Ngaji Hikam Hikmah Ke-1

Dalam satu kesempatan Abah Kiai Mohammad Djamaluddin Ahmad pernah menceritakan bahwa beliau pernah mengantarkan sowan Kiai Tamim Romli Rejoso kepada Romo Kiai Abdul Djalil Mustaqim Tulungagung. Waktu itu Kiai Djalil dawuh bahwa suatu pondok setidaknya harus mengkaji 3 kitab. Pondok yang masih mempelajari 3 kitab ini, maka masih memiliki "nyoni". 

Tiga kitab itu adalah : (1) Kitab Dasuki yaitu kitab Syarah dari Ummul Barohin. Satu kitab yang menjelaskan tentang ilmu kalam atau ilmu Tauhid. Di Tambakberas ini, Kitab Dasuki masih menjadi kurukulum di Madrasah Mualimin dan Madrasah Fattah Hasyim. (2) Kitab Ikhya' Ulumuddin, jangan sampai satu pondok tidak dingajikan atau tidak dipelajari kitab Ikhya'. Dan (3) Kitab Al-Hikam. Jika ketiga kitab itu masih dipelajari di pondok, maka pondoknya masih memiliki  "nyoni".  

Kitab Al-Hikam isinya yang paling banyak adalah  agar seorang dapat sanpai pada derajat makrifat. Karena dalam perjalanan mereka anak menempuh 3 kelas yaitu (1) Syariat, (2) Makrifat, dan (3) Hakikat. Muatan kitab Al-Hikam Syaikh Ahmad Ibnu Athôillah Assakandary yang paling banyak adalah bertujuan menganjurkan dan meningkatkan murid yang shodiq agar mencapai maqam ma'rifat. Pada hikmah pertama Syekh Ibnu Athaillah berkata:

قَالَ الشَّيْخُ أَحْمَدُ بْنِ عَطَاءِ اللهِ السَّكَنْدَرِي قَدَّسَ اللهُ سِرَّهُ: «مِنْ عَلَامَةِ الإِعْتِمَادِ عَلَى العَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُوْدِ الزَّلَلِ

Artinya: "Diantara tanda-tanda seseorang itu bersandar pada kekuatan amal usahanya ialah berkurangnya pengharapan terhadap rahmat anugrah Allah ketika terjadi padanya suatu kesalahan atau dosa".

Orang harus bersandar hanya kepada Allah semata-mata dalam segala hal. Tidak boleh seseorang gondelan atau bersandar kepada selain Allah. Jangan sampai seseorang bergantung kepada kekayaannya. Jangan sampai seseorang bergantung kepada  ilmunya. Jangan sampai seseorang bergantung kepada amalnya. Jangan sampai seseorang bergantung kepada nasabnya. Dan jangan sampai seseorang bergantung kepada pangkatnya. 

Padahal semua itu ketika hidup didunia kerap dijadikan sebagai tempat sandaran. Harta, nasab, pangkat, ilmu, dan ilmu semua diharapkan untuk dijadikan pegangan. Banyak contoh sejarah terdahulu tentang orang-orang yang menggantungkan diri pada hal-hal tersebut akan tetapi kemudian terjerembab dan oleh Allah dikubur dengan hal yang disandari tersebut. 

Ada orang yang menggantungkan diri kepada harta. Di dalam Alquran dijelaskan dan disebut seorang bernama Qorun. Saking dia menggantungkan dirinya pada harta, Qorun sampai menjadi orang yang bakhil. Qorun adalah orang yang memperlihatkan kekuasaannya dengan harta. Saking kayanya sampai kuncinya saja diusung oleh 60 bighol, dan bighol-bighol itu masih keberatan. Padahal kuncinya kecil. Dan satu gudang memiliki satu kunci. Sementara  isi dari gudangnya bukan garam melainkan harta yang berharga. Tapi Qorun kemudian dikubur oleh Allah ketanah berikut dengan hartanya. 


Memang tidak bisa dipungkiri bahwa harta bisa membawa kekuasaan. Apalagi zaman demokrasi seperti ini. Harta sampai bisa mengatur siapa yang akan menjadi pemimpin. Seperti oligarki dimana sekarang dikesankan bahwa seolah harta bisa mengatur segalanya. Orang adil dan jujur kalau tidak ada modal tidak bisa jalan. Jika tidak menggandeng pemilik modal. Sehingga Pemilik Modal yang memiliki kuasa.  Sebegitu berkuasanya harta. Tapi jangan lupa jika berpenggangan dengan harta. Dimata Allah hal itu tidak ada artinya apa-apa.  Ada orang yang bergantung dengan nasab dan diabadikan dalam Alquran. Siapa dia?. Yaitu putra Nabi Nuh AS. Nasabnya langsung putra Nabi. Tidak sekadar hanya anaknya kiai. Tapi anaknya nabi. Tapi karena tidak manut kepada Allah. Tidak taat pada ayahnya dan nabinya. Sehingga ditenggelamkan oleh Allah. Karena Ia bergantung pada nasab. Ternyata Allah juga tega menenggelamkan karena dia bergantung pada nasabnya yang putra seorang Nabi. 

