Ngaji Hikam Bab Qonaah

Ahli thoriqah atau Salik atau yang disebut Murid memiliki beberapa jenjang atau Maqamad yaitu : (1) Maqam Taubat. (2) Maqam Qonaah. (3) Maqam Wira'i. (4) Maqam Sabar. (5) Maqam Tawakal. (6) Maqam Zuhud, (7) Maqam Mahabatilah, jika sudah sampai ini maqam seorang Murid sudah sangat dekat untuk menjadi Arif. (Maqam Syauq yaitu maqamnya orang-orang Arif yang rindu. (9) Maqam Unsu : Maqam yang sudah tenang bersama Allah. Dan (10) Maqam Ridla.


Orang yang pada maqam Mahabatillah mereka subjeknya dinamakan Muhibin (orang yang mencintai Allah dan Rasulnya) Oleh karena itu pondok ini, dinamakan Pondok Al-Muhibin. Mencintai Rasulullah hukumnya wajib. Mengalahkan mencintai keluarga, anak, isteri, harta, dan diri sendiri. Murid atau Salik ketika berada di tengah masyarakat profesinya bisa berbeda-beda. Ada ahli thoriqah yang menjadi pejabat. Ada banyak orang ahli thoriqah yang jadi pejabat. Ada juga yang dimasyarakat menjadi orang Alim dan Kiai.

Semua orang ahli thariqah dengan profesinya masing-masing memilki tugas sendiri-sendiri. Yang jadi kiai tidak harus wiridan terus sehingga tidak punya waktu mengajar santri. Yang jadi Bupatipun tidak harus wiridan terus dan melalaikan tugasnya. Ada orang ahli thoriqah yang tugasnya adalah sebagai pelajar. Sehingga tugas utamanya adalah belajar. Bukan terus menerus riyadah dengan bangun malam sehingga besoknya tidak sekolah. Hal demikian Ini yang keliru. Karena tugas utamanya adalah belajar. Ada juga Ahli Thoriqah yang profesinya Mutakharif atau Bekerja. Ada yang jadi Pedagang dan Petani. Mereka ahli thoriqah tapi tetap harus kerja karena memiliki kewajiban atas anak dan isteri.

Mutakharif berbeda dengan Mutaabid. Orang Mutaabid bukan lah orang alim. Bukan pejabat, bukan pelajar dan tidak bekerja. Sampai mereka juga tidak berumah tangga. Orang yang Mutaabid ada tuntunannya. Dijelaskan sekedulnya dalam kitab Hidayatul Athqiya bahwa sebelum subuh bangun sholat tahajud, sholat witirn sholat fajaar, sholat qobliyah subuh (bahkan waktu mepet tapi jika nutut waktunya tetap sunah sebelum subuh dengan ala nasrah dan ala tara setelah fatihah). Kemudian Sholat Subuh setelahnya wiridan yang diijazahkan gurunya. Seperti dalam Thoriqah Peta yaitu wiridan laqadja, qadiriyah, syadiliyah, khizib bahr. Setelah itu ketika matahari sudah terbit ditunggu 3 menit kemudian sholat sunah isyraq (yaitu shalat setelah terbit 3-5 menit) Kemudian baca Alquran (yang paling mungkin adalah 1/4 juz atau sekitar 5 Halaman). Dan ditunggu antara jam 8 kemudian sholat dhuha minimal 2 rokaat. Kemudian wiridan. Sampai jam 11 mepet dhuhur tidur qoilullah. Sebelum dhuhur bangun , wudlu sholat dhuhur dan wiridan lagi.

