Ngaji Hikam Bab Tawakal

Perjalanan Hati Menuju Allah, menurut Imam Ghazali di dalam kitab ikhya Ulumuddin diantaranya adalah (1) Taubat, (2) Takwa, (3) Qona'ah, (4) Wira'i, dan (5) Tawakal. Tawakal sendiri apabila dimaknai dengan arti pasrah memiliki beberapa makna diantaranya : (1) tawakal, (2) tafwidz dan (3) Taslim. Dalam tasawuf tawakal dibagi menjadi dua yaitu: (1) Tawakulul Amah atau tawakalnya orang awam dan (2) Tawakulul Khosoh atau tawakalnya orang khusus. Adapun makna Tawakulul Amah adalah :

فعل السبب وتفويض حصول المسبب الى الله

Artinya : Mengerjakan usaha dan menyerahkan hasil atau keberhasilan usahanya kepada Allah.

Jangan sampai ngaji kitab Al-Hikam atau ngaji kitab Ikhya, tapi salah pengertian tentang tawakal. Masih pada tingkatan orang awam tapi memaknai tawakalnya orang khusus dengan tidak mau bekerja. Ada anak santri yang ngaji Hikam dan Ikhya. Pekerjaannya hanya memegang kitab. Ketika ditanya oleh bapaknya, "Kenapa tidak bekerja?". Jawabannya, "Tawakal". Padahal dia masih doyan makanan enak. Masih suka ngopi dan rokok Ji Sam soe. Tapi tidak mau bekerja. Yang demikian ini, karena salah dalam memahami tawakal. Padahal arti tawakal bagi orang awam adalah mengerjakan usaha dan menyerahkan keberhasilan usahanya kepada Allah. 

Abah Djamal

Sayyidina Umar RA ketika menjadi kholifah selalu berkeliling daerah-daerah untuk berpatroli. Beliau didampingi oleh seorang asisten yang bernama Aslamah. Ketika sampai di satu desa terpencil. Sayyidina Umar melihat rakyatnya banyak yang berpangku tangan tidak mau bekerja. Sayyidina Umar pun bertanya, "Wahai Rakyatku, kenapa Kalian tidak bekerja?". Mereka menjawab, "Kami sedang tawakal Ya Amirul Mukminin". Ketika sampai di desa yang lain. Sayyidina Umar juga menemukan banyak masyarakatnya yang tidak bekerja. Dan ketika ditanya oleh Sayyidina Umar, jawabannya adalah karena tawakal. Suatu saat semua orang dari desa-desa itu dikumpulkan oleh Sayyidina Umar dan diberitahu: 

إنما المتوكل الذي يلقي بذره على الأرض، وتوكل

Artinya, "Wahai Rakyatku, sesungguhnya orang yang tawakal, adalah mereka yang menaburkan benih tanamannya di atas bumi, kemudian pasrah kepada Allah".
 
Apa yang dikatakan oleh Sayyidina Umar adalah keterangan tentang tawakalnya orang umum. Bahwa orang awam, tawakalnya masih harus berusaha dan bekerja. Adapaun hasil usahanya dipasrkan kepada Allah. Ibarat petani yang tawakal adalah petani yang menyebar benih tanaman seperti menebar padi, kedelai, dan jagung. kemudian mengolah tanah. Merawat tanamannya. Lalu untuk hasil panennya dipasrahkan kepada Allah. Karena hanya itulah yang mampu dilakukan oleh manusia. Petani tidak bisa menumbuhkan bibit, membesarkan tanaman dan memberi buah. Semua itu datang dari Allah. Oleh karena itu setelah menanam, diperintahkan untuk pasrah dan bertawakal kepada Allah.

Santri dan penuntul ilmu juga seperti itu, harus ngaji dan wajib sekolah sebagai bentuk usaha agar mendapat ilmu. Tentang urusan mendapatkan ilmu atau tidak, pasrah bertawakal kepada Allah. Jangan sampai salah paham dengan tidak ngaji atau sekolah dengan alasan  tawakal. 

Adapun makna dari Tawakalul Khosoh atau Tawakalnya Orang Khusus adalah: 

تركُ السّبب ثقةً بوعدِ اللهِ تعالى

Artinya: "Meninggalkan usaha atau tidak melakukan usaha, dan hanya percaya pada janji Allah". 