Ada juga seorang yang mengandalkan ilmu. Walaupun tidak disebutkan secara shoreh tapi disinggung  dan menurut para mufasir dia adalah Bal'aam bin Ba'ura. Dalam Surat al-Araf Ayat 175 disebutkan:

واتل عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ

Artinya : "Wahai Muhammad, Bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. 

Lafadz آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا berarti orang tersebut diberikan ilmu oleh Allah. Dan lafadz "al-Aldzi" dalam ayat tersebut menurut para Mufasir adaah Bal'aam bin Ba'ura. Bal'aam bin Ba'ura adalah seorang yang alim dan telah diberi ilmu hikmah. Saking alimnya dia  sampai dapat menemukan rahasia dari ismu 'adzam dimana ketika dia berdoa dan menyebut nama itu, pasti akan dikabulkan oleh Allah.

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalhah bahwa Bal'aam bin Ba'ura berasal dari Bani Kan'an yang tinggal ditempat orang yang gagah perkasa yang akan diperangi oleh Nabi Musa As. Saat itu Nabi Musa berjalan dari Mesir melewati Lautan. Beliau diperintah oleh Allah untuk menempati tanah Syam. Dulu memang ada perintah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun ke "tanah impian" yaitu Syam yang sekarang adalah bagian dari Palestina. Memang sejak zaman Nabi Musa mereka telah merancang agar sampai ke Syam. Tapi hal itu tidak berhasil. Dan terjadi baru pada Tahun 1940 s.d 1950-an. Sampai mereka menduduki sebagian Israel dan Libanon. 

Riwayat tentang Bal'aam bin Ba'ura sangat banyak. Akan tetapi Imam Muqotil menceritakan ketika Nabi Musa akan sampai ke tempat Bani Kan'an dan di sana  ada seorang raja bernama Raja Balqa'. Raja Balqa' juga disebut di dalam Al-Kitab dengan nama Balaq bin Zipor. 

Mengetahui Nabi Musa akan datang ke tanah kekuasaannya. Raja Balqa' merasa terancam. Ketika merasa terancam, ia ingat bahwa ia memiliki seorang rakyat yang alim dan terkenal doanya yang mustajabah. Maka dipanggilah Bal'aam bin Ba'ura oleh Raja Balqa agar dapat mengusir Nabi Musa. Ketika pertama dirayu oleh Raja. Bal'aam tidak mau. Hal itu karena Bal'aam tahu, Nabi Musa adalah orang yang sholeh dan agamanya sama dengannya. Sampai akhirnya Bal'aam diancam akan disalib oleh Raja. Maka dia terpaksa mau. 

Ketika Bal'aam bin Ba'ura menaiki khimarnya menuju ke kemah Nabi Musa. Ketika jarak khimar sudah dekat dengan perkemahan. Tiba-tiba Khimarnya duduk "ndoprok" tidak mau berjalan. Karena duduk, dipukuli oleh Bal'aam tapi tetap tidak mau berjalan.  Ndilalah khimar itu bisa ngomong dan berkata, "Aku duduk ndoprok seperti ini terus kamu pukuli kenapa?. Aku duduk seperti ini karena diperintah oleh Allah, dan di depan ku ada rintangan api yang sangat besar ". 

Padahal di depannya ketika dilihat Bal'aam tidak ada apa-apa. Akhirnya Bal'aam kembali dan beralasan khimarnya tidak mau berangkat menuju kemah Nabi Musa. Sang Raja tetap tidak terima dan mengancam Bal'am untuk digantung. Akhirnya Bal'aam mendoakan Nabi Musa. Saking alimnya Bal'aam, dia berdoa dengan Ismu Adzam sehingga doanya mustajabah. 

Saat itu Bal'am berdoa agar Nabi Musa dan Pasukannya kesasar. Oleh Allah diijabahi. Pasukan Nabi Musa ketika diperintah malah melawan. Sehingga  disasarkan sampai 40 tahun tidak sampai-sampai pada tujuan. Padahal Mesir ke Palestina hanya beberapa kilometer. Dalam masa-masa pencarian tanah tujuan itulah, Nabi Musa dan Nabi Harun wafat. Saat menjelang wafat Nabi Musa bermunajat kepada Allah, "Ya Allah Gusti mengapa kami tidak sampai-sampai ke tanah Tujuan?".  Allah menjawab, "Kalian tersasar tidak sampai tujuan karena doa dari Bal'am bin Bahura". 

