Ngaji Hikam Bab Nikmat dan Syukur

Syekh Ibnu Athailah al-Syakandari berkata dalam kitab Al-Hikamnya: 

ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﻌﺮﻑ ﻗﺪﺭ ﺍﻟﻨﻌﻢ ﺑﻮﺍﺟﺪﺍﻧﻬﺎ ﻋﺮﻓﻬﺎ ﺑﻮﺟﻮﺩ ﻓﻘﺪﺍﻧﻬﺎ

Artinya : "Barangsiapa yang tidak sadar pada nikmat Allah yang ia terima, akan diberi tahu Allah tentang itu ketika nikmat itu sudah tidak ada". 

Kiai Mursyid selalu mengingatkan kita agar belajar tentang nikmat serta memperbanyak bersyukur daripada sabar. Beliau berpesan agar kita senantiasa bersyukur karena setiap ucapa dan perbuatan apabila didadasari dengan syukur maka akan menjadi mudah dan ringan. Sebaliknya jika sebuah perbuatan didasari dengan perasaan nelangsa dan sambat maka akan sulit dan berat. Oleh karena itu kita diperintah untuk memulai setiap aktivitas dengan membaca Bismillah. Nabi bersabda :  

كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم الله الرحمن الرحيم فهو أقطع

Artinya : “Setiap perkara penting yang tidak diawali dengan Bismillahirrahmanirrahim, maka dia akan terputus.” 

Saking pentingnya syukur kepada Allah sampai di dalam surat al-Fatihah setelah  ayat pertama yaitu bismilah, ayat keduanya adalah ayat tentang syukur dan pujian kepada Allah yaitu lafadz Alhamdulillah. Lafadz Alhandulillah diawali menggunakan "ال"  jenis "istigroqi afrodi jinsi". Yaitu  ال yang menghabiskan segala bentuk pujian karena semua pujian hanya milik Allah. 

Bagaimana kita bisa bertahmid dan memuji Allah jika kita tidak bisa merasakan nikmat dari Allah?. Sedangkan hati kita biasanya dapat merasakan nikmat apabila nikmat itu telah hilang. Maka apakah kita baru akan belajar bersyukur jika nikmat telah hilang?. Ataukah kita akan memulai sekarang untuk belajar merasakan dan mengenali nikmat sehingga muncul rasa syukur kepada Allah?. 

Allah tidak pernah memerintah kita untuk menghitung ujian dan musibah dari-Nya. Tapi yang ada adalah Allah memerintah kita untuk menghitung nikmat-Nya. Kenapa seperti itu?. Karena keduanya tidaklah imbang. Pasti lebih banyak nikmat daripada ujian yang kita terima. Sehingga Allah mengatakan, "La Tukhsuha". Nikmat yang kita terima dari-Nya tidak akan bisa kita hitung  karena saking banyaknya. 

Sayangnya kebanyakan manusia baru menyadari adanya nikmat dari Allah ketika nikmat itu telah hilang. Ada seorang dosen dari Kiai Wahab Kholil yang sedang sakit stroke. Beliau kemudian menjenguk, saaat menjenguk itu Kiai Wahab Kholil tersadar bahwa sebenarnya mengangkat tangan saat takbir dan dapat sejajar dengan pundak, terkadang kita malas.

Mengapa terkadang kita malas mengangkat tangan ketika takbiratul ikram?. Karena umumnya kita menganggap bahwa tangan yang diangkat bukan  bagian dari nikmat, tapi merupakan kebiasaan. Baru setelah tidak bisa mengangkat tangan, tersadarlah kita bahwa betapa besar nikmat Allah di dalam mengangkat tangan saat takbir. 

