Ngaji Hikam Bab Zuhud (3)

Pada Pengajian malam selasa kemarin telah dijelaskan tentang zuhudnya Rasulillah dan zuhudnya Sayidina Abu Bakar As Shidiq. Sekarang Saya akan menyampaikan zuhudnya Sayidina Umar bin Khatab dan Umar bin Abdul Aziz.Umar bin Khatab dengan buyutnya yaitu Umar bin Abdul Aziz. Sama-sama Umar, julukannya sama-sama Abu hafs (singa jantan). Umar bin Khatab nasabnya bertemu Rasulillah dari seorang laki-laki bernama Ka'ab. Sayidina umar dari Ka'ab turun 10 (sepuluh). Umar bin Khatab, yaitu Umar putranya Khatab, putranya Novel, Putranya Abdi, Putranya Abdil Uzaa, putranya Robbah, putranya Abdillah, putranya Qabb, putranya Rozzah, putranya Abdi, putranya Ka'ab. Jadi Sayidina Umar dari Ka'ab turun 10 (sepuluh).

Ibunya bernama Khantamah, Binti Hisyam, bin Al-Mughirah, bin Abdillah, bin Amr, bin Mahzu. Umar bin Khatab lahir 13 tahun setelah kelahiran Nabi Muhmmad SAW. Jadi lebuh tua nabi dengan selisih 13 tahun. Umar bin Khatab wafat tahun 23 H, dalam usia 63 tahun. Beliau jadi khalifah selama 10 tahun, 6 bulan, kurang 1 hari. Umar bin Khatab adalah orang yang zuhud. Saking zuhudnya beliau melarat. Tidak suka hidup mewah dan sangat sederhana.

Saking zuhudnya pakaiannya hanya satu. Pernah beliau punya baju 2, pakaian malam sendiri, pakaian siang sendiri. Begitu saja sudah dikritik oleh rakyatnya. Jadi bajunya hanya satu, malam ya itu, siang ya itu, sampai baju tersebut tambalannya ada 14. Presiden tapi bajunya ditambal 14, pada salah satu tambalannya ada kulit warna merah yang terlihat mencolok. Bajunya berupa wall, tapi bukan wall halus, wall warna kuning yang lebih mirip seperti goni. Begitulah pakaiannya Umar.

Sayiddina Umar apabila makan, tidak pernah makan yang lauknya (Jawa: lawuh) dua macam. Kalau lauknya garam ya garam saja. Kalau lauknya cuka ya cuka saja. Tidak pernah garam dan cuka jadi satu. Berbeda dengan kita yang makan hanya lodeh dan ayam panggang. Lodeh nya saja ada tahunya ada tempenya ada udangnya ada cabainya, ada kunyitnya. Itu lodeh saja sudah macam berapa lauknya?. Sayiddina Umar tidak seperti itu. Kalau makan lauk garam ya garam saja. Kalau cuka ya hanya cuka saja. beliau makan hanya satu macam saja.

Kebanyakan apa yang dimakan Sayiddina Umar menggunakan lauk pauk minyak goreng. Tidak pakai yang lain. Tidak "kerso" makan daging, samin, tidak "kerso" minum susu labban (powan). Beliau ditanya, kenapa kok tidak makan daging, tidak "kerso" samin, dan susu?. Jawabannya, "semua aku persiapkan untuk rakyat, jangan sampai aku makan samin, makan daging, minum susu, semua kupersiapkan untuk rakyat saya.  Bahkan Beliau pernah bersumpah. "Aku bersumpah ketika makan hanya dengan minyak, selama rakyatku belum makmur, kalau rakyatku sudah makmur aku baru mau makan dengan lauk/ "lawuh" .

Saking zuhudnya, beliau itu takut kepada Allah. Takut karena jabatan yang dipikul. Luh dulu kok menjabat?. Karena dulu dipaksa oleh umat. Sesungguhnya Umar bin Khatab tidak mau, tapi dipaksa oleh Umat. Berbeda dengan sekarang. Kalau sekarang bukan dipaksa, tapi memaksa. Sampai janji-janji di pasar saking pinginnya.

 

Umar bin Khatab kalau dengan jabatan zuhud. Beliau takut, khawatir kalau salah dalam memimpin rakyat. Sampai beliau sering berdoa "Ya Allah, janganlah engkau menjadikan kehancuran umat Nabi Muhammad SAW, di atas tanganku". Seperti itu sambil menangis, sampai pipi di wajahnya timbul garis hitam, bekas aliran air mata.