Setelah itu nderes lagi atau wiridan lagi sampai ashar. Sampai besoknya juga seperti itu. Orang thoriqah tidak semua seperti ini. Ini hanya berlaku bagi Mutaabid. Sementara wiridannya orang yang Mutakharif adalah ketika bekerja. Bekerjanya adalah tasbihnya. Selain menyisakan waktu yang diistiqomahi untuk wiridan.
Syekh Zainudin Al-Mulaibari memberi cara agar bisa istiqomah adalah memulai satu ibadah dengan yang mungkin bisa dikerjakan. Misalnya membaca Alquran yang mungkin dikerjakan adalah seperempat juz atau sekitar 5 halaman. Maka 5 halaman Itu diistiqomahkan. Walaupun satu ketika sudah semangat diusahakan jangan ditambah. Supaya ketika malas bisa memaksa. Jika terpaksa 1 hari kehilangan maka harus diqadla 10 halaman. Kalau sudah istiqomah baru ditambah. Begitulah belajar istiqomah. Sholat dhuha bagi orang umum jangan langsung ambil yang afdhal yaitu 12 rokaat. Mulai dari yang mungkin dulu yaitu 2 rokaat. Jika sudah setabil yaitu tidak pernah ditinggal walaupun repot dengan urusan apapun, maka bisa tambah menjadi 4 rokaat. Dan sterusnya.
Ada juga orang thoriqah yang Mustagriq Fi Bahri Tauhid yaitu orang yang tenggelam di dalam lautan tauhid. Mereka adalah para majdub atau orang-orang yang jadab. Macam-macamnya orang thariqah yang demikian, semua punya maqamat-maqamat. Dan maqam yang kedua dari maqamat tersebut adalah qonaah.
القَنَاعَةُ هِيَ الرِّضَا بِاليَسِيْرِ مِنَ العَطَاءِ (كفاية الأتقياء ص ١٨)

Artinya: Qonâ’ah ialah rela menerima pemberian walaupun sedikit. (Kifâyah al-atqiyâ’, hlm. 18)
Pemberian disini adalah pemberian dari Allah. Jika diberi sedikit hatinya ridla dan rela. Jika banyak bagaimana?. Pasti tambah menerima. Ada ayat Alquran yang menyinggung Qonaah yaitu :

إِنَّ الْأَبْرارَ لَفِي نَعِيمٍ (13) وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ (14)

Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti (Abrar) benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan (13) Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka (14)
Orang Abror adalah orang ahli ibadah yang berharap besok di akhirat masuk surga dan selamat dari neraka. Orang Abror maqamnya dibawah orang Muqarabun yaitu orang yang ibadah tapi sudah tidak berharap masuk surga dan selamat dari neraka. Mereka tujuan ibadahnya hanya ingin dekat kepada Allah. Orang-orang Abror dijamin oleh Allah masuk Naim. Dan orang Fujar akan dimasukan ke Jakhim. Ahli tafsir menafsirkan Naim menjadi dua : Pertama naim bermakna surga jika besok di akhirat. Dan Kedua Naim bermakna "neriman" ketika masih berada di dunia. Orang naim di dunia adalah orang yang neriman dengan rezeki dari Allah. Neriman dan Nikmat itu apa?. Senikmat-nikmatnya orang hidup di dunia adalah orang yang memiliki hati neriman. Sebaliknya sesusah-susahnya orang hidup di dunia adalah apabila hatinya tidak neriman. Oleh karena itu Ahli tafsir menafsirkan Naim sebagai neriman. Karena :
ان الغنى غنى النفس
Artinya : "Orang yang kaya sesungguhnya adalah orang yang hatinya kaya".
Orang hidup sawang-sinawang. Sepertinya enak mereka. Dan enak orang lain. Padahal belum pasti. Walaupun yang kaya tabungannya banyak, ternyata minumnya air putih terus karena punya penyakit diabet. Melihat Orang yang di sawah seperti rekoso hidupnya. Padahal mereka hidupnya neriman. Dikirim makanan oleh isterinya sayur asem, sambel, tempe dan tahu. Makannya lahap dan nikmat sekali. Sementara minumnya dari kendi. Hal yang seperti ini bagi mereka sudah Itu nikmat sekali.
Sementara yang mobilnya Roll Royce listrik dengan harga 34 Milyar. Seperti mobilnya Mesi dan Ronaldo. Makan di restoran harus reservasi dan reservasinya saja seharga 5 juta. Pesan makanan. Piringnya besar. Makanannya kecil sekali di tengah. Kalau makan langsung di taruh di tengah. Seperti makan pil. Tapi mereka tidak merasa nikmat. Mereka punya apa-apa tapi tidak bisa makan apa-apa.
Orang yang baik adalah orang yang hidupnya diperuntukan untuk ibadah dan diberikan hati yang naim atau neriman. Itulah orang yang diberikan nikmat didunia. Sementara orang Fujar masuk Jakhim. Makna Jakhim diakhirat dimaknai sebagai neraka. Sementara di dunia jakhim diartikan sebagai rakus. Orang yang ahli maksiat ketika masih berada di dunia sudah disiksa Allah dengan hati yang rakus. Dan asal muasal dari segala maksiat adalah dari hati yang tidak neriman.
Rakus dengan pemberian dan Rakus dengan rezeki. Akhirnya mencuri, mencopet, dan korupsi. Rakus karena tidak menerima isterinya akhirnya selingkuh. Semua berasal dari hati yang tidak puas. Dalam kitab Ikhya Ulumudin terdapat satu hadist panjang bahwa Nabi bersabda :