Di dalam Syarah Hikam dijelaskan tentang hikmah tersebut bahwa kebanyakan orang tidak mengenali nikmat-nikmat Allah kecuali ketika nikmat itu sudah tudak asa pada dirinya. Hal itu disebabkan dalam diri manusia ada kelalaian terhadap nikmat tersebut. Di dalam syarah yang lain juga disebutkan bahwa faktor orang tidak  bersukur ada dua yaitu : (1) kebanyakan dari mereka tidak menyadari tentang nikmat. Dan (2) Mereka sadar akan  nikmat Allah tapi mereka lalai untuk beryukur.

Di dunia ini tidak ada sedetik pun yang kita lalui tanpa ada nikmat dan kasih sayang dari Allah. Tapi kebanyakan kita lupa akan nikmat Allah tersebut. Padahal nikmat Allah begitu maksimal. Tapi syukur kita begitu minimal. Sampai terkadang kita mengucap Alhamdulillah saja ketika sudah kenyang. Jika belum kenyang belum mengucap Alhamdulillah. Oleh karena itu para pensyarah kitab hikam mengatakan hal-hal seperti diatas bahwa kebanyakan orang tidak mengenali nikmat-nikmat Allah kecuali ketika nikmat itu sudah tidak ada. Oleh karena itu diantara doa Para sholihin adalah :

اللهم عرّفنا نِعمك بدوامها، ولا تعرّفنا لنا بزوالها

Artinya : Ya Allah pahamkanlah pada kami akan nikmat-Mu selama nikmat itu ada dan jangan pahamkan kami akan nikmatmu setelah nikmatmu hilang. 

Doa tersebut sangat indah karena meminta nikmat pada saat nikmat itu ada dan meminta agar jangan disadarkan kepada nikmat ketika nikmat itu hilang. Didalam satu riwayat disebutkan: 

وقد قيل إنّما يعرف قدر الماء من ابتلى بعطش البادية لا من كان على شاطئ الأنهار والأودية

Artinya : Sesungguhnya seseorang akan tahu betapa agungnya nikmat air bagi orang yang diuji kehausan di tengah padang pasir. Dan tidak akan tahu bagi orang yang hidup di pinggir sungai yang airnya mengalir jernih. 

Orang Indonesia terkadang tidak sadar bahwa Indonesia adalah nikmat terindah dari Allah. Lebih-lebih apabila dibandingkan dengan saudara-saudar yang ada di Gaza. Didalam keterangan lain disebutkan bahwa seorang anak yang berani kepada bapaknya. Baru akan mengetahui luhurnya punya nikmat seorang bapak pada hari kematian bapaknya. Begitu juga dengan ibu. Oleh karena itu jika salah satu dari mereka tiada maka hilanglah satu kemuliaan yaitu doa orang tua. 

Kemarin saya mengantar isteri belanja di toko. Saya ngobrol dengan yang punya toko. Orang itu bekerja di toko itu sejak tahun 80 an. Lalu dia cerita kalau ibunya baru wafat 1 tahun yang lalu. Setelah itu dia bilang, "Baru terasa Gus, hidup itu  jadi mudah ketika punya ibu, walaupun ibu tidak alim dan tidak pintar, tapi semua masalah jadi mudah karena kita masih mendapat rezeki doa-doanya, sekarang ibu tidak ada, masalah seperti datang silih berganti". Syekh Fudail bin Iyad adalah wali Allah yang dulunya adalah seorang perampok. Beliau ditaubatkan oleh Syekh Hasan al-Basri dengan panah ayat yang berbunyi : 

ألم يأن للذين آمنوا أن تخشع قلوبهم لذكر الله

Sehingga beliau bertaubat dan menjadi salah satu wali Allah yang mashur. Beliau dalam syarah hikmah ini berkata : 

كان الفضيل رحمه الله تعالى يقول: عليكم بمداومة الشكر على النعم، فقل نعمة زالت عن قوم فعادت إليهم

Syaikh Al-Fudhail bin lyadl Ra. berkata: "Tetapkanlah mensyukuri nikmat, sebab jarang sekali nikmat yang telah hilang akan datang kembali. Sesungguhnya yang sangat mengetahui nikmat air itu, hanya orang yang benarbenar haus".

