Ngaji Hikam Bab Menahan Hawa Nafsu

Di dalam surat al-Rum ayat 29 sampao 31 disebutkan : 

بَلِ اتَّبَعَ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا اَهْوَاۤءَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ فَمَنْ يَّهْدِيْ مَنْ اَضَلَّ اللّٰهُ ۗوَمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَ (٢٩) فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (٣٠) مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَٱتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَلَا تَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ (٣١)

Artinya, "Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti keinginannya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang dapat memberi petunjuk kepada orang yang telah disesatkan Allah. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi mereka. (29) Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (30) Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, (31)

Kebanyakan orang yang mengumbar hawa nafsu adalah mereka yang tidak memilki ilmu agama. Oleh karena itu memiliki ilmu agama sangatlah penting agar tidak terjerumus mengikuti hawa nafsu. 

Diantara mereka yang mempelajari ilmu agama adalah anak-anak santri di dalam pondok. Juga sebagai bekal mereka hidup di masyarakat kelak. Orang yang tidak memilki ilmu agama yang cukup cenderung terjebak oleh hawa nafsu dan maksiat. Di usia sekolah saja bisa kita bedakan. Antara yang di dalam dan di luar pondok. Di pondok antara santri perempuan dan santri laki-laki di bedakan. Sementara di luar dicampur antara laki-laki dan perempuan. Sehingga  rawan terjadi maksiat. 

Bahkan terkadang yang sudah punya ilmu agama saja masih bisa terjerumus oleh hawa nafsunya sendiri. Contoh ada anak pondok boyong. Sudah punya pengajian rutin di masyarakat karena memang dia anak yang pintar dan alim. Tapi karena kepintarannya itu juga akhirnya pengajiannya digunakan untuk mencari keuntungan pribadi. Membolehkan laki-laki dan perempuan kumpul dan lain sebagainya. Awalnya aman dan tidak apa-apa. Tapi akhirnya terkena talfis atau godaan setan sehingga menuruti hawa nafsu. Padahal dia adalah orang yang paham agama. 

Atau ketika ada seorang yang jadi kaya dan menjadi orang dermawan. Sering memberi orang-orang yang membutuhkan. Sampai akhirnya mengumpulkan banyak orang. Lalu dicampur antara laki-laki dan perempuan. Lama-lama akhirnya senang dengan yang perempuan dan setan pun menyusup. Sehingga orang tersebut bisa mengikuti hawa nafsunya. 

Kita oleh Allah dibekali dua hal yaitu hati dan nafsu. Jika yang menang adalah hatinya maka dia menjadi orang yang baik. Sementara nafsu dalam diri perlu kita kelola dan kendalikan. Syekh Ibnu Athaillah berkata : 

نفسك مطيتك

Nafsumu adalah kendaraanmu maka kendalikan dan rawatlah. Karena apabila kendaraan dikendarai tidak dengan hati-hati akan menyebabkan pengendaranya kecelakaan. Bagaikan memiliki mobil sport tapi menyopiri dengan ugal-ugalan. Maka akan membahayakan dirinya sendiri. Begitulah gambaran nafsu dalam diri seseorang. 

Walaupun nafsu sangat membahayakan tapi nafsu tidak boleh dibuang. Karena nafsu apabila dapat kendalikan dengan baik maka akan bermanfaat. Kendaraan sangat penting untuk mengantarkan kita kepada tujuan. Begitu juga dengan nafsu. Sebagai contoh ada orang menggunakan kendaraan sepeda kayuh dan ada yang mengendarai mobil  untuk pergi Surabaya pasti berbeda hasilnya. Begitu juga antara orang yang bisa mengendalikan nafsunya dan belum bisa menahan nafsunya. 

Kendaraan yang masih kuat harus benar-benar dirawat dengan hati-hati. Karena manusia diberi nafsu juga ada fungsinya yaitu untu mengembangkan skill masing-masing. Contoh untuk membangun dan mengembangkan pondok dan madrasah. Membutuhkan nafsu agar pondok dan madrasahnya berkembang.  Akan tetapi nafsu yang demikian tidak membahayakan tapi malah bisa memberi manfaat. 

Adapun nafsu yang membahayakan adalah nafsu yang menjerumuskan dalam kemaksiatan. Oleh karena itu dikatakan, "Sebaik-baik umat Nabi Muhammad adalah orang yang bahagia menikmati rahmat Allah dengan tidak maksiat". Contoh menikmati rahmad Allah adalah dengan minum kopi atau ngobrol dengan teman yang kegiatan itu tidak sampai maksiat. 

Adapun nafsu yang membahayakan adalah nafsu yang menjerumusukan kepada maksiat seperti judi, dan mabuk. Agar mereka tidak mabuk maka harus diajak menikmati rahmad Allah yang halal dengan diajak ngopi atau yang lain yang tidak mengarah kepada kemaksiatan. 

Bahkan orang yang memilki nafsu yang besar dan bisa menahan nafsunya maka dia mendapat besarnya pahala. Seperti kisah Nabi Yusuf dan Sayidah Zulaikha. Diamana Nabi Yusuf adalah pemuda tampan sampai membuat cinta Sayidah Zulaikha. Bahkan semua perempuan cantik yang diundang Zulaikha untuk melihat ketampanan Nabi Yusuf. Semua tergila-gila hingga tidak terasa mereka mengiris jarinya sendiri. 