وقال رسول الله صلى الله عليه وآله: إذا كان يوم القيامة أنبت الله تعالى لطائفة من أمتي أجنحة، فيطيرون من قبورهم إلى الجنان، يسترحون فيها، يتنعمون فيها كيف يشاؤون، فتقول لهم الملائكة: هل رأيتم الحساب؟ فيقولون: ما رأينا حسابا، فتقول: هل جزتم الصراط؟ فيقولون: ما رأينا صراطا، فتقول: هل رأيتم جهنم؟ فيقولون: ما رأينا شيئا، فتقول الملائكة: من أمة من أنتم؟ فيقولون: من أمة محمد صلى الله عليه وآله، فتقول:نشدناكم الله، حدثونا ما كانت أعمالكم في الدنيا؟ فيقولون: خصلتان كانتا فينا، فبلغنا الله تعالى هذا المنزلة بفضل رحمته، فتقول: وما هما؟ فيقولون: كنا إذا خلونا نستحي أن نعصيه، ونرضى باليسير مما قسم لنا، فتقول الملائكة: بحق لكم هذا

Artinya : Nabi bersabda besok pada hari kiamat ada sekelompok orang yang begitu keluar dari kuburnya oleh Allah ditumbuhkan sayap dari tubuhnya, kemudian dari sayap itu diterbang dan langsung masuk surga. Kemudian mereka istirahat dan menikmati kenikmatan surga sekehendaknya. Malaikat heran dan bertanya : Kalian tadi melihat hisab atau tidak?. Mereka menjawab : Tidak!. Ditanya Malaikat lagi: Apakah kalian melewati shiratal Mustaqim?. Mereka menjawab: Kami tidak melihat shiratal mustaqim. Malaikat bertanya lagi: Apakah kalian tidak melihat neraka jahanam?. Mereka menjawab: Kami tidak melihat apa-apa. Malaikat kemudian bertanya : Kalian umat siapa?. Mereka menjawab : Kami adalah umat Nabi Muhammad SAW. Malaikat bertanya: Apa amalmu di dunia?. Mereka menjawab; Kami memilki dua sifat / karakter dan karena anugerah Allah kami memiliki derajat yang seperti ini. Malaikat bertanya: Apa dua karakter itu?. Mereka menjawab : Pertama kami ketika sedang sendirian malu bermaksiat kepada Allah SWT. Kami ridla dan neriman dengan apa yang diberikan Allah kepada kami (Qonaah)".
Umat Nabi Muhammad besok dibagi menjadi 3 berdasarkan pada kitab Diba'. Yaitu 1/3 yang masuk surga tanpa hisab. 1/3 yang dihisab tapi diampuni. 1/3 yang membawa dosa yang besar-besar tapi dimasukan neraka dulu sampai 7 hari yang 1 hari sebanding 1000 tahun. Watak, karakter, atau sifat lebih bisa diharapkan memasukan orang ke surga dibandingkan amal. Karena amal masih bisa terkena penyakit. Akan tetapi karakter atau sifat juga yang dapat mengahalangi orang masuk neraka yaitu sifat sombong. Oleh karena itu hati-hati dengan karakter. Karena amal ibadah sebenarnya adalah untuk membentuk karakter.