Ketika kita sehat kemudian kita sakit. Sebenarnya sedikit sekali kemungkinan kita akan sehat kembali seperti sedia kala. sehingga ketika nikmat itu sudah dicabut jarang dia akan dikembalikan. Ada dialog antara Jibril dan Allah Swt. Saat itu Allah memerintah kepada Jibril, "Wahai Jibril hapus manisnya cinta-Ku dari hati hamba-Ku karena Aku ingin menguji dia seperti apa sikapnya". Karena mahabah Allah dicabut hamba itu ketika ibadah dan wiridan merasa tidak nikmat bahkan terpelest ke dalam maksiat. Tapi ketika Jibril mengambil cinta Allah dari hamba tersebut. Dia menjadi hamba yang merasa kehilangan dan tersadar ada sesuatu yang hilang darinya. Jika dia paham maka dia akan bingung kemudian bersimpuh dan bermunajat serta mengadu kepada Allah. 

Ketika Allah mengetahui hambanya mengadu dengan menangis dan berdoa dengan sungguh-sungguh maka Allah langsung memerintah Jibril agar mengembalikan cinta Allah di hati hambanya tersebut. Dan Allah tahu bahwa hamba tersebut benar-benar hamba yang taat. Karena dia merasa kehilangan dan sadar atas nikmat-nikmat itu. 

Namun ada juga seorang hamba yang telah dicabut rasa cinta Allah di dalam hatinya. Kemudian dia tidak merasa kehilangan apa-apa. Dia tidak bingung dan merasa biasa-biasa saja dengan maksiat bahkan dia tidak segera kembali kepada Allah dengan bermunajat. Maka Allah tidak akan mengambalikan cinta itu kepadanya. Seperti apa yang dikatakan Syekh Fudail bahwa jarang sekali nikmat yang telah hilang atau diambil akan datang kembali. 

Mengapa cinta Allah itu tidak dikembalikan kepada hamba tersebut?. Karena hamba itu tidak merasa kehilangan dan dia tidak meminta untuk dikembalikan. Contoh sederhana ada santri yang rajin. Kemudian dia melanggar. Setelah itu dia menangis dan menyesal maka besar kemungkinan Allah akan mengembalikan sifat rajinnya. Tapi jika santri itu tidak merasa melanggar dan mengangap itu biasa saja, maka cinta itu tidak akan dikembalikan oleh Allah. Ketika menerangkan hikmah ini Mushonif berdoa : 

والعياذ بالله من السلب بعد العطاء

Artinya : Ya Allah lindungi kami dari diambilnya nikmat setelah diberi". Ada beberapa hadist Rasulullah yang selaras dengan hikmah tersesbut. Bahwa Rasulullah Saw. bersabda: "Jika seorang melihat pada orang yang lebih daripadanya kekayaan dan sehatnya, maka hendaklah juga melihat kepada orang yang lebih menderita daripadanya". Ada juga beberapa maqolah dari para ulama' terkait hikmah tersebut sebagaimana yang dikatakan Syekh Sirriy As-Siqthi : 

من لم يعرف قدر النعم سلبها من حيث لا يعلم

Artinya : "Siapapun yang tidak menghargai nikmat, maka akan dicabut nikmat itu dalam keadaan ia tidak mengetahui".