Di dalam surat Hud ayat 6 Allah berjanji: 

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ 

Artinya, "Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)." 

Orang-orang khusus yang bertawakal kepada Allah memegang janji Allah tersebut, dan tidak lagi berusaha. Seperti halnya tentang rezeki yang telah dicatat Allah pada zaman Azali dengan sifat irodah Allah dan atas dasar ilmu Allah. Setelah ketetapan pada zaman azali, kemudian ketetapan itu ditulis di Lauh Mafudz. Ketetapan di zaman Azali disebut Qadla. Setelah ditetapkan di Lauh Mahfudz, disebut Qadla Mubrom. Mereka yang telah sampai pada tawakalnya orang khusus tidak bekerja,  dan tidak berusaha. Mereka percaya dengan janji Allah. Karena itulah, mereka telah terbiasa tidak makan sampai berhari-hari. Bahkan sampai berbulan-bulan. Berbeda dengan kita yang masih berada di tingkatan tawakal orang awam. Kita tidak mampu menahan lapar  berhari-hari apalagi berbulan-bulan, sehingga wajib bagi kita untuk berusaha dan bekerja.  

Imam Ghazali memberi syarat yang ketat dan banyak, sehingga orang bisa dikatakan telah masuk tahapan tawakalnya orang khusus dan bekerja tidak wajib lagi baginya. Diantara ulama yang telah sampai pada tahapan tawakalnya orang khusus adalah Imam al-Zahid yang menguji janji Allah di dalam surat Hud ayat 6 tentang rezeki. Imam al-Zahid menguji kebenaran janji Allah tentang rezeki dengan cara bersembunyi di dalam gua. Gua yang beliau pilih adalah gua yang berada di sebuah gunung yang tidak dijamah orang. Di dalam gua itu, beliau hanya diam. Dalam tekad beliau bahwa Allah akan memberi rezeki kepada siapa saja yang ada di bumi. Maka dengan diam pun pasti Allah memberi rezeki kepadanya. Di Gua itu, Imam Zahid mencoba bersembunyi dengan menghimpitkan badanya diantara batu agar tidak diketahui orang. Beliau mencoba, bagaimana Allah akan memberi rezeki kepadanya, padahal dia telah bersembunyi di tempat yang jauh dari keramaian. 

Sampai berhari-hari, dan sampai berminggu-minggu. Imam Zahid hanya diam. Setelah itu datanglah rombongan kafilah yang baru saja mengambil dagangan di Syam Syiria. Pada saat itu Syam adalah pasar internasional. Ternyata rombongan itu sedang tersesat. Sudah mencoba beberapa kali berputar, tapi terhenti di gunung yang sama. Sampai tiga kali mereka berputar mencari jalan keluar. Tetap saja, di gunung itu mereka kembali. Beberapa saat kemudian hujan datang. Berteduhlah mereka di dalam gua dan melihat seseorang yang terhimpit batu yakni Imam al-Zahid. Mereka pun memberi Imam Zahid roti dan susu. Tapi orang yang terhimpit batu itu hanya diam. Mereka menduga bahwa Imam Zahid mulutnya telah terkunci sehingga tidak bisa memakan roti dan susu. Mereka kemudian menghangatkan susunya terlebih dahulu, lalu mencampurnya dengan roti. Mulut Imam Zahid kemudian dibuka paksa dan di masukan. Tapi ketika makanan sudah berada di mulut, makanan itu langsung ditelan oleh Imam Zahid.  

Rombongan yang menyuapi itu kemudian berkata kepada Imam Zahid, "Anta Majnun". Artinya, "Kamu gila". Imam Zahid berkata, "Saya tidak gila, karena saya melakukan ini, untuk menguji janji Allah yang ada pada surat hud ayat 6 tentang rezeki, bahwa Allah akan mencukupi rezeki siapapun yang ada di bumi".  