Terkadang Umar menangis sampai terjatuh. Sehingga rakyat menyangka beliau sakit. Beliau berkata "Alangkah senangnya hatiku, jika aku dulu diciptakan sebagai kambing, setelah aku gemuk disembelih pemilikku, kemudian aku dimakan, dan leliaur menjadi kotoran. Dan aku tidak dilahirkan sebagai seorang manusia.

Seuatu hari beliau mengambil batang padi dari tanah dan berkata "alangkah senangnya jika aku tidak diciptakan, Alangkah senangnya jika ibuku tidak melahirkan aku, alangkah senangnya jika aku tdk jadi apa-apa, alangkah senangnya jika aku menjadi sesuatu yang terlupakan.

Zuhudnya Umar bin Khatab. Beliau sering memanggul tepung di punggungnya untuk para janda dan anak yatim. Tidak boleh dibawakan prajuritnya. Karena rasa tanggung jawabnya dan takut beban dosanya di hari kiamat.  Beliau selalu ingat tentang kematian. Di dapan api, tangannya dibakar. Kemudan kalau kepanasan ditarik. Lalu dia berkata pada diri sendiri "Halah-halah Api yang sekecil ini saja kamu tidak kuat, apalagi besok api neraka?. Apa kamu berani besok masuk neraka?. Sayidina Umar, saking inginnya untuk selalu ingat mati, cincinya ditulis "Kaffa bil Mauti wa idhun" artinya "cukuplah untuk menjadi pituturmu dengan mengigat kematian". Maka beliau sering melihat cincinnya agar sering ingat mati. Beliau apabila bertemu dengan sahabat-sahabatnya, mengucapkan syair tentang kematiaan yang berbunyi:

كل يوم يقال مات فلان و فلان

ولابد من يوم يقال مات عمر

Artinya : "Setiap hari diberitakan si fulan mati, dan si fulan mafi. Pasti pada suatu hari akan diberitakan bahwa Umar telah mati".

نموت ونحيى كل يوم وليلة

ولابد من يوم نموت ولا نحيى

فإنا لفي الدنيا كركب سفينة

نظن وقوفا والزمان بنا يجري

Artinya: "Setiap siang dan malam kita mati dan hidup lagi (tidur). Pasti pada suatu hari kita akan mati dan tidak hidup lagi. Hidup-hidup kita sudah berganti alam. Karena sesungguhnya kita hidup di dunia ini seperti naik perahu. Kita menduga berhenti, tetapi zaman tetap berjalan meninggalkan kita.

Mati di sini artinya adalah tidur. Sekarang kita hidup, tiga jam kemudian mati. Nanti shubuh bangun lagi. Kita seperti naik perahu, awalnya terasa ketika meninggalkan pantai, tapi ketika di tengah laut sudah tidak terasa. Kita seperti naik kapal terbang. Waktu tinggal landas, kita merasa bahwa sedang melakukan perjalanan. Tapi setelah di atas awan, kita sudah tidak merasa bahwa kita dalam perjalanan. Sama halnya dengan kita hidup. Waktu masih kecil kita merasa waktu demi waktu berganti. Tapi kalau sudah berumur 30 sampai dengan 40 tahun, hidup (rasanya) seperti berhenti. Kita berhenti tumbuh dan tidak bertambah.

Umar takut kepada Allah karena zuhudnya. Beliau pernah jatuh ketika mendengar ayat al-Quran. Beliau jatuh dan tersungkur sampai pingsan. Banyak rakyat yang membesuk dan tidak tahu sebabnya apa?. Ketika beliau membaca surat "اذا الشمس كورت" dan sampai pada " واذا الصحف نشرت" , beliau tersungkur dan pingsan.  Suatu ketika Beliau lewat rumah orang. Pemilik rumah sedang shalat, dan membaca firman Allah:

والطور(١) وكتب مسطور (٢)

Kemudian beliau berhenti dan mendengarkan. Kertika sampai pada bacaan :

"ان عذاب ربك لواقع (٧) ماله من دافع (٨)"

 

Beliau turun dari khimarnya dan bersandar pada tembok, beliau bersandar sampai watu yang sangat lama. Kemudian kembali ke rumah dan jatuh sakit sampai satu bulan. Mereka tidak tahu kenapa Sayidina Umar sakit.