Ditengah syarah kitab Al-Hikam diceritakan ada pemuda yang lari ditengah lapangan. Dia kemudian berteriak, "Ya Allah aku telah bermaksiat kepadamu tapi engkau tidak menyiksaku!". Allah kemudian memberi wahyu kepada pemuda itu bahwa sesungguhnya dia sudah disiksa oleh Allah. Tapi dia tidak merasa jika dia sedang disiksa. Kemudian ditanyakan kepada pemuda itu, "Adakah yang sudah hilang dari hatimu?. Apakah kamu sudah meremehkan shalat?. Apakah kamu sudah tidak suka Ulama?." Siksaan yang lebih berat adalah siksaan jika orang yang disiksa tidak merasa disiksa. Dia sedang dksiksa batinya oleh Allah. Rasullah bersabda : 

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هو أَسفَلُ مِنْكُمْ وَلا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوقَكُم أَجْدَرُ أَن لا تَزْدَرُوا نعمةَ اللَّه عَلَيْكُمْ

Rasulullah Saw. bersabda: "Lihatlah kepada orang-orang yang dibawahmu, dan jangan melihat pada orang yang di atasmu, maka yang demikian itu lebih tepat untuk tidak meremehkan nikmat yang diberikan Allah kepadamu". 

Imam Ghazali berkata bahwa sebagian tokoh sufi membiasakan dirinya setiap hari untuk ke rumah sakit, menjenguk temannya yang sakit. Menanyakan tentang sakitnya dan menanyai seputar ujian dan musibah dari Allah Swt. Hal itu dilakukan agar bisa merasakan nikmat dan dapat bersukur kepada Allah Swt. Saking pentingnya bersyukur Nabi Adam sampai meminta kepada Allah untuk diajari cara memuji-Nya. Allah kemudian mengajari tahmid:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ

Allah memerintah Nabi Adam untuk membaca pujian itu 3x pada waktu pagi dan sore hari. Syekh Abu Bakar bin Salim memuji Allah dengan ungkapan yang indah :

اَللّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ شُكْرًا وَلَكَ الْمَنُّ فَضْلاً وَاَنْتَ رَبُّنَا حَقاًّ وَنَحْنُ عَبِيْدُكَ رِقاًّ وَاَنْتَ لَمْ تَزَ لْ لِذَا لِكَ اَهْلا

Orang yang bahagia (untung) itu ialah yang dapat pengertian dengan pengalaman (dengan kejadian) yang terjadi pada lain orang. Telah disebutkan pula dalam hikmah yang lain: "Siapapun yang tidak mensyukuri nikmat berarti membiarkannya hilang, dan siapapun yang menyukurinya berarti telah mengikat nikmat itu dengan tali ikatnya. Syekh Ibnu Athaillah juga berkata : 

لا تدهشك واردات التعم عن القيام بحقوق شكرك، فإن ذلك مما يحط من وجود قدرك

Artinya : "Jangan membingungkan kepada dirimu untuk menunaikan kewajiban mensyukuri Allah karena datangnya karunia nikmat-Nya yang bertubi-tubi (sangat banyak), Sebab perasaan yang demikian berarti merendahkan harga dirimu/derajat sendiri".

Datangnya nikmat yang banyak. Mulai dari dihindarkan dari maksiat. Ditakdir ngaji dan ibadah. Diberi anak yang taat. Jangan sampai menjadikan kita bingung untuk bersyukur. Sebaliknya jika yang dipikir adalah yang tidak dimiliki maka akan susah untuk bersyukur. 

Suatu saat Abah Djamal sedang dalam perjalanan dan mampir di rumah makan berbarengan dengan direktur salah satu pabrik rokok. Sopir dari direktur itu memesan makanan untuk dirinya yang enak-enak mulai dari sate, gule dsb. Sementara bosnya yang punya pabrik hanya pesan nasi jagung dan air putih karena dia sedang menderita penyakit. 

Saking banyaknya nikmat itu sampai bingung cara untuk bersyukur. Sampai diingatkan : Jangan membingungkan kepada dirimu untuk menunaikan kewajiban mensyukuri Allah karena datangnya karunia nikmat-Nya yang bertubi-tubi (sangat banyak), Sebab perasaan yang demikian berarti merendahkan harga diri dan derajatm sendiri. 