Orang kebanyakan ketika maksiat adalah saat-saat sendirian. Terkadang jika sendiri tergerak melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah. Sepertinya baik. Tapi ketika sendiri mengincip narkoba. Dalam hadist tersebut orang yang istimewa itu malu jika ketika sendiri dia bermaksiat kepada Allah. Ada satu kisah yang diceritakan oleh seorang sufi yang bernama Mansur bin Aman dimana dia memiliki shodiq (teman dekat yang berani mengingatkan ketika salah) yang tampaknya seperti orang sholeh. Ahli ngaji dan suka majelis sholawat dan Ahli jamaah.
Ketika akan pengajian saling mendatangi. Sampai satu ketika temannya tidak datang majelis pengajian. Ternyata sakit dan disambang di rumahnya. Saat itu rumahnya tutupan. Ketika diketuk yang keluar anak kecil perempuan. Mansur bertanya apakah bapaknya ada. Setelah matur akhirnya dipertemukan oleh anak gadis temannya. Ketika Mansur masuk ke rumah Temannya dia melihat temannya tidak tidur di dipan tapi dibawah.
Oleh Mansur ditanya, "Kamu kenapa kok bisa seperti ini?". Dilihat dari matanya dan tubuhnya. Akhirnya Mansur menuntun sahabatnya untuk membaca Syahadat. Sahabatnya berkata, "Aku tidak bisa melafadzkannya!". Kemudian pingsan. Sampai 3 kali seperti itu. Mansur kemudian berkata, "Kamu kenapa sahabatku?. Dimana atsar ibadahmu selama ini?. Dimana atsar semangatmu mengaji?". Sabahantnya menjawab, "Aku sudah tidak bisa melafadzkan itu, amalku yang terlihat memang seperti orang baik, dan agar aku dikatakan sebagai orang baik, tapi sejatinya aku tidak seperti itu, jika aku masuk kamar, ku tutup pintu dan tiraiku dan aku melampiaskan nafsuku sepuas-puasnya dan kulakukan terus menerus. Kemudian aku sakit. Aku meminta anakku untuk mengambilkan Alquran. Aku membaca surat yasin dan aku berdoa, Ya Allah barokah Yasin sembuhkanlah aku, dan aku sembuh".
Setelah itu aku taubat apa yang aku perbuat aku hentikan. Aku kemudian rajin lagi. Tapi aku kumat lagi. Setiap aku sendiri aku melampiaskan nafsuku. Dan aku sakit lagi. Aku baca surat yasin. Dan berdoa dengan barokahnya Yasin aku sembuh. Kamudian aku bertaubat lagi. Lalu aku rajin pengajian lagi. Tapi lama-lama aku kumat lagi. Sampai aku sakit lagi. Ketika kubuka Alquran ternyata Alquran sudah tidak ada tulisannya. Aku meminta Alquran yang lain juga tidak ada tulisannya juga. Aku sadar aku tekau dimurkai Allah karena mempermalukan Alquran.
Mansur kemudan menyela, "Sudahlah tirukan aku". Sambil membaca sahadat. Dia hanya bisa geleng-geleng. Diancam oleh Mansur, "Kalau kamu tidak mau mengikuti syadatku aku tidak mau memandikan jenazahmu". Dia hanya geleng-geleng. Kemudian ditinggal oleh Mansur belum sampai depan Anakbya memanggil dan memberitahukan kalau ayahnya telah wafat bi ghoiri iman. Kenapa bisa begitu?. Karena sifat munafik. Yaitu didepan menampilkan kebaikan. Tapi ketika sendiri semua keburukan dilakukan. Ancamannya adalah neraka yang paling bawah.