Sayidina Umar hidup dengan sederhana dan tawadluk. Ketika beliau pergi ke Syam (syiria). Beliau tidak mau dikawal. Tapi hanya dibarengi oleh satu budaknya. Biasanya budak yang diajak adalah Aslam. Dan ketika berjalan menuju Syam, Aslam diajak bergantian untuk naik unta. "Ayo sekarang pergi ke Syam, nanti bergantian, kalau sudah dapat satu farsah aku turun dan kamu naik".

Satu farsah = satu pos = 7.500 Meter = 7, 5 KM. Jadi setiap 7.5 KM Umar turun dari unta dan "menuntun" dengan tali dadung, sementara budaknya (Aslam) naik unta. Padahal jarak antara Syiria dengan Madinah itu jauh.

Ketika sudah sampai di dekat negeri Syam. Kebetulan waktu masuk Syam, adalah giliran budaknya yang di naik Unta sedangkan Sang Khalifah berada di bawah sambil memegang dadung unta. Di daerah sebelum negeri Syam itu ada mata air yang sengaja dipersiapkan untuk Sayiddina Umar. Kemudian Beliau masuk ke dalam air, dengan posisi tangan kanannya memegang dadung unta, dan sandalnya di taruh di ketiak tangan sebelah kiri.

Di sana sudah menunggu Amir negeri Syam yaitu Abu Ubaidah Ibn Jarah (Ubaidah Ibn Jarah, adalah salah satu sahabat yang dikabari gembira nabi ahli surga) datang untuk menjemput, setelah melihat apa yang dilakukan oleh Umar beliau berkata, "Ya Amirul Mukminin, sungguh, pembesar-pembesar negeri Syam akan menjemput kamu, maka sungguh tidak baik jika keadaanmu sepeti ini?". (Menaruh sandal di ketiak kiri, sambil memegang kendali dadung unta dan masuk di air). Umar bin Khatab menjawab: Allah SWT, memuliakan kami, hanyalah sebab Islam, bukan yang lain". Artinya kami dimuliakan Allah bukan karena jabatan, bukan karena harta, bukan karena kedudukan, kita dimuliakan Allah karena Islam, aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan mereka". Apa yang telah diceritakan ini, ada di dalam kitab Ikhya' yang oleh ditulis Imam Ghazali.

 

Selanjutnya tentang Umar bin Abdul Aziz al Umawi. Imam Sufyan al-Tsauri (W.161 H) termasuk guru Imam Maliki, beliau mengatakan "Khalifah-khalifah itu banyak, tapi yang rasyidin itu hanya lima. Satu Abu bakar, dua Umar, tiga Ustaman bin Affan, empat Ali bin Abi Thalib, dan lima Umar bin Abdul Aziz".

Umar bin Abdul Aziz adalah cucu (cicit) dari Sayiddina Umar. Umar putra dari Abdul Aziz, garwo Lalila. Laila adalah cucu dari Umar, Laila binti Asim, Asim bin Umar. Jadi Umar itu punya putra Asim, punya cucu Laila, dan punya cicit (jawa: buyut) Umar bin Abdul Aziz.

Umar bin Abdul Aziz lahir tahun 62 H. Tidak "menangi" Umar bin Khatab. Karena wafatnya Sayidina Umar adalah tahun 23 H. Semebtara wafat Umar bin Abdul Aziz tahun 101 H (Lahir. 62 H s.d W.101) pada usia 39 tahun. Beliau menjadi khalifah 2 tahun lebih 14 hari. Saking zuhud dan adilnya rakyatnya rukun, makmur sampai binatang-binatang nya rukun. Aneh, ada singa bermain-main dengan sapi. Musang bermain dengan ayam, dan serigala bermain-main dengan kambing. Pejabat itu kalau adil, rakyatnya rukun. Itu hanya menjabat dua tahun. Pada zaman Umar bin Abdul Aziz, sekelompok domba dan sekelompok srigala, domba tidak merasa takut dengan serigala, dan serigala tidak membunuh domba karena keadilannya.