Akhirnya Nabi Musa ganti berdoa, "Ya Allah sebagaimana Engkau mengabulkan doa Bal'aam, kabulkanlah doaku". Kamudian Nabi Musa berdoa, "Ya Allah cabut iman Bal'aam, cabut ilmunya Bal'aam, dan cabut hikmahnya Bal'aam". Doa itu dikabulkan oleh Allah. Sampai digambarkan oleh Imam Muqatil, ketika ilmunya Bal'aam keluar dari jasadnya seperti ada cahaya dalam bentuk burung dara yang keluar dari tubuh. Akhirnya Bal'aam wafat dengan tidak iman.  Kisah ini menjadi contoh orang yang bergantung dengan ilmu. Dan ilmu tidak bisa dijadikan gondelan. 

Iman atau kufur, masuk surga atau neraka adalah berkat fadhol dan keadilan dari Allah bukan karena ketaatan dan kemaksiatan seseorang manusia. Ketaatan dan Kemaksiatan itu adalah sabab dan tanda bagi orang yang akan masuk surga atau neraka (KH Sholeh Darat). 

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ: «لَنْ يُدْخِلَ اَحَدًا عَمَلُهُ الجَنَّةَ»، قَالُوْا: وَلَا أَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: «لَا، وَلَا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللهُ بِرَحْمَتِهِ

Artinya : "Amal seseorang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga.” “Engkau juga tidak wahai Rasulullah?”, tanya beberapa sahabat. Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allah. Hikmah ini berhubungan erat dengan amal dan ibadah. Tingkatan orang dalam beribadah ada 3 yaitu: 

1. Ibadahnya Abid 

Ibadahnya Abid disebut juga dengan Awâm. Atau awamnya orang dalam ibadah. Dalam istilah lain Ahlus Syarîat atau Ahlul bidâyah yaitu orang yang baru memulai menempuh jalan menuju Allah. Ciri-ciri abid dalam ibadah adalah : (1) Dalam amal Ibadahnya bertujuan masuk surga dan selamat dari neraka. (2) Ketika beribadah orang Abid masih merasa memiliki amal. Contoh ketika beribadah sholat, orang Abid akan merasa bahwa amal sholat adalah miliknya. Karena merasa memiliki amal sehingga harus mendapat balasan dari Allah dalam bentuk masuk surga dan selamat dari neraka. 

Kita semua kebanyakan masih dalam tingakatan abid. Karena merasa memiliki amal. Ketika wiridan masih mengakui kalau yang wiridan adalah amal kita. Ketika berdoa juga minta agar masuk surga dan dijauhkan dari neraka. Orang Abid ketika wiridan : 

لا اله الا الله

Dalam hatinya dilatih : 

لا معبد الا الله

2. Ibadahnya Murid 

Murid dalam istilah lain disebut Khowâsh atau orang khusus. Juga dinamakan Ahlut Thorîqat. Dalam istilah yang lain Ahlul Wasath atau ahli tengah-tengah dalam  pencapaiannya menuju Allah. Murid adalah orang yang berharap wushul kepada Alah. Murid dalam beribadah memiliki dua ciri yaitu : (1) Amal ibadahnya tidak bertujuan surga dan selamat neraka. Akan tetapi ibadah yang bertujuan wushûl kepada Allah, ingin dibukakan pintu kegaiban dan rahasia-rahasia sehingga bisa merasakan kehadiran Allah. (2) Ibadah agar bisa Mushâhadah atau ma'rifat Allah akan tetapi masih merasa punya amal. Murid adalah orang yang sudah setabil. Berpikir bahwa harta hanya titipan dan hanya untuk kendaraan untuk ibadah menuju Allah. Maka wiridannya ditingkatkan.  lisannya : 

لا اله الا الله

Hatinya berzikir :

لا مقصد الا الله

3. Ibadahnya Ârif

Orang Arif disebut juga dengan Khowâsul khowâsh atau khususnya orang khusus kalau istilah umum VVIP.  Disebut juga Ahlul Haqîqat. Atau Ahlun Nihâyah. Ibadahnya orang Arif tidak merasa punya amal dan hanya punya tujuan menjadi Hamba Allah ﷻ yang sesungguhnya:

 الِصّـدْقُ فِى الْعُبُوْدِيَّةِ وَالقِيَامُ فِى الرُّبُوْبِيَّةِ

Orang ahli hakikat tidak merasa beramal. Dia hanya merasa sebagai perwujudan dari kehendak Allah. Orang arif sama sekali tidak merasa punya amal. Sehingga ketika beramal mereka sangat bersyukur. Karena dimasuki qudrah dan iradahnya Allah dalam bentuk amal ibadah. Kenapa bersyukur?. Karena mereka merasa tidak memiliki kekuatan untuk bisa beramal. Dan merasa tidak punya kemampuan untuk beramal. 