Nabi Sulaiman pernah diperintah Allah sholat di tepi laut sampai 3 hari. Setiap sholat beliau selalu melihat semut yang lewat di depannya. Semut itu menggigit daun yang masih hijau. Beberapa saat kemudian, datang seekor katak. Dan semut itu pun melompat di atas punggung katak. Keduanya kemudian pergi ke tengah laut, dan menenggelamkan diri. Beberapa waktu kemudian, si katak dan semut itu muncul dari laut. Ketika sampai di bibir pantai, semut turun dan lewat di depan Nabi Sulaiman lagi. Dalam sehari hal itu terjadi sampai 2 kali. Sehingga ketika hari ke-3, semut itu distop oleh Nabi Sulaiman, dan ditanyai "Wahai Semut, selama 3 hari ini kamu lewat di depanku, membawa daun hijau yang masih segar dan menaiki katak, lalu katak itu membawamu ke tengah laut, dan kalian menenggelamkan diri".  Semut itu kemudian menjawab, "Wahai Nabinya Allah, Di dalam laut ini, Allah memiliki makhkuq yang berupa ulat, yang hidup di dasar laut, ulat itu berada di sebuah batu karang. Ulat itu bersembunyi di sela-sela batu karang. Ulat itu, tidak memakan dedaunan laut, dan hanya memakan daun yang berada di darat. Dia tidak bisa keluar karena  apabila dia keluar, pasti dia dimakan oleh ikan laut. Nah aku dipasrai untuk mencarikan makanan berupa daun darat, dan Allah mengirim malaikat berwujud katak itu sebagai tungganganku".

Cerita itu menunjukan tidak hanya manusia yang mendapat rezeki dari Allah. Tapi semua yang ada di bumi Allah yang memberi rezeki. Bahkan ikan laut yang sebanyak itu, dari yang paling kecil sampai besar, tanpa diberi makan manusia, ssmuanya tumbuh besar.  

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا

Artinya, "Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu".

إِنَّهُۥ لَيْسَ لَهُۥ سُلْطَٰنٌ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Artinya, "Sesungguhnya kekuasaan setan hanyalah pada orang-orang yang menjadikannya sebagai penolong bagi mereka dan mereka juga menaatinya, dan juga terhadap orang-orang yang karena taat kepada setan, mereka mepersekutukan Allah". 

Sehubungan dengan ayat tersebut, Imam Ghazali di dalam kitab Ikhya Ulumddin bercerita tentang sebagian orang Ahli Ma'rifat yang meminta kepada Allah agar diberi tahu bagaimana cara setan menggoda manusia.   Memang banyak orang Arifin atau Ahli Mukasafah yang meminta diberitahu Allah tentang halhal gaib. Dahulu pada Tahun 1983, Romo Kiai Shodiq Genukwatu berhaji. Di depan Kakbah beliau berdoa, "Ya Allah saya ingin tahu, dari sekian juta oranh yang berhaji ini,   ada berapa yang mabrur?". Oleh Allah, Kiai Shodiq dipertemukan dengan  seorang laki-laki yang sedang mengepalkan tangan seperti sedangan mengenggam keneker (tapi bukan keneker).  Benda itu dilemparkan di depan Kiai Shodiq. Ternyata, itu adalah isyarat bahwa dari sekian juta orang yang haji, hanya sejumlah benda dalam genggaman laki-laki itulah yang mabrur. Jadi hanya sedikit sekali orang yang hajinya mabrur. Ini karena untuk mencapai status haji mabrur sangatlah berat dan susah, sehingga tidak ada imbalan yang pantas bagi haji mabrur kecuali surga.  

Di dalam kita Riyadus Sholihin diterangkan, apa itu al-Mabrur?. Bahwa al-Mabrur adalah ketika orang haji akan tetapi selama haji dia tidak melakukan maksiat. Padahal tidak maksiat ketika berhaji sangat susah. Harus menjaga tangan, harus menjaga kaki, harus menjaga mata, dan telinga. Agar semua tidak bermaksiat. Jadi sangatlah susah.  Lalu bagaimana dengan orang yang hajinya tidak mabrur?. Allah adalah dzat yang Karom dan Dermawan. 