Beliau sangat takut kepada Allah terkait jabatannya sebagai khalifah. Semenjak menjadi khalifah, badanya menjadi kurus sampai terlihat tulang-tulang rusuknya. Penghasilannya sebelum menjadi khalifah per bulan 50.000 Dinar. 1 Dinar = 2 juta. 2 juta × 50.000 = 100 M. Dan setelah jadi khalifah, semuanya didermakan untuk rakyat. Hartanya habis, hanya tersisa satu gamis yang dipakai sehingga tidak pernah ganti sampai kotor. Kalau gamis itu kotor kemudian dibasuh dan beliau hanya berdiam di kamar sampai gamisnya kering.

Fatimah binti Abdul Malik adalah Istri Umar bin Andul Aziz. Abdul Malik ayahnya adalah seorang khalifah yang ketika menjadi khalifah, beliau kurang jujur dengan membelikan baju anaknya dari kas negara, baju itu kemudian diberikan kepada Fatimah yang menjadi istri Umar bin Abdul Aziz. Lalu Umar Bin Abdul Aziz mengembalikan harta istrinya itu ke Baitul Mal. Istrinya di kasih tau, "Dek, Sampean pilih aku apa harta benda dari bapakmu?. Kalau pilih harta benda, pisah denganku!, Tapi kalau pilih aku, maka akan aku kembalikan harta dari Bapakmu ke Baitul Mal.

Kemudian istrinya memilih Umar bin Abdul Aziz. Lalu harta dari ayahnya dikembalikan ke Baitul Mal. Sampai pakaian istrinya seperti rakyat biasa dan Umar bin abdul aziz juga berpakaian seperti rakyat biasa dengan gamis yang cuma satu.

Istri Umar bin Abdul Aziz berkata, semenjak menjadi khalifah, beliau tidak pernah mandi jinabat sampai wafat. Amat-amatnya di mintai "pamit", "istriku sendiri saja tidak pernah saya layani". "Aku tidak pernah melihat laki-laki yang takut kepada Allah sepeti Umar bin Abdul Aziz, saking takutnya beliau selalu menangis ketika malam sampai tertidur. Beliau selalu ingat akan kematian. Setiap malam beliau mengumpulkan Fuqaha (ahli fikih) untuk mengingatkan tentang kematian, lalu mereka menangis seoalah-olah ada jenazah di depan mereka.

Beliau pernah meminta nasihat kepada orang alim. Lalu orang alim berkata kamu bukan pertama kali dari khalifah yang akan mati, lalu umar berkata tambahkanlah untukku. Lalu Alim berkata, "Dari bapakmu, sampai Nabi Adam, tidak ada yg luput dari kematian. Seorang khalifah yang begitu baiknya pun tetap ada yang tidak suka, sampai ada yg meracuni.

Umar bin Abdul Aziz itu keturunannya siapa?. Pada suatu malam Umar bin Khatab patroli bersama Aslam budaknya. Malam-mama beliau mencari janda dan orang-orang yang melarat, biasanya diberi "gelepung"/ tepung dan ditaruh di depan rumahnya. Suatu ketika beliau letih, lelah dan ngantuk, lalu istrahat di dua batu di depan sebuah rumah yang sederhana. Biasanya batu tersebut juga digunakan yang punya rumah untuk duduk-duduk. Kemudian mereka (Umar dan Aslam) terkejut, karena ada suara dari dalam rumah antara anak perempuan dan Ibunya.

Anak : "Buk Jenengan dodol susu kok dicampuri banyu, itu tidak boleh Buk!.

Ibu : Nak, kalau nggak seperti ini nggak dapat bati. Halah Amirul Mukminin Sayidina Umar enggak "perso" ae!.

Anak : Buk, walaupun Sayidina Umar tidak perso, tapi Allah SWT pasti perso.

Kata-kata dari anak ini memarik karena Sayidina Umar itu orang jujur yang mensukai orang jujur. Kemudian, umar dodok pintu, dan bertanya kepada ibunya.

Umar : Siapa yang tadi berkata seperti ini?.

Ibu : Aku

Umar : Dan siapa yang berkata sepeti ini.

Ibu : Anakku.

Umar : Putrinya sudah punya suami?.

Pada saat itu sang ibu tidak tahu bahwa yang bertanya adalah Sayidina Umar. Setelah patroli dan sampai di rumah, putra-putranya dipanggil. Jumlahnya ada 14 anak yaitu 6 putri dan 7 putra. Putra-putranya di panggil kemudian Umar dawuh "Nak aku tadi malam bertemu dengan seorang perempuan yang shalihah, Jujur, Ayo di antara kalian siapa yang mau tak nikahkan?. Kemudian Asim mengangkat tangan. Umar kemudian berkata, "anak e wong melarat lo, Ibuk e rondo, dodolan susu eceran?. Lalu Asim menjawab : nggeh Bah, kulo purun.

