Ziarah Makam Keramat Kembar Karangasem

Di ujung timur pulau Bali tepatnya di Kabupaten Karangasem terdapat dua permata penyebar agama Islam. Keduanya dimakamkan di Pusara Makam Keramat Kembar. Beliau berdua adalah Syekh Maulana Yusuf al-Baghdi al-Magribi dan Habib Ali bin Zainal Abidin al-Idrus.

Dalam penulisan nama Syekh Maulana Yusuf ada dua versi penulisan. Ada yang menulis dengan gelar al-Baghdi dan ada yang menulis dengan al-Baghdadi. Di papan penunjuk makam sendiri ditulis  dengan gelar istilah Al-Baghdadi. Sedangkan di beberapa tulisan lain disematkan julukan al-Baghdi. Jika al-Baghdadi merujuk bahwa asal dari Syekh Maulana Yusuf dari Bagdad Irak. Mengenai gelar Al-Baghdi belum penulis ketahui. 

Dari sumber lisan makam Syekh Maulanan Yusuf dipercaya sebagai makam wali paling tua di Bali. Hal ini didasarkan pertama dari nama beliau yang diawali oleh Maulana. menurut Bli Hasan Nawawi, Pria paruh baya Madura yang sudah menjadi guide di Bali selama 14 Tahun mengatakan bahwa nama Maulana ini sama dengan Maulana yang biasa ditemui oleh penyebar agama Islam era abad 14-15 Masehi seperti Maulana Ishaq dan Raden Rahmad Sunan Ampel. 

Belum ditemukan mengenai sumber tertulis kurun masa hidup Syekh Maulana Yusuf al-Baghdadi al-Magribi. Namun jika oleh sumber lisan dikatakan kalau Syekh Maulana Yusuf semasa Walisongo maka beliau hidup pada abad ke 13-14 atau 15 Masehi. Perihal masa hidup ini bisa kita analisis dengan 4 teori masuknya Islam di Indonesia yaitu terori Gujarat, terori Arab, teori Persia, dan teori China. Melihat nama beliau yang bergelar al-Baghdadi al-Magribi maka hipotesis sementara penulis beliau berasal dari Bagdad yang wilayahnya berdekatan dengan Persia yang  sekarang masuk wilayah Iran. 

Teori Persia didukung oleh Umar Amir Husain dan Husain Djajadiningrat yang menyebutkan Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh pedagang dari Persia pada abad Ke-13 M. Terori ini mendasarkan argumennya pada temuan corak seni kaligrafi di batu nisan nusantara yang serupa dengan Persia. Serta tradisi 10 Muharam di Persia yang mirip dengan tradisi Tabuik di Sumatera Barat dan Tabot di Bengkulu. Pendapat dalam terori Persia ini kemudian di afirmasi oleh Abdurrahman Misno dalam Reception Through Selection-Modification: Antropologi Hukum Islam (2016) yang menyimpulkan pendapat Husain Djajadiningrat tentang kesamaan tradisi Islam Indonesia dan Persia. 

Jika dalam teori Arab disebutkan oleh sejarawan seperti Buya Hamka, C.J. Van Leur, T.W. Arnodl, Anthony H. Jhons   tentang bukti-bukti masuknya Islam ke Indonesia dengan batu nisan kuno bertahun 672 M dan naskah Cina Kuno yang menyebutkan intensitasi perdagangan Arab di Nusantara pada tahun 625 M. Sebaliknya di Makam Syekh Maulana Yusuf ini tidak ditemukan bukti-bukti tersebut. 

Penuturan masyarakat sekitar tentang kekeramatan Makam Syekh Maulana Yusuf ini adalah ketika terjadi erupsi Gunung Agung Tahun 1963. Saat itu banyak bangunan di Bali yang mengalami kerusakan karena batu-batu gunung, lahar panas dan semburan Abu Vulkanik Gunung Agung. Namun makam yang berada di bawah lereng Gunung Agung itu sendiri tak tersentuh. Makam itu tetap kokoh seperti ke agungan gunung agung tak mampu mengalahkan kekeramatan sang pemilik makam. 

Diantara keberhasilan dakwah Syekh Maulanan Yusuf di Bali adalah familiarnya agama Islam di Masyarakat Karangasem. Terbukti hari ini Karangasem menjadi salah satu dari empat kabupaten terbanyak yang penduduknya beragama Islam. 

Mengenai Makam kedua yaitu Makam Habib Ali bin Zainal Abidin al-Idrus. Beliau adalah pewaris perjuangan dari Syekh Maulana Yusuf al-Bagdadi al-Magribi. Keseharian hidup beliau diisi dengan mengajar ngaji dan menjadi kuncen makam  Syekh Maulana Yusuf. Keistiqohaman Habib Ali dalam mengemban misi dakwah Islam ini beliau jaga sampai akhir hayat. Beliau wafat pada usia 109 tahun atau bertepatan pada tahun 1982 M. 

Beliau kemudian di makamkan di Desa Bungaya Kangin, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangsaem Amplapura Bali. Atau satu area dengan makam keramat Syekh Maulana Yusuf. Sekarang tugas menjadi kuncen dua makam keramat kembar itu diteruskan kepada Yik Alwi Alaidrus. 

Walaupun yang kerap diziarahi dan masuk dalam wali pitu Bali adalah Syekh Maulana Yusuf dan Habib Ali bin Zainal Abidin. Menurut sumber lisan yang lain orang Islam yang pertama masuk pada masa Kerajaan Karangasem bernama Raden Djimaran yang menyebarkan Islam melalui pengobatan. 

Ada juga R.K. Abdul Jalil salah satu Prajurit Demak yang membabat Kampung Jawa Saren dan dimakamnya di Saren Jawa. Juga ada Sunan Mumbul atau Raden Datuk Maspakel. Kesemuanya memiliki peran pada era masing-masing dalam syiar agama Islam di Pulau Dewata Bali. Hanya saja mungkin penyebaran agama Islam di Bali tidak se-sistemik dan se-Massif seperti  penyebaran Islam di Jawa. Hal ini melihat kurun waktu penyebar agama  Islam di Bali yang waktunya berjauhan dan kurva jumlahnya yang bersifat evolusi. WaAlahu 'Alam.(*)


Posting Komentar untuk "Ziarah Makam Keramat Kembar Karangasem"