Dulu ada seorang yang bernama Ali bin Muwafaq. Beliau sangat sering berhaji. Setelah berhaji beliau bermunajat kepada Allah, "Wahai Gusti, saya adalah orang yang sering pergi dan pulang haji dan Engkau juga mengtahui itu. Ya Allah, haji saya yang pertama untuk saya sendiri, dan yang selainnya aku berikan kepada orang-orang yang hajinya tidak Engkau terima". Setelah itu, Ali bin Muwafaq bermimpi bertemu dengan Allah. Dan Allah berkata kepadanya, "Wahai Ali bin Muwafaq,  kenapa Engkau merasa sangat dermawan dengan memberikan hajimu kepada orang lain, padahal aku adalah Dzat yang membuat dermawan dan membuat orang menjadi dermawan, sekian tahun aku menjadikan Arofah sebagai tempat wuquf, dan orang-orang yang tidak aku terima hajinya, telah aku pasrahkan kepada orang yang aku terima hajinya". Apa maksudnya orang yang diterima hajinya dipasrahi oleh Allah orang yang tidak diterima hajinya?. Yaitu, Orang yang diterima hajinya oleh Allah dipasrahi agar mendoakan orang yang tidak diterima hajinya. Sehingga semua ibadah haji menjadi mabrur. Karena mabrur ada yang Mabrur bi Nafsi (karena usaha sendiri), dan Mabrur bi Ghoiri (menjadi mabrur karena doanya orang yang mabrur). 

Abu Abdillah al-Jauhari apabila berhaji ketika siang wukuf di Arofah  dan ketika malam sudah tidur di Muzdalifah. Pagi harinya beliau bertemu malaikat yang turun dari langit. Satu Malaikat bertanya kepada Malaikat lain, "Wahai Hamba Allah tahun ini yang wukuf di Arofah berapa orang?". Malaikat yang satu tidak tahu. Kemudian  dijawab sendiri, "Tahun ini yang wukuf di Arofah ada 600.000 orang". Bertanya lagi Malaikat yang satu, "Dari 600.000 itu, yang mabrur berapa?". Malaikat yang satu diam tidak tahu, kemudian dijawab sendiri, "Dari 600.000 itu, yang mabrur hanya ada 6". Jadi setiap 100.000 orang yang mabrur hanya satu orang. Hal ini, karena saking sulitnya mendapat haji mabrur. Abu Abdillah al-Jauhari kemudian menampar pipinya sendiri sambil menggerutu, "Jika dari 600.000 orang haji dan hanya 6 yang mabrur, dari 100.000 hanya satu yang mabrur, lalu aku ini jadi apa?". Malaikat yang satu kemudian bertanya kepada Malaikat yang lain. "Sekarang, bagaimana Allah memandang orang yang tidak mabrur?". Malaikat yang ditanya tidak tahu, kemudian dijawab sendiri, "InaAllaha Yandzuru Nadzara Karom". Artinya, "Allah melihat orang yang tidak mabrur hajinya dengan penglihatan kedermawananya". Artinya adalah orang haji bisa mabrur semua yaitu dengan cara yang mambrur dipasrahi untuk mendoakan yang tidak mabrur. Satu orang mabrur, mendoakan 100.000 yang tidak mabrur. Sehingga 600.000 orang yang haji semuanya mambrur.  

Imam Ghazali di dalam kitab Ikhya Ulumuddin bercerita tentang sebagian orang Ahli Ma'rifat yang meminta kepada Allah agar diberi tahu bagaimana cara setan menggoda manusia. Oleh Allah Orang Arif yang bertanya diperlihatkan gambaran manusia kristal. Berbentuk sepertimanusia tapi transparan seperti kaca bening sehingga terlihat semua organ tubuhnya seperti ginjal, jantung, paru-paru dll. Ternyata di dada itu ada katak yang memiliki belalai yang mengelitik area jantung. Katak inilah perumpamaan setan. Kenapa yang digelitik atau digoda oleh setan adalah jantung?. Karena di dalam jantung ada 3 indra, yaitu Bashirotul Qalbi, Bashirotul Ruh, dan Bashirotul Sirry. Seperti keterangan Imam Abdurahman al-Shofuri dalam kitab Nazhatul Majalis. Belalai katak selalu menggoda jantung apabila manusia lalai tidak berdzikir kepada Allah. Akan tetapi belalai katak tidak bisa memanjang apabila orang selalu berzikir ingat kepada Allah. Setan tidak akan mampu menggoda orang yang ingat Allah dan tawakal kepada-Nya.  