Paginya berangkatlah Umar bin Khatab, Asim, Aslam. Kemudian dicarilah putri dari penjual susu itu di rumahnya. Kemudian ketika sampai di rumah penjual susu, putrinya "ditimbali". Masih memakai cadar. Umar bertanya "Namamu siapa?". Putri penjual susu berkata "Zainab". Umar tanya lagi "Sudah punya suami?. Zainab berkata "belum". Kemudain Umar menyuruh membuka cadar Zainab. Dan berkata "Asim, lihatlah Zaenab dan Zaenab lihatlah ini anakku namanya Asim. Lalu keduanya saling memandang.

Kemudian Zainab ditanya oleh Umar "bagaimana Zaenab?. Zaenab menjawab "nggeh, kulo purun". Kemudian ganti Asim yang ditanya oleh Umar "Bagaimana Sim?". Lalu Asim menjawab "nggeh kulo purun". Akhirnya Zaenab dan Asim dijodohkan oleh Umar bin Khatab. Kalau (perjodohan) itu baik ya "mudah" seperti ini. Cari mantu kok angel-angel. Golek seng ayu, sugih, kuning, apal Quran. (Padahal kalau sifatnya baik itu sudah cukup).

Asim dan Zaenab ini kemudian dijodohkan dan punya anak namanya Laila yang memiliki julukan Ummu Asyim. Laila kemudian dinikah oleh Abdul Aziz bin Marwan (Marwan adalah khalifah). Kemudian punya putra namanya Umar bin Abdul Aziz.

Suatu ketika ada Amat yang sudah dimerdekakan oleh Umar bin Abdul Aziz datang kepada beliau. Karena dulu adalah amatnya mala dia sudah terbiasa kekuar masuk rumah. Kemudian Amat tersebut meminta izin Shalat dua rakaat di dalam masjid, yang masjidnya berada di dalam rumah. Di rumah itu ada tempat shalatnya. Itu kalau di niati masjid, maka menjadi masjid dan bisa dijadikan iktikaf.

Setelah shalat, Amat ini mengantuk dan tertidur. Di dalam mimpinya dia menagis. Kemudian Amat terbangun dan datang kepada Umar bin Abdul Aziz, sambil berkata "Ya Amirul Mukminin, demi Allah aku melihat sesuatu yang ajaib di dalam mimpiku?". Umar bin Abdul Aziz bertanya "Apakah itu?". Kemudian amatnya berkata "Aku melihat neraka, yang bersuara menderu. Kemuadian dipasang di atasnya jambatan. Kemudian dipanggilah Abdul Malik bin Marwan (paman dari Abdul Aziz ayahnya) lalu tidaklah dia lewat pada jembatan itu kecuali sebentar dan kemudian jembatan itu di balik.

Umar bin abdul aziz berkata kepada Amat itu, teruskanlah "Kemudian di panggil Al Walid bin Marwan (Sepupu dari Umar bin Abdul Aziz yang juga seorang Khalifah), lalu belum lama ia lewat pada jembatan, kemudain jembatan di balik dan ia tercebur".

 

Umar bin Abdul Aziz berkata lagi, teruskanlah "kemudain dipanggilah sulaiman (saudara dari Walid bin Marwan yang sama-sama sepupu dari Umar bin Abdul Aziz), lalu belum lama ia melewati jembatan, kemudian jembatan terbalik, dan ia tercebur.

Kemudian engkau (Umar bin Abdul Aziz), didatangkan pula waktu itu. Belum sempat Amat meneruskan ceritanya, Umar bin Abdul Aziz menjerit dan pingsan. Wanita itu kemudian memanggil-manggil namanya dan berkata "Walllahi, sungguh ya Amirul Mukminin Engkau selamat". Kalimat itu diucapkan berulang-rulang, sampai Umar Bin Abdul Aziz sadar dan menjerit dambil memegangi kakinya.

