memang dianugrahi Allah derajat mahabatillah. Tapi walaupun hati dan jiwanya tidak terpengaruh. Tapi fisiknya terpengaruh. Bidadari itu ketika bicara dengan Syekh Makinuddin suaranya merdu, aromanya harum. Itu mempengaruhi fisiknya. Terbukti ketika beliau ngobrol dengan istrinya yang bau mulutnya lain, aromanya beda, suaranya beda. Ketika bicara dengan istrinya, saking tidak enaknya bau mulut, aroma dan suara istrinya karena telah berbicara dengan bidadari, Syek Makin muntah-muntah sampai 2 bulan. Ini juga bentuk ujian sebelum sampai ke maqam mahabatillah.

Di dalam kitab "Ruhul Yakin wa Rukyah fi Rabbil Alamin" ditulis Syekh Wa'il Muhammad Romadhan Abu Aibah ar Rifai. Dan Saya Salin dalam halaman 126 dakam kitab Syiir Jawi. Orang kalau mahabah kepada Allah itu kalau melihat apa-apa yang diingat Allah. Melihat hewan ingat dan cinta Allah. Lihat tumbuhan, ingat-cinta Allah, melihat pantai ingat Allah-cinta Allah. Sampai pun ketika masak, membuat bumbu melihat lombok merah yang diingat dan dicintai adalah Allah. Mereka tidak pernah lupa kepada Allah. Sampai dalam impian pun mimpinya adalah Allah. Allah kalau mahabah mimpinya adalah Allah, karena Syauk rindu kepada Allah.

Al-Imam al-Rabbani, al-Alamah, al-Wali Muhammad bin Ali al-Hakim at-Turmudzi. Kalau anda baca Hadist Rowahu Turmudzi, itu muhadist yang hebat. Nama panjangnya Muhammad bin Ali al-Hakim at-Turmudzi, beliau dawuh, saking mahabahnya kepada Allah, yaitu mahabah kepada Allah yang dipicu dari mahabah dari hadist-hadist nabi, mengumpulkan-mengumpulkan hadist nabi, kemudian timbulah mahabah nabi, kemudian mahabah Allah. Karena nabi adalah perantara. Kemudian karena mahabah Allah, melihat apa-apa yang dilihat adalah Allah, sampai bermimpi selama hidupnya 1001 kali mimpi Allah.

Kita mimpi bertemu Kiai saja jarang. Apalagi mimpi bertemu Sunan Bonang nggak pernah sama sekali, mimpi bertemu Sunan Ampel tidak pernah sama sekali, Apalagi bertemu Kanjeng Nabi. Lah ini Imam At Turmudzi kok bisa bertemu Allah 1001 kali. Itu hebat, nama panjangnya Al-Imam al-Rabbani al Alamah al Wali Muhammad bin Ali al Hakim al-Turmudzi.

Imam al Robbani Qutbul at tab, Sayid Ahmad al-Rifai Abi al ilmaini. Imam al-Rabbani, disebut Qulbul at-Tab atau kutubnya kutub. Disebut juga Al-Ilmaini, bapaknya dua Ilmu, yaitu ilmu fikih dan ilmu tasawuf. Karena telah memadukan Ilmu syariat dan imu tasawuf, maka berarti beliau sudah bergelar Ahli Tahqiq (seperti yang didawuhkan oleh Imam Malik). Beliau Imam al-Rifai dawuh, sungguh aku bermimpi bertemu Allah di dalam mimpi 114 kali. Berarti masih di bawah Imam At Turmudzi.

Imam al Wara' Ahmad Ibnu Hambal, Shahibul Madzhab al-Hambali, Ahmad Ibnu Hambal, kalau ada orang membaca hadist rowahu Ahmad. Itu berarti Ahmad Ibnu Hambal. Beliau adalah Muhadist. Orang dapat gelar Muhadist itu harus hafal 1 juta Hadist, Hafal matanya, hafal rowi-rowinya, hafal sifat-sifat Rowi, dan hafal sanadnya. Jadi Imam Ahmad Ibnu Hambal termasuk Muhadist, Beliau mengaku bertemu Allah 99 kali.

Al Imam Al-Amah Al Alusi, yang punya kitab tafsir Ruhul Maani. Beliau mengaku bertemu Allah hanya 3 kali. Kalau di rangking yang paling banyak bertemu Allah di dalam mimpi seperti yang di tulis dalam "Ruhul Yakin wa Rukyah fi Rabbil Alamin" adalah Imam At Turmudzi. Jadi orang kalau mencintai Allah itu mimpinya adalah mimpi bertemu Allah.

Orang yang mengaku mencintai Allah itu banyak. Syekh Junaid al-Bagdadi, julukannya Abu Al-Qasyim al-Jubaid al-Bagdadi (W. 297 H) masih pada abad ke-3. Punya guru namanya Syekh Siri al-Sibti (W. 251 H). Syekh Junaid bercerita bahwa suatu malam beliau tidur di samping Syekh al-Sibti RA, ini dua orang murid dan guru yang berdekatan. Ketika itu Syekh Junaid berguru kepada Syekh Siri al-Sibti bersama dengan 2 orang lain yaitu Ibrahim Al Khawas (W 291 H) dan Husain al nawuri (W. 295 H).