 عن عمران بن حصين قال: من انقطع إلى الله عز وجل كفاه كل مؤنة ورزقه من حيث لا يحتسب، ومن انقطع إلى الدنيا وكله الله تعالى إليها

Artinya, "Imron bin Husain berkata, bahwa Nabi berkata, 'Barangsiapa yang menggunakan pikiran, waktu, kesempatan, dan tenaga untuk beribadah kepada Allah, akan dicukupi Allah semua kebutuhannya, diberi rezeki dari arah yang tak terduga, dan barangsiapa yang menggunakan pikiran, waktu, kesempatan, dan tenaga untuk dunia maka ia dipasrahkan kepada dunia dan Allah berlepas tangan atasnya". 

Orang yang jungkung kepada Allah maka akan dicukupi Allah semua kebutuhannya, dan diberi rezeki dari arah yang tak terduga. Mereka akan selalu bersyukur di dalam hatinya. Selain itu rezekinya digunakan  untuk mencari ridla Allah (syukur bil Jawarih). Berbeda dengan orang yang jungkung / inqotoa kepada dunia. Kehidupannya akan hancur. Punya anak dan istri tidak terurus. Usaha yang dibangun juga akan ambruk.

Imron bin Khusain adalah sahabat yang tawakal diuji Allah. Serta Sabar dan Ridlo ketika diuji oleh Allah. Sabar dan ridla memiliki perberbedaan tingkatan. Tapi Imron bin Khusain, disamping tawakal dan sabar tapi juga ridla kepada keputusan Allah. Di dalan Syarah Hikam diterangkan bahwa Imron bin Khusain pernah diuji oleh Allah sakit diare (murus). Sampai beliau tidak bisa duduk dan berdiri. Hingga dia menjadi bunga amben (bayang) Saking parahnya, ranjangnya dilubangi untuk berak dan pipis. Beliau menderita seperti itu sampai 30 tahun. Ketika Beliau disambang oleh adiknya, sang adik menangis. Imron pun bertanya, "Kenapa Engkau menangis Dik?". Adinya menjawab, "Aku iba, kasihan melihat keadaanmu Mas!". Imron berkata, "Janganlah Kamu menangis Dik, aku sendiri yang meminta kepada Allah agar penyakitku jangan sampai dikurangi dan jangan dihilangkan". Kemudian Imron bin Khusain berkata kepada adiknya, "Adikku, akan aku beri tahu kamu sesuatu hal, tapi jangan katakan kepada siapapun selama aku masih hidup, bahwa setiap hari aku selalu didatangi oleh malaikat. Mereka datang bergantian, mengucapkan salam kepadaku dan bersalaman lalu pergi, dan terus begitu, sehingga aku merasa terhibur, dan menikmati sakitku ini".  

Apa yang menimpa Imron bin Khusain ini adalah contoh bahwa beliau tidak hanya tawakal, tapi juga sabar, serta ridlo kepada keputusan Allah karena telah bisa menikmati ujian Allah. Syekh Junaid mendefinisikan sabar dengan unkapan : "Tajaruhu Muroroh min Ghoiri Ta'bisin". Yaitu sanggup menelan pahit tanpa jemberut. Yaitu tabah menerima hal yang berat dan hatinya tidak menggerutu atau sambat. Rata-rata dari kita masih sambat dan masih mengatakan keberatan kepada orang lain atau saqwa. Menurut Syekh al-Jurjani mendefinisikan sabar dengan, "Adamu Saqwa li Ghoirillah, min Alami Balaya". Yaitu tidak mengatakan kepada selain Allah, karena sakitnya ujian. Selain tingkatan sabar di atasnya ada tahapan ridla. Yaitu orang yang telah mampu merasa nikmat dengan ujian Allah. Seperti Imron bin Khusain, yang dicoba Allah penyakit diare, beliau malah meminta kepada Allah jangan sampai penyakitnya dikurangi dan jangan sampai dihilangkan. Karena telah ridla dan merasa Nikmat.



-Disarikan dari Pengajian Al-Hikam setiap Malam Selasa oleh KH. Mohmmad Djamaluddin Ahmad Tambakberas Jombang di Bumi Damai Al-Muhibin

Posting Komentar untuk "Ngaji Hikam Bab Tawakal "