Umar bin Abdul Aziz berkata kepada seorang dari salah satu teman duduknya. "Ya Fulan, sungguh tadi malam aku tidak bisa tudur karena beprikir tentang ahli kubur dan penghuninya. Jika Engkau melihat mayit dalam kuburnya setelah tiga hari, pasti engkau tidak senang mendekatinya. Sudah tiga hari baunya sudah busuk. Padahal sebelumnya Engkau merasa senang dengannya. Dan engkau akan melihat Kuburan itu merupakan rumah, yang masuk di dalamnya binatang-binatang serangga, mengalir di dalamnya nanah "uwoh" (nanah bercampur darah), dan belatung yang merobek-robek tubuhnya, serta aroma yang tidak enak, dan kain kafan yang rusak padahal sebelumnya dalam keadaan baik, harum, dan bersih" kemudian beliau menjerit keras tersungkur.

Dalam khutbahnya Umar bin Abdul Aziz berkata "sesungguhnya di dunia ini bukanlah tempat yanh kekal untukmu, tetapi tempat yanh dipastikan oleh Allah SWT akan sirna, dan dipastikan atas penghuninya akan pergi meninggalkannya. Banyak sekali orang yang membangun bangunan kokoh, tidak lama akan rusak. Dan banyak pula orang yang mapan hidupnya, menyenangkan dan pergi meninggalkannya. Maka usahakan sekuat tenagamu, pergi meninggalkan dunia ini, dengan cara sebaik-baiknya, dengan membawa bekal amal baik, sebaik-baik bekal adalah takwa. Dunia ini seperti bayang-bayang yang menyusut kemudian hilang. Suatu ketika anak Adam bermewah-mewah dan merasa senang batinya tiba-tiba dipanggil oleh Allah pada harinya dengan takdir kematianya, jasad dan semua milkinya dicabut. Semua usaha dan kekayaan miliknya dimiliki orang lain. Dunia ini memang menyenangkan, akan tetapi tidak sebanding dengan sesuatu yang membahayakan. Dunia ini menyenagkan dalam waktu sebentar dan menyusahkan dalam waktu yang panjang.

Menjalang wafatnya Umar bin Abdul Aziz berkhutbah, setelah membaca hamdalah, dan memuji kepada Allah SWT beliau berkata, "Wahai manusia, sesungguhnya kamu sekalian tidak diciptakan sia2 dan tidak dibiarkan begitu saja. Karena sesungguhnya kalian memiliki tempat kembali. Allah mengumpulkan kalian untuk diadili tentang apa yang terjadi diantara Kalian. Akan kecewa dan celaka pada hari itu seorang hamba yang dikeluarkan dari rahmadnya yanh sagat luas dan di keluarkan pula dari surga yang luasnya seperti langit dan bumi"

Yang aman dan selamat pada hari itu adalah orang yang bertakwa kepada Allah. Menjual harta sedikit dengan imbalan yang besar, menukar yang sirna dengan yang kekal dan mengganti kesengsaraan dengan kebahagiaan. Tidakkah engkau sekalian mengerti?. Bahwa kalian adalah pengganti orang-orang yang telah mati. Dan setelah kematianmu akan digantikan pula oleh orang-orang yang lain. Tidakkah kalian melihat?. Bahwa setiap hari kalian mengantar orang mati, di pagi dan sore hari kepada Allah. Dia telah menemui ajalnya dan terputus harapannya dan kemudian engkau sekalian menempatkannya di perut bumi tanpa bantal dan tanpa alas tidur.

Ia telah meninggalkan usahanya, berpisah dengan kekasihnya, menuju ke tempat hisabnya. Demi Allah SWT, Aku mengatakan ini dalam Khubahku bukan karena aku mengetahui dosa-dosa dari kalian lebih dari dosa-dosa dariku. Akan tetapi ini adalah peraturan yang adil dari Allah. Dalam khutbah ini aku memerintahkan agar Kalian taat kepada Allah. Dan aku melarang bermaksiat kepadanya.

Kamudian beliau membaca istigfar kepada Allah. Dan menutup wajahnya dengan lengan baju serta menangis. Sampai janggutnya basah dengan air mata. Belum sampai pada tempat duduknya beliau meninggal. Beliau wafat ketika berada di atas mimbar. (*)

 

-Disarikan dari Ngaji Hikam setiap Malam Selasa oleh KH. Mochammad Dajamaluddin Ahmad di Bumi Damail Al-Muhibin Tambakberas,  26 Februari 2018

 

Posting Komentar untuk "Ngaji Hikam Bab Zuhud (3)"