Menurut Syekh Abdul Qodir Qonaah adalah meninggalkan segala sesuatu yang disenangi nafsu. Diantara yang enak-enak adalah (1) meninggalkan makanan yang enak-enak. (2) Pakaian yang bagus-bagus. (3) Rumah dan perabotan tidak yang mewah-mewah. Singkatnya adalah dengan fasilitas yang serba sederhana. Adapun pelaksanaan qonaah yang kedua adalah rela menerima pemberian Allah yang sedikit.
Dulu ketika membangun rumah dan pondok yang membangun namanya Hani. Abah pesan, "Han, pokok omahku ojok sampek luweh apik tinimbang pondoke". Ketika sudah jadi menurut Abah masih lebih bagus rumah beliau daripada ribath Hanafi dan Maliki. Beliau kemudian "duko". Hani kemudian takut dan membawa tumpukan keramik sambil matur, "Yai, keramike bahanipun sami, merkipun sami, reginipun sami, tapi kulo bentenaken khawatir wali murid klintu". Abah kemudian tanya lagi, "Lha kayuku kok apik?". Hani menjawab, "Sami Kiai, pesannya juga sami di Pak Selamet Perak, tapi ndalem diplitur karena terawat".
Setelah itu di Sambong Abah buat rumah lagi. Rumahnya malah lebih jelek daripada rumah yang di Muhibin. Abah membuat rumah sekadarnya. Mebel saja Abah tidak pernah hunting. Saudaranya yang usaha mebel dibeli. Ketika di Sambong yang dibeli dari depan rumahnya sendiri karena sudah ada mebel depan rumah. Pakaian Abah tidak pernah belanja kain. Tapi baju dilemarinya banyak. Karena siapapun ngaturi. Semua pemberian itu dijahit walaupun hanya satu kali dipakai ketika datang kepada yang memberi. Abah tidak malu mengenakan pakaian di depan orang yang memberi. Karena beliau idkholus surur.
Sampai-sampai ketika hari raya atau ketika ada acara Abah membeli seragam yang sama seperti anak ndalem. Dan dipakai bareng dengan anak ndalem. Abah adalah sosok yang bisa melihat sekecil apapun celah kebaikan untuk mendapatkan pahala yang luar biasa sampai soal pakaian. Satu ketika saat saya umrah saya ngaturi beliau kain. Ketika Robajiyah. Saat Ishari dipakai agar terlihat yang memberi.
قَالَ الشَّيْخُ زَيْنُ الدِّيْنِ بْنِ عَلىِ المـــَـعْبَرِي المــُـلَيْبَارِي (توفي: 991 هـــــــــــ):
وَاقْـــــــــنَعْ بِــــتَرْكِ المــُـــــــــــــشْتَهَـــــــى وَالفَـــــــــــــــاخِـــرَة  مِنْ مَطْعَــــــمٍ وَمَلَابِـــــــــسَ وَمَنَـــــــــــــــازِلَا