Suatu malam Syekh Junaid dan Syekh Siri al-Sibti baru saja melakukan shalatul lail. Syekh Junaid tidur dan Syekh Sirri tidur. Kemudian aku dibangunkan beliau Syekh Siri al-Sibti dan beliau dawuh, “Ya Junaid, aku baru saja bermimpi bertemu Rabby. Seolah-olah aku "sebo" di depan Tuhanku. Allah dawuh, Hai Sirri, aku membuat makhluk, Manusia, mereka semua mengakui mencintai kepadaku. Kemudian aku uji cinta mereka, aku membuat dunia. Kalau aku membuat dunia apakah mereka tetap mencintai aku?. Setelah aku membuat dunia, makhlukku mengetahui dunia, kemudian mereka lari mencintai dunia, padahal katanya mereka cinta Aku, tapi lari dariku jumlahnya 90% dari keseluruhan. Yang tersisa hanya 10 %. Kemudian Aku menciptakan surga, ternyata dari 10% tadi lari lagi 90% nya. Kemudian Aku membuat neraka, mereka lari lagi 90 % nya karena mencintai selamat dari neraka. Kemudian aku membuat ujian-ujian sepeti kesulitan, penyakit, dan musibah, lari lagi mereka 90% nya”.

Pernyataan Syekh Sirri tersebut jika dibuat contoh seperti hitungan 100.000, (makhluk Allah jumlanya ribuan milyar). Berarti yang lari karena Allah menciptakan dunia jumlahnya 90.000 (90% dari 100.000) sisa 10.000. Kemudian Allah menciptakan surga. Lari lagi beralih mencintai surga 90 % nya yaitu 9.000 sisa 1.000. Kemudian Allah mencipatakan cobaan berupa keselamatan dari api neraka, lalu lari 90% nya berarti 900 sisa 100. Lalu aku membaut ujian berupa kesulitan dan lari lagi 90% nya yaitu 90 karena cinta selamat dari ujian kesulitan. Tersisa hanya 10. Jumlah Ini apabila menggunakan contoh jumlah keseluruhan manusia adalah 100.000.

Kemudian aku (Allah) bertanya kepada yang tersisa, “Waha Manusia Kamu tidak mengharap dunia, surga, selamat neraka, dan tidak lari dari cobaan, sekarang yang kamu harapkan apa?”. Mereka menjawab "Ya Allah, Jenengan pasti mengtahui apa yang kami inginkan". Lalu aku bertanya, "Apabila kamu memang mencintai aku, maka aku akan mengujimu dengan ujian sebanyak nafasmu, yang gunung-gunung kokoh tidak akan sanggup apa kamu sekalian sabar menerima ujianku?”. Kemudian oramg pilihan yang tersisa menjawab, "Apabila Engkau mau menguji kami, maka sak kerso Panjenengan". Lalu Allah dawuh, "Mereka itulah hambaku yang sesungguhnya". Ini bisa dijadikan ukuran. Bahwa rata-rata orang beribadah karena surga, ingin selamat neraka, lari dari ujian-ujian Allah. Ini terkadang pun tidak kuat karena terpengaruh oleh dunia.

Ada wali yang matur kepada Allah. Ya Rabby orang suka surga karena di sana memang tempatnya kenikmatan. Tapi Aku juga suka dengan surga. Dan bukan karena semua kenikmatan itu. Melainkan karena disana aku bisa bertemu Engkau. Sesuai dengan janji Allah. Wajah-wajah orang Mukmin di hari kiamat bersinar, "illa rabiha nadzirah" memandang kepada tuhan mereka. Ini berarti ingin surga bukan karena kenikmatannya tapi karena Allah.

Diperkuat lagi oleh hadist Nabi kamu sekalian akan memadang Allah seperti memandang bulan purnama. Artinya adalah terlihat jelas. Bukan Allah bulat seperti rembulan. Jadi Para Auliya' Allah itu juga suka surga. Tapi bukan karena kenikmatan, melainkan karena di surga akan memandang Allah.  Maka nabi berdoa, yang diajarkan kepada kita:

اللهم ارزقني حبك وحب من احبك وحب ما يقربني الى حبك واجعل حبك احب الي من الماء البارد

Artinya : Wahai Allah, berilah aku bisa mencintai kamu, dan mencintai seseorang yang mencintai kamu, dan mencintai sesuatu yang dapat mendekatkan kepada cinta kepadamu, jadikanlah cintaku kepadamu lebih aku cintai dari air yang dingin.

Ada seorang 'Aroby yang datang dan bertanya kepada Rasulluah, “Kapan kiamat?”. Nabi balik bertanya, "Apa yang engkau persiapkan untuk menghadapai kiamat?”. Kemudian Aroby menjawab, "Aku tidak mempersiapkan dengan banyaknya shalatku dan tidak mempersiapkan dengan banyaknya puasaku, akan tetapi sungguh aku mencintai Allah dan mencintai Rasullnya".

Jadi mahabah itu lebih bisa diharapkan. Kenapa?. Karena shalat dan puasa itu adalah amalan lahir, sedangkan amalan lahir banyak penyakit. Penyakit riyak, ujub, takabur, hubbudunya. Maka tidak jagakne puasa dan shalatnya. Sehingga tidak menyiapkan banyaknya shalat dan banyaknya puasa. Tetapi sungguh aku mencintai Allah dan mencintai Rasulnya. Lalu Nabi menjawab. "المرء مع من احب".

Sesorang akan dikumpulkan dengan yang dicintainya. Kemudian Sahabat Anas dawuh, setelah orang muslim mendengar kata-kata nabi bahwaالمرء مع من احب. Orang muslim merasa bergembira yang tidak pernah merasakan kegembiraan yang setara dengan setelah mendengar kata-kata nabi bahwa "seseroang akan dikumpulkan dengan yang dicintainya" tersebut. (*)

 

-Disarikan dari Ngaji Hikam setiap Malam Selasa oleh KH. Mochammad Dajamaluddin Ahmad di Bumi Damail Al-Muhibin Tambakberas,  12 Maret 2018

 

1 komentar untuk "Ngaji Hikam Bab Mahabah (1)"