Gus Baha' pernah menerangkan, apa bedanya orang ahli tasawuf dan ahli syariat apa?. Orang tasawuf apabila sholat tidak ingin surga atau neraka. Karena dia ditaqdir sholat saja, dia sudah bersyukur karena ditaqdir mampu sholat. Tidak berpikir surga dan neraka karena hal itu terlalu jauh. Yang dipikirkan adalah syukur kepada Allah karena sekarang diberi kemampuan untuk sholat. Apakah kalau seseorang tidak minta imbalan terus tidak diberi imbalan oleh Allah?. Tidak!. Malah imabalannya lebih banyak dan berlipat. Karena amalnya orang yang tidak berharap imbalan dibarengi dengan cinta. Orang yang arifin pasti muhibin. Orang yang muhibin pasti arifin. 

Orang yang cinta tidak butuh upah. Orang Abid yang dicari adalah upah berupa kenikmatan dzohir. Orang Murid meminta upah dalam bentuk kenikmatan batin. Dua-duanya masih minta upah. Mengapa masih minta upah?. Karena mereka masih merasa beramal. Apakah berbeda dengan tingkatan Arifin?. Bedanya sangat jauh. Misal ada seorang anak punya Kekasih. Kemudian dia apel ke rumah pacarnya. Lalu dia disuhugi makanan yang enak-enak. Tapi dia tidak ditemui oleh kekasihnya. Jika tujuannya kenikmatan dzohir yaitu makanan. Maka dia sudah senang dan puas. Karena tujuannya nikmat dzohir yaitu makanan. 

Tapi kalau yang dicari nikmat batin yaitu pertemuan dengan kekasih. Maka makanan tidak ada rasanya. Kopi, soto, pizza yang disuguhkan menjadi tidak penting. Karena yang dituju adalah bisa bertemu kekasih. Orang Ahli Ma'rifat tidak mencari upah. Tapi upahnya lebih besar dari Abid dan Murid. Dalam kitab Hidayatul Atqiya dijelaskan 1 Rokaatnya orang Arif sama dengan 1000 derajat rokaatnya orang Alim yang Ahli ibadah. Wiridannya orang Arif lisannya : 

لا اله الا الله

Tapi Hatinya :

لا موجد الا الله

Saya dulu oleh Abah dibelajari seneng dengan kiai. Mondok disuruh matur, "Yai kata Abah saya, saya ini pinter mijat, pijatan saya ini enak, saya biasa diutus mijeti Abah, kalau Jenengan kerso, Jenengan timbali kulo". Abah perintah seperti itu. Karena dulu saya mijat Abah 2 jam sudah biasa. Kalau santri itu cinta dengan kiainya, dan kiainya memerintah pasti tambah cinta. Karena mahabah. Seperti orang Arif diperintah ibadah malah senang. Macam-macam Amal : 

1. Amal Syariat atau amal Islâm atau amal ‘Ibâdah atau dinamakan amal Ahlil Bidâyah.

Amal syariat yakni beribadah karena mengharapkan imbalan pahala dari Allah. Tujuan dari amal Syariat adalah untuk memperbaiki anggota dhowâhir dan yang melalukan anggota lahir. Dan untuk membersihkan anggota dhôhir dengan meninggalkan semua larangan dan malakukan semua perintah. Ilmunya amal syariat adalah ilmu fikih. 

2. Amal Tharîqah disebut juga amal Îmân atau amal ‘Ubûdiyah atau dalam istilah lain amal Ahlil Wasath.

Amal iman adalah amal yang  dilakukan oleh Hati. kalau Islam yang menjalankan adalah fisik. Amal beribadah karena mengharapkan kedekatan diri kepada Allah. Amal untuk memperbaiki Dlomâir (anggota batin/hati). Untuk membersihkan batin dengan membersihkannya dari sifat-sifat yang hina dan menghiasinya dengan sifat-sifat yang utama. Ilmu dari segi amal imannya yang harus dipelajari adalah ilmu tauhid. Akan tetapi dari segi untuk memperbaik hati, ilmunya adalah ilmu tasawuf. Pada tahun 2021 atau 2022, saya sowan kepada Kiai Djalil. Kemudian saya tanya kepada beliau, "Bagaimana supaya bisa memahami kitab hikam dengan baik?". Kiai Djalil dawuh, "Gus Pahamono disik sing apik Kitab Dasuki". Perintah ini berarti bahwa sebelum belajar hikam. Maka pelajari dulu Kitab Dasuki. Jenjang untuk bejar hikam ini, harus melalui ilmu tauhid. Apabila tidak akan salah kaprah dalam memahami. 