Artinya: menerimalah apa adanya, dengan Meninggalkan kesenangan dan kemewahan dalam makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Qonaah menurut Syekh Abdul Qodir ini susah mengamalkannya tapi mudah konsekuensinya. Karena berat melaksanakannya apalagi uangnya ada. Sedangkan menurut Syekh Hasan al-Syadili Qonaahnya mudah dilakukan tapi berat konsekuensinya.
Menurut Syekh Hasan As-Syadili berkata:

قَالَ الشَّيْخُ أَبُوْ الحَسَنِ الشَّاذِلِي لِأَصْحَابِهِ : كُلُوْا مِنْ أَطْيَبِ الطَّعَامِ وَاشْرَبُوْا مِنْ اَلَذِّ الشَّرَابِ وَنَامُوْا عَلَى أَوْطَإِ الفِرَاشِ وَالْبَسُوْا اَلْيَنَ الثِّيَابِ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا فَعَلَ ذَلِكَ وَقَالَ الحَمْدُ لِلَّهِ يَسْتَجِيْبُ كُلُّ عُضْوٍ فِيْهِ لِلشُّكْرِ بِخِلَافِ مَا إِذَا أَكَلَ خُبْزَ الشَّعِيْرِ باِلمِلْحِ وَلَبِسَ العَبَاءَةَ وَنَامَ عَلَى الأَرْضِ وَشَرِبَ المـَاءَ المـَالِحَ السَّخِنَ وَقَالَ الحَمْدُ لِلَّهِ فَإِنَّهُ يَقُوْلُ ذَلِكَ وَعِنْدَهُ اشْمِئْزَازٌ وَبَعْضُ سُخْطٍ عَلَى مَقْدُوْرِ اللهِ تَعَالَى وَلَوْ أَنَّهُ نَظَرَ بِعَيْنِ البَصِيْرَةِ لَوَجَدَ الإِشْمِئْزَازَ وَالسُّخْطَ الَّذِي عِنْدَهُ يَرْجَحُ فِى الإِثْمِ عَلَى مَنْ تَمَتَّعَ بِالدُّنْيَا بِيَقِيْنٍ فَإِنَّ المـُتَمَتِّعَ بِالدُّنْيَا فَعَلَ مَا أَبَاحَهُ الحَقُّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ اشْمِئْزَازٌ وَسُخْطٌ فَقَدْ فَعَلَ مَا حَرَّمَهُ الحَقُّ عَزَّ وَجَلَّ (المنح السنية ص ٥)

Artinya: Asy-Syaikh Abû Hasan Asy-Syâdzili (w. 656 H.) Beliau berkata kepada para sahabatnya: Makanlah makanan yang paling enak, minumlah minuman yang paling lezat, dan tidurlah diatas permadani yang paling lembut serta pakailah pakaian yang paling halus, karena sesungguhnya ketika salah satu dari kalian mengerjakan hal itu kemudian mengucapkan “alhamdulillâh”, maka seluruh anggota (badan) ikut bersyukur kepada Allah. Berbeda halnya ketika hanya makan roti gandum dengan garam, berpakaian selimut, tidur diatas tanah dan hanya minum air yang asin lagi hangat kemudian mengucapkan “alhamdulillâh”, maka sungguh ia berkata demikian namun dihatinya ada rasa kecewa dan setengah tidak puas atas takdir Allah. Sungguh jikalau ia mau melihat dengan mata hatinya, niscaya ia akan mengerti dan yakin bahwa dosa rasa kecewa dan ketidakpuasan yang ada dihatinya itu melebihi dosa orang yang bersenang-senang dengan dunia secara nyata. Karena sesungguhnya orang yang bersenang-senang dengan dunia itu berarti mengerjakan sesuatu yang diperbolehkan oleh Allah. Sedangkan orang yang merasa kecewa dan tidak puas (atas pemberian Allah) berarti telah mengerjakan sesuatu yang diharamkan oleh Allah. (al-Minah al-Saniyah, Hlm. 5)
Oleh karena itu jangan mudah mengatai. Mursyid Thariqah Syadiliyah banyak yang gayanya parlente-parlente. Pakaiannya bagus-bagus. Mobilnya bagus-bagus. Perabot Rumahnya bagus-bagus. Tapi mengucapkan Alhamdulillah dan bersyukur dengan niat idkhalu surur dan untuk ikramu duyuf (menghormati tamu). Anak-anak muda banyak yang suka thoriqah syadiliyah karena makan enak tidak apa-apa yang penting syukur. Baju bagus tidak apa-apa yang penting tidak berlebihan. Dan dapat mengukur diri sendiri. Jika Isyraf maka tidak boleh.

طُوْبَى لِمَنْ هُدِيَ لِلْإِسْلَامِ وَكَانَ رِزْقُهُ كَفَافًا وَرَضِيَ بِهِ (أخرجه الترمذي)