Nabi Yusuf hidup satu rumah dengan Zulaikha. Sementara Sayidah Zukaika selama menikah belum pernah mersakan hubungan suami isteri karena suaminya memiliki penyakit tidak jelas. 

ولقد همت به وهم بها

Sampai keduanya memilki ketertarikan tapi Nabi Yusuf langsung diingatkan oleh Allah dan bisa menahan nafsunya. Beliau memiliki sifat maksum yang dijaga dari perbuatan dosa. Akhirnya Nabi Yusuf dijadikan Allah Swt sebagai hamba yang ikhlas. Sehingga setan tidak kuat menggoda. 

Dalam riwayat dikatakan karena kuatnya menahan nafsu itulah beliau diangkat menjadi nabi. Yaitu ketika mampu menahan nafsunya. Memilki nafsu tapi mampu menahaannya. Sehingga unggul di mata Allah dan diabadikan dalam Alquran. 

سبعة يظلهم الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله 

Ada tujuh golongan yang mendapatkan naungan dari Allah di hari tidak ada naungan sama-sekali. Diantaranya adalah:

 وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ 

Seorang lelaki yang diajak oleh seorang wanita untuk berbuat dosa dengan dirinya, dia bukanlah wanita biasa, namun dia adalah wanita yang memiliki kedudukan dan jabatan yang tinggi, dan Allah memberinya kecantikan yang membuat dorongan fitnah semakin besar, dan ketertarikan hati semakin kuat, kemudian lelaki itu berkata, "Sungguh aku takut kepada Allah".

Hal itu juga menceritakan tentang 3 orang yang masuk di gua dan tertutup batu. 3 orang itu ada yang berwasilah dengan menhindari maksiat dan menahan nafsu seperti riwayat di atas. Dalam Al-Hikam dijelaskan: 

الْكَائِنُ فِى الْكَوْنِ وَلَمْ تُفْتَحْ لَهُ مَيَادِينُ الْغُيُوبِ مَسْجُونٌ بِشهوته

Apabila ada orang hidup di dunia dan di dalam hatinya tidak dihuni oleh nur makrifat. Maka hidupnya terbelenggu oleh syahwat dan nafsu. Sebaliknya orang yang di dalamya sudah ada nur makrifat maka syahwat dan hawa nafsunya pergi dari hatinya. 

Pada ayat ke 30 disebutkan bahwa, "Maka hadapkanlah wajahmu lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. 

Kita diperintah untuk kembali fitrah yaitu memeluk agama islam tanpa tergoda dengan hawa nafsu. Fitrah disini maksudnya adalah pada saat kita sebelum lahir ketika berada di alam arwah. Semua dari kita mengiyakan dan berjanji kepada Allah. Seperti dalam keterangan: 

الست بربكم قالوا بلى

Dalam keterangan Alquran yang lain disebutkan: 

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

Apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?

Apa yang kita lakukan di dunia ini akan ditanyai dan dipertanggungjawabkan. Allah menciptakan kita di dunia tidak main-main. Hal ini berbeda dengan ketika Allah menciptakan hewan yang tujuannya memang untuk sekadar bermain-main. Sehingga bagi hewan tidak ada pertenggungjawabannya. 

Allah menjadikan agama Islam sesuai fitrah. Tapi banyak manusia tidak tahu. Bahkan ada orang yang mengatakan bahwa dia hidup karena proses alami. Oleh karena itu dalam lanjutan ayat Allah menyeru agar menegakan sholat dan jangan sampai musrik. Ada riwayat mashur ketika Nabi memerima ayat :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ

Ketika ayat tersebut turun para sahabat senang dan bahagia karena menganggap semua ajaran Islam telah sempurna dan hukum telah diturunkan semua. Sehingga tidak ada aturan yang lain lagi. Akan tetapi ada satu sahabat yang menangis yaitu Sahabat Abu Bakar. Para sahabat bertanya mengapa Abu Bakar menangis. Kemudian Abu Bakar menjawab bahwa sebab ia menangis adalah ketika beliau menyadari bahwa jika sesuatu itu telah terlihat sempurna maka mulailah tampak kekurangannya. Selain itu setelah sempurna ayat Alquran maka Nabi juga telah selesai dari tugasnya dan jika sudah selesai tugasnya maka beliau akan berpamitan. 

Saat itu para sahabat dan Abu Bakar sowan Nabi untuk bertanya tugas nabi apakah sudah selesai dan akan segera wafat?. Nabi pun mengiyakan firasat Abu Bakar tersebut. Karena setelah itu 81 hari setelahnya Nabi wafat. Akan tetapi kurang 21 hari sebelum Nabi wafat turunlah ayat lagi yaitu: 

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ

Artinya : Takutlah kalian dimana pada hari itu kalian kembali kepada Allah. 

Bahwa yang harus ditakutkan manusia adalah pada saat hari kematiaannya. Sudah cukupkah bekalnya. Yang maksiat sudah kah taubat. Yang kaya sudahkah bersedekah, dsb Sehingga harusnya bertaqwa, lurus, dan tenang untuk kembali kepada Allah. (*)


-Disarikan dari Ngaji Hikam Setiap Malam Selasa Oleh KH. M. Hasyim Yusuf di Bumi Damai Al-Muhibin Bahrul Ulum Tambakberas Jombang 12 Februari 2024. 



Posting Komentar untuk "Ngaji Hikam Bab Menahan Hawa Nafsu"