Dan ilmu tauhid yang harus dipelajari sepesifik adalah kitab dasuki. Bahkan di dalam kitab Dasuki ada rahasia-rahasia menjadi Mursyiid yang diantaranya adalah memilki penglihatan bashirah dll. Akhirnya setelah itu saya sorogan langsung ke Abah.  Karena Abah sudah sibuk ya sak kobere. Kadang siang, sore, dan malam. Karena perintah dari Kiai Djalil seperti itu. Agar memahami hikam maka dipahami dengan baik dulu kitab dasuki.  Mengapa begitu?. Karena thoriqah tanpa tauhid yang lurus bisa terjebak kepada kesesatan. Sampai ada  5 orang yang harus dihindari diantaranya adalah orang sufi yang bodoh. Orang sufi yang bodoh yang bagaimana?. Orang yang memperbaiki hati tapi terjebak hanya pada penampilan. 

Satu ketika  Syekh Abu Hasan Al-Syadili ditamui oleh seorang Salik yang diperintah oleh gurunya yang juga guru sufi. Dari penampilan fisiknya seolah gurunya adalah sufi sejati. Pakaiannya jelek. Jubahnya kumuh. Warnanya kotor. dll. 

Gurunya berkata, "Nak mintalah wejangan kepada Syekh Abu Hasan kemudian mintakan aku wejangan untuk diriku".Ketika Salik masuk rumah dia masgul dengan kekayaan Syekh Abu Hasan al-Syadili dan merasa gurunya lah guru sejati. Ketika ia bertemu Syekh Abu Hasan, disampaikanlah salam gurunya dan mintalah dia satu wejangan untuk gurunya. Syekh Abu Hasan berkata, "Katakan kepada gurumu, 'Jangan cinta dunia'. Yang melarat malah diperintah jangan cinta dunia. Mendengar pesan Syekh Abu Hasan. Gurunya menangis. Dan dia mengakui bahwa hatinya cinta pada dunia. Oleh karena itu diantara yang harus dijauhi adalah orang sufi yang bodoh. Sehingga memang harus belajar tauhid dulu baru tasawuf. 

3. Amal Haqîqat atau Amal Ihsân Dalam istilah lain amal 'Ubûdah atau amal Ahlun Nihâyah. 

Orang Hakikat ketika seseorang telah mendapat karunia memandang Allah. Amal untuk memperbaiki Sarâ'ir (Ruh). Untuk memperbaiki Sarâ'ir dengan merendahkannya dan melunakkan-nya sehingga menjadi bersih dan terlatih melakukan adab, tawadhu' dan khusnul khuluq. Kesimpulanya adalah dalam menelusuri maqâm-maqâm di atas, tidak boleh bersandar (i'timâd) pada diri, amal, daya dan kekuatan diri sendiri, tetapi harus bersandar pada fadhol (anugrah) Allah, hidayah (petunjuk) dan taufiq (pertolongan)-Nya.

Seorang Abid yang ingin masuk surga jangan mengandalkan amal karena amal tidak bisa dibuat sandaran. Amal banyak penyakitnya. Sedangkan amal yang diterima Allah adalah amal yang ikhlas.  Seorang bisa masuk surga bukan karena amal tapi karena Fadhal dari Allah. Dan orang masuk neraka bukan karena maksiatnya tapi karena keadilan Allah. Kalau begitu tidak usah beramal?. Bukan begitu. Karena Allah biasanya memberi tanda. Ketika akan  memasukan ke surga diberi tanda amal sholeh. Ketika akan dimasukan neraka diberi amal maksiat. Tanda ini bukanlah penyebab masuk ke surga atau ke neraka. Karena masuk surga karena rahmad fadhol Allah dan masuk neraka karena sifat adil-Nya Allah. (*)


-Disarikan dari Ngaji Hikam Setiap Malam Selasa di Masjid Bumi Damai Al-Muhibin Tambakberas Jombang oleh KH. Mohammad Idris Djamaluddin Pada 1 Mei 2023. 

Posting Komentar untuk " Ngaji Hikam Hikmah Ke-1"