Artinya: Kebahagian yang sangat besar adalah bagi orang yang mendapatkan petunjuk untuk beragama islam dan rezekinya bercukupan (pas-pasan), dan rela menerima rezeki tersebut. (HR. Imam Turmudzi)
Satu ketika Nabi Musa melihat umatnya yang berprofesi sebagai nelayan. Mereka yang umatnya Nabi Musa ketika menjaring ikan hanya dapat sedikit. Sementara ketika orang kafir yang menjaring dapat ikan yang banyak. Nabi Musa kemudian matur kepada Allah, "Gusti mereka adalah orang yang iman dan dekat dengan Mu, kok sulit sekali kerjanya, dapat ikan hanya sedikit, beda sekali dengan orang kafir". Allah berfirman, "Musa lihatlaah ke atas". Ternyata Nabi Musa melihat orang-orang yang sudah dalam bekerja itu berada di surga. Memang dunia itu adalah ujian bagi orang mukmin. Sedangkan orang kafir begitu dimuliakan di dunia. Maka tidak usah iri. Karena orang yang rezekinya cukup itu biasanya kober dan apabila rezekinya banyak malah tidak kober.
Seperti contoh Syaklabah. Asalnya melarat jadi orang yang kober ibadah. Jadi kaya tidak kober. Sampai tidak zakat. Bahkan sampai zakatnya ditolak oleh Nabi, Abu Bakar dan Umar. Rezeki yang cukup pada satu sisi adalah Rahmad karena orang akhirnya menjadi punya kesempatan melakukan ibadah.

عَنْ جَابِر عَنْ رَسُوْلِ اللهِ أَنَّهُ قَالَ: القَنَاعَةُ كَنْزٌ لَا يَفْنَي

Artinya: Qonâ’ah ialah seperti gudang yang tidak akan habis.

Orang yang Qonaah tidak butuh siapa-siapa. Orang yang melarat tidak butuh siapa-siapa. Sedangkan ornag kaya banyak hartanya dia butuh banyak dengan orang lain.

إِنَّ اللهَ إَذَا أَحَبَّ عَبْدًا جَعَلَ رِزْقَهُ كَفَافًا (أَبُوْ الشَّيْخِ عَنْ عَلِيٍّ

Artinya: Sesungguhnya Allah  apabila mencintai hamba-Nya, maka Allah memberi rezekinya bercukupan (pas-pasan).
Oleh karena itu orang yang melarat sejatinya adalah orang yang masih butuh. Bukan tentang uang. Tapi tentang hatinya masih butuh atau tidak. Ada kiai punya santri yang lulus dan pulang. Ketika ada haflah sowan. Santrinya kaya. Punya Pabrik. Treknya 5 . Mobilnya banyak. Ketika sowan dilihat kiainya dari dulu tidak berubah. Mobilnya sama . Rumahnya sama. Akhirnya santrinya matur, "Yai Minta izin besok saya kemari lagi ingin merehab ndalem Kiai agar terlihat pantas dan pengen nyumbang mobil agar mobil Kiai tambah gagah".
Kiai nya kemudian tanya, "Kamu kok mau nyumbang seperti itu apa sudah sukses?". Santrinya jawab, "Alhamdulillah Kiai, saya sudah punya pabrik 4 Kiai". Kiainya tanya, "Kamu Sudah punya pabrik 4 masih ingin lagi?". Santrinya jawab, "Ya iya kiai, kalau ada peluang ya ingin tambah kiai". Kiainya tanya, "kendaraaanmu banyak?". Santrinya jawab, "Banyak kiai, operasinal juga banyak pabrik 4, mobil pribadi juga banyak Kiai". Kiainya tanya, "Seumpama ada keluaran terbaru juga masih ingin lagi?". Santrinya jawab, "Ya Masih ingin kiai". Akhirnya Kiainya dawuh, "Kalau begitu Kamu tidak usah bantu aku, karena kaya aku daripada kamu, aku sudah cukup dengan ini, sementara kamu melarat karena selalu kurang walaupun punya 4 barik dan banyak kendaraan!".
Qonaah adalah gudang kekayaan yang tidak ada habis-habisnya. Sementara rakus adalah kemiskinan yang tidak ada habis-habisnya. Lalu bagaimana kalau orang itu sudah ditaqdir kaya?. Maka jangan dicacat karena amalnya orang kaya adalah memperbanyak amal shodaqah sebagai wujud syukur. Sehingga makna qonaahnya adalah dengan memperbanyak amal shadaqah. Membelanjakannya sesuai kebutuhan dan tidak berlebih-lebihan. Dalam satu hadist qudsy Allah dawuh:
ان المَالُ مَالِي وَالْفُقَرَاءُ عِيَالِي، وَالْأَغْنِيَاءُ وُكَلَائِي، فَمَنْ منع بِمَالِي عَلَى عِيَالِي عدْبته عظم العذب