Mengapa kita dilarang bingung untuk mensyukuri  nikmat Allah yang banyak?. Karena yang demikian dapat menjadikan kita turun dari derajat diri kita yang mulia. Allah memuliakan kita dengan pemberiannya yang banyak. Jika kita  bingung dengan nikmat yang banyak dan sampai menjadikan tidak bersyukur maka hal itu sebenarnya telah menurunkan nilai kita dari yang mulia menjadi hina. 

Abah Djamal ketika hari raya biasanya memberi uang kepada anak kecil-kecil yang datang. Lalu ada bapak-bapak yang bawa anak sowan Abah. Anaknya oleh Abah diberi uang. Setelah dapat uang Anak itu lari, maka bapaknya pasti mengejar dan menyuruhnya kembali untuk berterima kasih kepada Abah. Jika tidak pasti orang lain akan menjudge anak itu sebagai anak yang tidak punya tatakrama.

Ketika seorang hamba mampu bersyukur maka nilainya akan meninggi. Sebaliknya apabila dengan pemberian yang banyak kita tidak bersyukur itu sama halnya menempatkan diri kita pada tempat yang  rendah di hadapan Allah. 

Orang yang bersyukur setidaknya dia akan sadar bahwa apa-apa yang ia miliki adalah milik Allah. Datang dari Allah. Dan untuk Allah. Jika sudah bisa bersyukur seperti itu maka ia sudah sampai pada hakikat syukur. Jangan sampai ketidaksyukuran kita mendorong kita pada jurang kehinaan. Didalam Alquran Nabi Sulaiman berdoa:

رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْۗ

Artinya :  "Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku".

Beramalah kalian seperti keluarganya Nabi Daud yaitu senantiasa bersyukur . Engkau diperintahkan mensyukuri nikmat Allah menurut kadar kekuatan yang diberikan Allah kepadamu, bukan sebanyak atau sebesar nikmat yang diberikan-Nya.

Nabi Dawud as. berkata kepada Allah: "Ya Allah! Anak adam ini telah engkau beri pada tiap rambut ada nikmat di atas dan di bawahnya, maka bagaimana akan dapat menunaikan syukurnya kepadamu". Jawaban Allah: "Hai Dawud, Aku memberi sebanyak-banyaknya, dan rela menerima yang sedikit, dan untuk mensyukuri nikmat itu bila engkau mengetahui bahwa nikmat yang ada padamu itu dari-Ku".

Nikmat yang diberikan Allah kepada kita dan kepada Makuluq sangatlah banyak serta tidak terhitung. Tapi Allah merasa  ridla bahwa yang kita berikan kepada-Nya sangat sedikit yaitu berupa syukur. Dan bagi Allah telah cukup dengan kita merasa sadar bahwa yang mereka lihat dan mereka rasakan adalah dari Allah. 

Dalam riwayat yang lain Nabi Daud juga berkata bahwa, "Wahai Tuhanku bagainana cara bersyujur kepada-Mu? Karena sejatinya syukurku kepadamu juga merupakan nikmat dari-Mu".  Allah menjawab, "Wahai Daud apabila kamu sadar dan tahu sesungguhnya nikmat-nikmat itu semua dari-Ku maka kamu telah bersyukur dan aku ridla kepadamu". 

Umar bin Abdul-Aziz ra. berkata: "Tiadalah Allah memberikan suatu nikmat kepada hamba, kemudian hamba itu mengucap: Alhamdu lillah, melainkan nilai pujian Alhamdu lillah itu jauh lebih besar dari nikmat yang diberikan itu".


-Disampaikan oleh Abah Dr. KH. Abdul Kholiq Hasan, M.H.I. pada Pengajian Rutin Al-Hikam di Masjid Bumi Damai Al-Muhibbin Bahrul 'Ulum Tambakberas Jombang pada 11 Desember 2023


Posting Komentar untuk "Ngaji Hikam Bab Nikmat dan Syukur"