Allah berfirman bahwa sesungguhnya harta-harta nya orang kaya adalah milik-Nya. Dan orang-orang faqir adalah keluarga atau saudara-saudara -Ku. Sementara orang kaya adalah wakil-walil-Nya yang dipasrahi harta agar dibagikan kepada keluarga-keluarga-Nya. Siapa yang menghalangi Keluarga-Ku atas hartaku maka aku siksa dia dengan siksa yang sangat pedih.

قَالَ الإِمَامُ الشَّافِعِي (توفي: 204 هـــــــــــ):
وَرِزْقُـــــــــــــكَ لَا يَفُـــــــــــــــــــــــــــوْتُكَ بِالتَّــــــــــــــــــــــــوَانِي  وَلَيْــــــــسَ يَزِيْـــــــــدُ فِى الرِّزْقِ العَنَـــــــــاءُ
إِذَا مَـــــــــــــــــــا كُنْـــــــــــــتَ ذَا قَلْـــــــبٍ قَنُـــــــــــــــــــوْعٍ  فَأَنْتَ وَمَــــــــــالِكُ الدُّنْيَــــــــــا سَـــــــــوَاءُ

Artinya: Rezekimu takkan hilang dengan adanya usaha yang santai, dan rezeki itu tak akan bertambah dengan adanya usaha yang keras dan susah payah. Selama engkau mempunyai hati yang neriman, maka engkau dan pemilik dunia adalah sama.
Satu ketika ada serombongan Tabiin sowan kepada sahabat yang sudah sepuh yang bernama Abu Sinan. Saat itu disuguhi bermacam-macam makanan. Kemudian mereka diajak takziyah di tetangga Abu Sinan yang wafat. Tiba-tiba para tabiin melihat orang yang ditakziyahi kurus tidak mau makan dan menagis tidak selesai-selesai. Tabiin bertanya, "Pak kok sampai menangis sebegitunya apa jenengan tidak tau jalau smeua orang akan mati?". Kemudian keluarga dari yang wafat itu cerita kalau yang ditangisi adalah siksa kuburnya.
Yaitu setelah ia mengantarkan jenanzahnya. Dan semua orang telah pulang. Saudaranya ini mendengar dari arah kubur teriakan atas siksaan dari arah dalam kubur. Akhirnya digali kuburnya dan api menyala-nyala dalam kubur temannya. Ternyata temannya sedang disiksa di dalam kubur.
Sepontan tangan sahabat nya itu diulurkan untuk membantu. Tapi malah tangannya yang terbakar. Ujung smapai pangkal. Akhirnya saya lari dan menangis. Para tabiin bertanya, "Apakah dia tidak sholat dan puasa?". Dijawab bahwa sholat dan puasanya Aktif. Ternyata dosa orang tersebut adalah tidak mau zakat. Seperti firman Allah dalam hadist qudsi tersebut akan disiksa sangat pedih.
Oleh karena itu kekayaan adalah privilage dari Allah yang menuntut tanggung jawab yang besar. Bagaimana cara qonaah bagi orang kaya?. Yaitu dengan memperbanyak shodaqah kepada fuqara'. Itulah dua sikap yang bisa diikuti dalam hal qonaah yaitu dari Syekh Abdul Qadir dan Syekh Hasan al-Syadili karena ada orang yang dikehendaki oleh Allah kaya dan ada yang dikehendaki melarat. Dua-duanya memilki amal keutamaan sendiri-sendiri.

- Disarikan dari Ngaji Hikam Setiap Malam Selasa di Bumi Damai Al-Muhibin Oleh KH. Mohammad Idris Djamaludin.

Posting Komentar untuk "Ngaji Hikam Bab Qonaah"